FAZZAN POST

Khayrunnaas Anfa'u Linnaas

Category: I-Women

Istri Sedekah Tanpa Izin Suami, Bolehkah?

Sedekah dapat dilakukan oleh wanita atau pun laki-laki. Bagi kaum laki-laki yang sudah menikah tentu tidak masalah jika ingin mengeluarkan sedikit dari rezekinya kepada orang yang membutuhkan. Tapi, bagaimana dengan seorang istri?

Istri Ka’ab bin Malik menyerahkan perhiasannya kepada Rasulullah SAW sebagai sedekah. Beliau berkata, “Tidak dibenarkan seorang wanita bersedekah dari hatinya kecuali dengan izin suaminya.” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau sudah mendapat izin dari suamimu?” “Sudah,” jawab istri Ka’ab. Rasulullah belum mantap mendengar jawaban itu. Beliau mengutus seorang sahabat menemui Ka’ab, tanyanya, “Apakah engkau merestui sedekah istrimu itu?”. “Ya, benar,” jawab Ka’ab. Rasulullah pun menerima sedekah itu.

Jadi, walau pun sedekah itu merupakan suatu perbuatan yang baik, sebagai seorang istri tetaplah harus memiliki izin dari suami, walau pun harta yang diberikan itu miliknya sendiri (bukan harta suami). Karena sebagai seorang istri, mentaati suami merupakan suatu kewajiban yang mestilah didahulukan.[]

Sumber: Islampos

Advertisements

Suami Penyebab Utama Pudarnya Kecantikan Istri

FAZZANPOST – Semua benda yang baru dilihat atau baru dimiliki akan terlihat bagus dan memesona. Ketika barang atau benda itu dirawat dengan baik, ia akan tetap terlihat bagus. Tapi tidak selamanya. Sebab satu di antara karakter barang atau benda adalah mengalami penyusutan.

Penyusutan bersifat alami. Itu bagian dari sunnatullah. Sebab tidak ada yang kekal, kecuali Allah Ta’ala. Semua makhluk-Nya pasti mengalami penyusutan.

Selain penyusutan, ada hal lain yang menyebabkan sebuah benda atau barang terlihat kurang bagus. Ialah ketika seseorang menemukan barang atau benda lain yang lebih bagus dan lebih canggih fiturnya. Kebanyakan manusia mengalami hal ini. Sayangnya, tidak semuanya mampu mengambil pelajaran.

Istri itu makhluk Allah Ta’ala. Manusia. Ia tak ubahnya benda atau barang. Hanya, istri merupakan barang antik dan berharga. Begitu pun suami.

Istri pasti mengalami penyusutan. Usia bertambah. Kulit yang tak sebening dan sekencang dahulu. Wajah yang makin keriput. Rambut yang kian tak lembut dan lurus. Dan fungsi-fungsi tubuh yang mengalami penurunan.

Ini alami. Meski dibantu dengan make up dan perawatan secanggih apa pun, tua itu kepastian. Penurunan kualitas tak mungkin dipungkiri.

Jika seorang suami merasakan berkurangnya kecantikan istri karena penyusutan, hal ini bukan menjadi masalah. Asal ia tetap bersyukur dengan karunia Allah Ta’ala. Toh, dia juga yang menjadi sebab penyusutan kualitas sang istri.

Akan tetapi, menjadi masalah besar tatkala pudarnya pesona istri di hadapan suami terjadi karena sebab kedua.

Karena terlalu sering melihat teman kantor yang kencang-kencang dan bening-bening, bersihnya wajah istri yang senantiasa teraliri air wudhu jadi tertutup.

Sebab terlalu hobi menikmati tayangan iklan di televisi dan media sosial dengan model nyaris tanpa busana, keanggunan istri dalam balutan busana syar’i pun kian tak terasa indah di hadapan suaminya.

Ketika terlalu sering berbincang dengan banyak wanita yang ramah dan gampang menerima di berbagai media, kesantunan istri dalam bertutur menjadi tak menarik lagi.

Ini merupakan fenomena akhir zaman. Masing-masing pihak memiliki saham hingga terjadinya kesalahan, tapi mereka berkelit dan melimpahkannya kepada pihak lain.

Wahai para suami, jangan terlalu sibuk menyalahkan istrimu. Wahai para suami, berkacalah dalam-dalam. Lihatlah ke dalam dirimu sendiri. Bukan soal memberi modal atau tidak, ada hal lain yang lebih penting terkait pudarnya pesona kecantikan istrimu.

Engkaulah yang bertanggungjawab dan akan dituntut pertama kali!

Wallahu A’lam.

Sumber: Islamidia.com

Adam Versi Islam

FAZZANPOST – Ādam hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760-2830 SM), sedangkan Hawa lahir ketika Adam berusia 130 tahun. Al-Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Al-Baqarah [2]:30-38 dan Al-A’raaf [7]:11-25.

Menurut ajaran agama Abrahamik, anak-anak Adam dan Hawa dilahirkan secara kembar, yaitu, setiap bayi lelaki dilahirkan bersamaan dengan seorang bayi perempuan. Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya.

Menurut Ibnu Humayd, Ibnu Ishaq, dan Salamah, anak-anak Adam adalah Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda, Sith dan Azura, Ashut dan saudara perempuannya, Ayad dan saudara perempuannya, Balagh dan saudara perempuannya, Athati dan saudara perempuannya, Tawbah dan saudara perempuannya, Darabi dan saudara perempuannya, Hadaz dan saudara perempuannya, Yahus dan saudara perempuannya, Sandal dan saudara perempuannya, dan Baraq dan saudara perempuannya. Total keseluruhan anak Adam sejumlah 40.

Wujud Adam

Menurut hadis Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter). Hadis mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda.

Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia berasal dari surga yang berperadaban maju. Turun ke muka bumi bisa sebagai makhluk asing dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan cerdas, dari peradaban di bumi sampai kapanpun, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Sesuai dengan Surah Al Israa’ 70, yang berbunyi: “…dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” — Al-Isra’ 17:70.
Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”— At-Tin 95:4.
Menurut riwayat di dalam Al-Qur’an, ketika Nabi Adam baru selesai diciptakan oleh Allah, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah, lantaran kemuliaan dan kecerdasannya itu, menjadikannya makhluk yang punya derajat amat tinggi di tengah makhluk yang pernah ada. Sama sekali berbeda jauh dari gambaran manusia purba menurut Charles Darwin, yang digambarkan berjalan dengan empat kaki dan menjadi makhluk purba berpakaian seadanya.

Makhluk sebelum Adam

Artikel utama untuk bagian ini adalah Makhluk sebelum Adam di bumi. Mengenai penciptaan Adam sebagai khalifah di muka bumi diungkapkan dalam Al-Qur’an: “…dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.”— Al-Baqarah 2:30.
Menurut syariat Islam, Adam tidak diciptakan di bumi, tetapi diturunkan dimuka bumi sebagai manusia dan diangkat (ditunjuk) Allah sebagai khalifah (pemimpin/pengganti/penerus) di muka bumi atau sebagai makhluk pengganti yang sebelumnya sudah ada makhluk lain. Maka dengan kata lain adalah, Adam ‘bukanlah makhluk berakal pertama’ yang memimpin di bumi.

Dalam Al-Quran disebutkan tiga jenis makhluk berakal yang diciptakan Allah yaitu manusia, jin, dan malaikat. Manusia dan jin memiliki tujuan penciptaan yang sama oleh karena itu sama-sama memiliki akal yang dinamis dan nafsu namun hidup pada dimensi yang berbeda. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis dan tidak memiliki nafsu karena tujuan penciptaanya sebagai pesuruh Allah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa ada makhluk berakal lain selain ketiga makhluk ini.

Dari ayat Al-Baqarah 30, banyak mengundang pertanyaan, siapakah makhluk yang berbuat kerusakan yang dimaksud oleh malaikat pada ayat di atas.

Surah Al Hijr ayat 27 berisi: “…dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”— Al-Hijr 15:27.
Dari ayat ini, Ulama berpendapat bahwa makhluk berakal yang dimaksud tidak lain adalah jin seperti dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan: “Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam diciptakan adalah jin yang suka berbuat kerusuhan.”

Menurut salah seorang perawi hadits yang bernama Thawus al-Yamani, salah satu penghuni sekaligus penguasa/pemimpin di muka bumi adalah dari golongan jin.

Penciptaan Adam

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Penciptaan Adam. Setelah Allah menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni, mengisi, serta memelihara bumi tempat tinggalnya. Saat Allah mengumumkan para malaikat akan kehendak-Nya untuk menciptakan manusia, mereka khawatir makhluk tersebut nantinya akan membangkang terhadap ketentuan-Nya dan melakukan kerusakan di muka bumi. Berkatalah para malaikat kepada Allah: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”— Al-Baqarah 2:30.
Allah kemudian berfirman untuk menghilangkan keraguan para malaikat-Nya: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”— Al-Baqarah 2:30. Lalu diciptakanlah Adam oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuk sedemikian rupa. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna.

Kesombongan Iblis

Saat semua makhluk penghuni surga bersujud menyaksikan keagungan Allah itu, hanya Iblis dari bangsa jin yang membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah karena merasa dirinya lebih mulia, lebih utama, dan lebih agung dari Adam. Hal itu disebabkan karena Iblis merasa diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam hanyalah dari tanah dan lumpur. Kebanggaan akan asal usul menjadikannya sombong dan merasa enggan untuk bersujud menghormati Adam seperti para makhluk surga yang lain.

Disebabkan oleh kesombongannya itulah, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusirnya dari surga dan mengeluarkannya dari barisan para malaikat disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga kiamat kelak.

Iblis dengan sombong menerima hukuman itu dan ia hanya memohon kepada Allah untuk diberi kehidupan yang kekal hingga kiamat. Allah memperkenankan permohonannya itu. Iblis mengancam akan menyesatkan Adam sehingga ia terusir dari surga. Ia juga bersumpah akan membujuk anak cucunya dari segala arah untuk meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat bersamanya. Allah kemudian berfirman bahwa setan tidak akan sanggup menyesatkan hamba-Nya yang beriman dengan sepenuh hati.

Pengetahuan Adam

Allah hendak menghilangkan pandangan miring dari para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmah-Nya yang menyatakan Adam sebagai penguasa bumi, maka Allah memerintahkan malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda. Para malaikat tidak sanggup menjawab firman Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka dan mengakui ketidaksanggupan mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui sesuatupun kecuali apa yang diajarkan-Nya.

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama benda itu kepada para malaikat dan setelah diberitahu oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka bahwa hanya Allah lah yang mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui segala sesuatu yang nampak maupun tidak nampak.

Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki akal yang dinamis. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis sehingga hanya mengetahui hal-hal yang diajarkan langsung oleh Allah saja.

Adam menghuni surga

Adam diberi kesempatan oleh Allah untuk tinggal di surga dulu sebelum diturukan ke Bumi. Allah menciptakan seorang pasangan untuk mendampinginya. Adam memberinya nama, Hawa. Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam sebelah kiri sewaktu dia masih tidur sehingga saat dia terjaga, Hawa sudah berada di sampingnya. Allah berfirman kepada Adam: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” — Al-Baqarah 2:35

Tipu daya Iblis

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan saat diusir oleh Allah dari surga akibat pembangkangannya, Iblis mulai berencana untuk menyesatkan Adam dan Hawa yang hidup bahagia di surga yang tenteram dan damai dengan menggoda mereka untuk mendekati pohon yang dilarang oleh Allah kepada mereka.

Iblis menipu mereka dengan mengatakan bahwa mengapa Allah melarang mereka memakan buah terlarang itu karena mereka akan hidup kekal seperti Tuhan apabila memakannya. Bujukan itu terus menerus diberikan kepada Adam dan Hawa sehingga akhirnya mereka terbujuk dan memakan buah dari pohon terlarang tersebut. Jadilah mereka melanggar ketentuan Allah sehingga Dia menurunkan mereka ke bumi. Allah berfirman: “Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Al-Baqarah 2:36.

Mendengar firman Allah tersebut, sadarlah Adam dan Hawa bahwa mereka telah terbujuk oleh rayuan setan sehingga mendapat dosa besar karenanya. Mereka lalu bertaubat kepada Allah dan setelah taubat mereka diterima, Allah berfirman: “Turunlah kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Al-Baqarah 2:38

Adam dan Hawa turun ke bumi

Adam dan Hawa kemudian diturunkan ke Bumi dan mempelajari cara hidup baru yang berbeda jauh dengan keadaan hidup di surga. Mereka harus menempuh kehidupan sementara dengan beragam suka dan duka sambil terus menghasilkan keturunan yang beraneka ragam bentuknya.

Menurut kisah Adam diturunkan di (Sri Lanka) di puncak bukit Sri Pada dan Hawa diturunkan di Arabia. Mereka akhirnya bertemu kembali di Jabal Rahmah di dekat Mekkah setelah 40 hari berpisah. Setelah bersatu kembali, konon Adam dan Hawa menetap di Sri Lanka, karena menurut kisah daerah Sri Lanka nyaris mirip dengan keadaan surga. Di tempat ini ditemukan jejak kaki Adam yang berukuran raksasa.

Kisah Qabil dan Habil

Di bumi pasangan Adam dan Hawa bekerja keras mengembangkan keturunan. Keturunan pertama mereka ialah pasangan kembar Qabil dan Iqlima, kemudian pasangan kedua Habil dan Labuda. Setelah keempat anaknya dewasa, Adam mendapat petunjuk agar menikahkan keempat anaknya secara bersilangan, Qabil dengan Labuda, Habil dengan Iqlima.

Namun Qabil menolak karena Iqlima jauh lebih cantik dari Labuda. Adam kemudian menyerahkan persolan ini kepada Allah dan Allah memerintahkan kedua putra Adam untuk berkurban. Siapa yang kurbannya diterima, ialah yang berhak memilih jodohnya. Untuk kurban itu, Habil mengambil seekor kambing yang paling disayangi di antara hewan peliharaannya, sedang Qabil mengambil sekarung gandum yang paling jelek dari yang dimilikinya. Allah menerima kurban dari Habil, dengan demikian Habil lebih berhak menentukan pilihannya. Qabil sangat kecewa melihat kenyataan itu. Ia terpakasa menerima keputusan itu walau diam-diam hatinya tetap tidak mau menerima. Maka berlangsunglah pernikahan itu, Qabil dengan Labunda dan Habil dengan Iqlima.

Qabil berusaha memendam rasa kecewa dan sakit hatinya selama beberapa tahun, tetapi akhirnya ia tidak bisa menahan diri. Pada suatu hari Qabil mendatangi Habil yang berada di peternakannya. Iblis telah merasuki jiwanya. Pada saat Habil lengah, Qabil memukulnya dengan batu besar, tepat di kepala Habil. Habil pun mati. Sedang Qabil merasa kebingungan, ia tak tahu harus diapakan mayat saudaranya itu. Ia berjalan kesana kemari sambil membawa jenasah Habil. Ia merasa menyesal.

Allah memberi petunjuk kepada Qabil melalui sepasang burung gagak. Sepasang burung gagak yang hendak berbebut untuk mematuk mayat Habil. Kedua burung itu bertarung sampai salah satunya mati. Burung gagak yang masih hidup lalu menggali lubang dengan paruhnya, kemudian memasukkan gagak yang mati ke dalam lubang itu dan menguburnya. Sesudah mengubur mayat Habil, Qabil masih merasa sangat kebingungan. Ia tidak berani pulang, rasa berdosa telah membuatnya ketakutan sendiri. Akhirnya Qabil melarikan diri menuju hutan.

Istri Cantik Itu Biasa, Tapi Istri Yang Mampu Menghargai Suami dan Mendukung Tanpa Putus Asa itu Langka

FAZZANPOST – Mempunyai istri cantik mungkin sudah biasa, tapi istri yang mampu menghargai suami dan mendukungnya tanpa putus asa itu masih begitu langka. Karena wanita jika sudah menikah banyak yang mengingkari janjinya untuk saling setia.

Buktinya tak sedikit para wanita ketika sudah menikah mengeluhkan suaminya karena belum juga mendapatkan pekerjaan yang mapan, merasa jenuh karena suaminya tak bisa memenuhi apa yang ia inginkan.

Ingatlah, janji setiamu sebelum menikah. Setia itu bukan hanya tentang kamu berusaha tidak berselingkuh dengan laki-laki lain, tapi setia itu adalah ketika kamu mampu saling menghargai, saling mendukung dan saling melindungi.

Untuk apa tergoda mata kepada seorang wanita yang hanya pandai memainkan kuas bedak dimuka, dan hanya pandai mengaplikasikan warna-warni eyes shidow, dan lihai menggunakan lipstiks indah dibibir, jika tak mampu memoles hati dengan taat kepada Allah.

Tampilan wajah yang hanya dipoles oleh alat make up sesaat memang nampak menyenangkan dipandang, tapi lebih menyenangkannya lagi ketika polesan yang ia pakai adalah teduhnya iman.

Maka dari itu, carilah seorang istri yang bisa memoles hatinya dengan iman, bukan yang hanya pintar memoles mukanya dengan berbagai merek make up terkenal.

Wanita pada hakikatnnya suka akan keindahan, karena wanita memang tercipta indah. Semua yang menempel pada dirinya akan selalu terlihat indah, jika kita mampu menjaganya dengan baik.

Wanita juga dijuluki ibu rumah tangga, karena ia bertanggung jawab penuh dengan semua orang-orang yang ada dirumah setelah menjadi seorang istri. Ntah itu merawat suami, menjaga anak-anaknya, dan menjaga harta yang dihasilkan suami.

Maka pintar-pintarlah bagi seorang wanita menjaga itu semua, terutama harta suami, jangan sampai bersifat boros dijalan yang dibenci Allah.

Dan untuk para lelaki, carilah istri yang bisa mengatur harta-hartamu tetap dijalan Allah, bukan hanya seorang istri yang pandai mengoleksi barang-barang mewah.

Wanita adalah makhluq sosial yang mempunyai rasa cemburu yang tinggi, sebab wanita dicipta dengan hati yang begitu lembut. Pantas saja jika ia menyayangi suami terkadang dengan sangat berlebihan, tapi jangan sampai sifat itu berubah menjadi penyakit hati yang merugikan, seperti su’udzan.

Dan wanita, saking besarnya sifat cemburu yang ia miliki kadang-kadang tidak bisa menahan diri untuk gelisah ketika tetangga memiliki kenikmatan yang melebihi dari dirinya.

Hingga akhirnya mengeluh berkepanjangan kepada suaminya dirumah, padahal ini sangat dilarang, karena hal tersebut sama halnya menuntut suami melakukan sesuatu diluar kemampuannya.

Maka jangan lupa untuk para laki-laki yang belum berjodoh, carilah istri yang bisa mendamaikanmu ketika sedang dirumah, bukan ia yang hanya bisa mengeluh karena tetangga lebih berharta. Carilah ia yang bisa membuatmu damai, ketika tengah berada disampingnya. Bukan ia yang meresahkanmu karena tuntutan yang selalu ia lontarkan.

Dan carilah istri yang membuatmu bangga menjadi seorang imam keluarga, karena wanita yang kamu pilih adalah sosok yang selalu bisa kamu arahkan dengan baik. Yang tidak pernah mengeluh ketika diajak untuk sama-sama menghamba kepada Allah.

Bukan dia yang hanya bisa membuat hidupmu hina, karena tidak bisanya ia menjaga kehormatan dirimu yang kamu pasrahkan kepadanya.

Juga carilah seorang istri yang mampu menenangkan hatimu ketika kamu gelisah karena amarah, bukan hanya ia yang bisa membuatmu tambah berapi-rapi dengan amarah yang tengah melanda. Sebab wanita yang seperti itu adalah sosok bidadari syurga yang tengah Allah titipkan kepadamu untuk bisa kamu jaga dengan baik.

Siapakah wanita itu?, yaitu sosok wanita muslimah yang mampu membidik hatinya dengan sikap dan perilaku mulia, dia adalah wanita shalehah, calon bidadari penghuni syurga.

Hukum Istri Tidak Mau Kunjungi Rumah Mertua

FAZZANPOST – Ketika seorang wanita telah sah untuk bersanding dengan seorang laki-laki, maka statusnya berubah menjadi seorang istri. Dan kewajiban sebagai seorang istri ialah mentaati suaminya. Termasuk untuk tinggal dan mengikuti segala aturannya, selagi itu masih berada dalam tuntunan syariat Islam. Bukan hanya berlaku baik terhadap suami, sang istri pun harus berperilaku baik pula pada keluarga suami, termasuk kedua orang tuanya, yang menjadi mertua bagi istri.

Terkadang ada istri yang tidak begitu menyukai mertuanya sendiri. Hal ini terjadi akibat beberapa faktor yang berbeda. Namun yang pasti, hal inilah yang menjadi penghambat hubungan silaturahmi untuk berjalan baik. Lalu, bagaimana hukumnya istri yang tidak mau mengunjungi rumah mertuanya? Dan apa hak mertua atas istri?

Seorang istri wajib menaati suami dalam perkara-perkara yang tidak mengandung maksiat kepada Allah. Syariat telah memberikan dorongan yang kuat kepada istri untuk menaati suami, serta memperingatkannya dari tidak mentaatinya dalam perkara-perkara yang ia bisa taat kepadanya.

Dalam Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa satu bulan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu-pintu surga mana saja yang kamu kehendaki’.”

Dalam Al-Musnad, Shahih Ibnu Hibban dan Al-Mustadrak disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain (selain Allah), sungguh aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”

Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? Yaitu, menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.” Kemudian beliau duduk setelah sebelumnya bersandar dan bersabda, “Ketahuilah, juga perkataan sia-sia.” Beliau terus menerus mengulanginya hingga kami bergumam, “Sekiranya beliau berhenti.”

Di antara sempurnanya ketaatan istri kepada suami ialah hendaknya ia berbuat baik kepada kedua orang tua suami, berbakti kepada keduanya, tidak berlaku buruk pada keduanya, serta bersabar terhadap apa yang muncul dari keduanya. Semua itu dilakukan demi meraih ridha suami agar dengan itu ia memperoleh pahala dari Allah.

Jika ibu Anda marah pada istri Anda lantaran suatu sebab yang datang dari istri Anda, maka seyogyanya istri Anda meminta maaf darinya sebelum ia meninggal, agar ia meninggal dalam keadaan ridha terhadap istri Anda. Namun, jika ibu Anda telah meninggal sedangkan istri Anda belum mengerjakan hal itu maka istri Anda wajib banyak mendoakannya agar mendapat ampunan.

Demikian pula seorang anak wajib banyak mendoakan kedua orangtuanya ketika keduanya masih hidup maupun sesudah meninggal. Allah berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil’.” (QS. Al-Isra’: 24).

Adapun mengenai hal itu dianggap sebagai kedurhakaan seorang anak kepada ibunya atau tidak, maka jawabannya adalah jika istri menyakiti ibunya sementara ia tidak mencegahnya, melarangnya dan menghukum perbuatan istri tersebut maka hal itu termasuk bentuk kedurhakaan. Sehingga, ia harus banyak beristighfar dan memperbanyak amal shaleh.

Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. Jika Dia mengetahui dari hamba-Nya kejujuran taubatnya maka Dia akan menerima taubatnya.

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’,” (QS. Az-Zumar: 53).

Patuhi Perintah Suami atau Orangtua?

Muliakanlah Anak Perempuan

Anak laki-laki ataupun perempuan sama saja. Tetap tahukah Anda, Rasul menyebutkan sebuah kecenderungan orang tua yang menyukai seorang anak laki-laki. Sebagaimana dikatakan Rasulullah dalam hadits ‘Aisyah:

“Barangsiapa yang diberi cobaan dengan anak perempuan kemudian ia berbuat baik pada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka,” (HR. Al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629).

Al-Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menyebutnya sebagai ibtila’ (cobaan), karena biasanya orang tidak menyukai keberadaan anak perempuan. (Syarh Shahih Muslim, 16/178)

Bahkan dulu pada masa jahiliyah, orang bisa merasa sangat terhina dengan lahirnya anak perempuan. Sehingga tergambarkan dalam firman Allah  SWT:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah wajahnya dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan diri dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara anak itu dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah, betapa buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 58-59)

Islam sangat memuliakan anak perempuan. Allah SWT yang menganugerahkan anak perempuan telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang berbuat kebaikan kepada anak perempuannya.

‘Aisyah pernah mengatakan: Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua anak perempuannya, maka aku memberinya tiga butir kurma. Kemudian dia memberi setiap anaknya masing-masing sebuah kurma dan satu buah lagi diangkat ke mulutnya untuk dimakan. Namun  kedua anak itu meminta kurma tersebut, maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dimakannya untuk kedua anaknya. Hal itu sangat menakjubkanku sehingga aku ceritakan apa yang diperbuat wanita itu kepada Rasulullah. Beliau  berkata: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka.” (HR. Muslim no. 2630)

Dalam riwayat dari Anas bin Malik, Rasulullah juga menyebutkan kedekatannya dengan orang tua yang memelihara anak-anak perempuan mereka dengan baik kelak pada hari kiamat:

“Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini),” dan beliau mengumpulkan jari jemarinya. (HR. Muslim no. 2631).

Al-Imam An-Nawawi  menjelaskan, hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan seseorang yang berbuat baik kepada anak-anak perempuannya, memberikan nafkah, dan bersabar terhadap mereka dan dalam segala urusannya. (Syarh Shahih Muslim, 16/178) Masih berkenaan dengan keutamaan membesarkan dan mendidik anak perempuan, seorang shahabat, ‘Uqbah bin ‘Amir  pernah mendengar Rasulullah  bersabda:

“Barangsiapa yang memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar atas mereka, memberi mereka makan, minum, dan pakaian dari hartanya, maka mereka menjadi penghalang baginya dari api neraka kelak pada hari kiamat.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 56: “Shahih”)

Seorang anak yang terlahir di atas fitrah ini siap menerima segala kebaikan dan keburukan. Sehingga dia membutuhkan pengajaran, pendidikan adab, serta pengarahan yang benar dan lurus di atas jalan Islam. Maka hendaknya kita berhati-hati agar tidak melalaikan anak perempuan yang tak berdaya ini, hingga nantinya dia hidup tak ubahnya binatang ternak. Tidak mengerti urusan agama maupun dunianya. Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagi kita. (Al-Intishar li Huquqil Mukminat, hal. 25)

Bahkan ketika anak perempuan ini telah dewasa, orang tua selayaknya tetap memberikan pengarahan dan nasehat yang baik. Ini dapat kita lihat dari kehidupan seseorang yang terbaik setelah Rasulullah, Abu Bakr Ash-Shiddiq , dalam peristiwa turunnya ayat tayammum. Diceritakan peristiwa ini oleh ‘Aisyah:

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah  dalam salah satu safarnya. Ketika kami tiba di Al-Baida’–atau di Dzatu Jaisy– tiba-tiba kalungku hilang. Rasulullah pun singgah di sana untuk mencarinya, dan orang-orang pun turut singgah bersama beliau dalam keadaan tidak ada air di situ. Lalu orang-orang menemui Abu Bakr sembari mengeluhkan, “Tidakkah engkau lihat perbuatan ‘Aisyah? Dia membuat Rasulullah dan orang-orang singgah di tempat yang tak ada air, sementara mereka pun tidak membawa air.” Abu Bakr segera mendatangi ‘Aisyah. Sementara itu Rasulullah sedang tidur sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku. Abu Bakr berkata, “Engkau telah membuat Rasulullah dan orang-orang singgah di tempat yang tidak berair, padahal mereka juga tidak membawa air!” Aisyah melanjutkan, “Abu Bakr pun mencelaku dan mengatakan apa yang ia katakan, dan dia pun menusuk pinggangku dengan tangannya. Tidak ada yang mencegahku untuk bergerak karena rasa sakit, kecuali karena Rasulullah sedang tidur di pangkuanku. Keesokan harinya, Rasulullah bangun dalam keadaan tidak ada air. Maka Allah turunkan ayat tayammum sehingga orang-orang pun melakukan tayammum. Usaid ibnul Hudhair pun berkata, “Ini bukanlah barakah pertama yang ada pada kalian, wahai keluarga Abu Bakr.” ‘Aisyah berkata lagi, “Kemudian kami hela unta yang kunaiki, ternyata kami temukan kalung itu ada di bawahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 224 dan Muslim no. 267)

Al-Imam An-Nawawi mengatakan bahwa di dalam hadits ini terkandung ta’dib (pendidikan adab) seseorang terhadap anaknya, baik dengan ucapan, perbuatan, pukulan, dan sebagainya. Di dalamnya juga terkandung ta’dib terhadap anak perempuan walaupun dia telah dewasa, bahkan telah menikah dan tidak lagi tinggal dirumahnya. Syarh Shahih Muslim, 4/58).

Jadi, punya anak perempuan? Bersyukur, dan muliakanlah ia.

Sumber: Islam Pos

 

Puasa Ramadhan Bagi Wanita Yang Hamil Dan Menyusui

Puasa di bulan ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dikerjakan oleh setiap umat muslim. Para ulama telah sepakat bahwa bagi orang tua renta yang sudah tidak bisa menjalankan ibadah puasa karena udzur dan tidak mungkin menggantinya di hari yang lain maka baginya boleh tidak berpuasa di bulan ramadhan.

Namun, muncul pertanyaan bagaimana hukumnya puasa ramadhan bagi wanita hamil dan menyusui. Yang mana masih memungkinkan baginya untuk mengqadhanya di hari setelah dia tidak hamil dan menyusui lagi. Apakah wajib baginya qadha puasa saja ataukah juga harus membayar fidyah (memberi makan faqir miskin).

Dalam hal ini wanita yang hamil dan menyusui mengalami tiga macam keadaan. Yang Pertama adakalanya dia hanya khawatir terhadap dirinya sendiri jika berpuasa. Kemudian yang kedua adakalanya dia khawatir terhadap dirinya dan buah hatinya. Dan yang ketiga adakalanya dia hanya khawatir terhadap buah hatinya saja.

Mari kita simak langsung saja pemaparan para ulama empat madzhab mengenai wanita yang hamil dan menyusui dibulan ramadhan.

1. Madzhab Hanafi

Ibnul Humam (w. 681 H) dalam kitab Fathul Qadir mengatakan bahwa seorang wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan jika dia khawatir terhadap dirinya atau anaknya maka boleh baginya tidak berpuasa dan hanya mengqadha di hari lain saja. Tidak perlu baginya membayar fidyah. ”Wanita yang hamil dan menyusui jika dia khawatir atas dirinya atau anaknya maka baginya untuk berbuka dan mengqadhanya dihri yang lain. Tidak wajib baginya membayar fidyah.” Ibnu Abdin (w. 1252 H) dalam kitab Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar mengatakan bahwa seorang wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan maka boleh baginya tidak berpuasa dan hanya mengqadha di hari lain saja. Tidak perlu baginya membayar fidyah. Dalam hal ini beliau sependapat dengan Ibnul Humam. ”Hal hal yang dibolehkan untuk tidak berpuasa salah satunya adalah wanita hamil dan menyusui. Jika sampai datang bulan ramadhan berikutnya maka baginya cukup dengan mengqadha saja tanpa membayar fidyah. Berbeda dengan Imam Syafiiy.”

2. Madzhab Maliki

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) dalam kitab Al-Istidzkar mengatakan bahwa wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan boleh baginya tidak berpuasa dan hanya dibebani untuk membayar fidyah saja. Dan tidak perlu baginya mengqadha di hari yang lain. ”Sesungguhnya wanita hamil dan menyusui, orang tua renta yang tidak berpuasa hingga akhirnya dia melewati bulan ramadhan berikutnya maka baginya hanya membayar fidyah saja. Tidak wajib baginya mengqadha dihari yang lain. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh imam Malik dan para sahabatnya.”

3. Madzhab Asy-Syafi’i

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab mengatakan bahwa wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan jika dia khawatir akan dirinya saja maka baginya boleh tidak berpuasa dan harus mengqadha dengan tanpa membayar fidyah. Dan jika dia khawatir terhadap dirinya dan buah hatinya maka boleh tidak berpuasa dan harus mengqadha dengan tanpa membayar fidyah. Namun jika dia hanya khawatir terhadap buah hatinya saja maka baginya harus mengqadha puasa dan wajib membayar fidyah. ”Ashabuna mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui jika dia khawatir akan dirinya saja maka baginya mangqadha tanpa membayar fidyah.dan jika dia khawatir akan dirinya dan buah hatinya maka baginya juga mengqadha tanpa membaar fidyah. Dan jika dia khawatir terhadap anaknya maka baginya wajib mengqadha dan membayar fidyah. Inilah yang dinaskan dalam kitab al-umm. Bahkan juga terdapat dalam qaul qadim dan qaul jadid.”

4. Madzhab Hanbali

Ibnu Qudamah (w. 620 H) di dalam kitab Al-Mughni mengatakan bahwa wanita yang hamil dan menyusui jika khawatir terhadap buah hatinya maka baginya boleh tidak berpuasa dan harus mengqadha dan membayar fidyah. Namun jika keduanya hanya khawatir terhadap dirinya saja maka bagi mereka qadha puasa saja tanpa harus membayar fidyah. ”Wanita yang hamil jika khawatir terhadap janinnya dan wanita menyusui khawatir terhadap anaknya maka baginya untuk tidak puasa dan harus mengqadha dan membayar fidyah.satu hari satu faqir miskin. Dan jika keduanya khawatir terhadap dirinya maka bagi keduanya untuk mengqadha saja.karena dalam hal ini seperti orang yang sedang sakit.”

5. Madzhab Adz-Dzahiri

Ibnu Hazm (w. 456 H) berpendapat di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar bahwa wanita yang hamil dan menyusui jika khawatir akan buah hatinya maka baginya boleh tidak berpuasa tanpa harus mengqadha dan membayar fidyah. ”Wanita yang hamil, wanita yang menyusui dan orang tua renta wajib bagi mereka berpuasa. Jika wanita yang hamil dan menyusui khawatir terhadap buah hatinya maka bagi keduanya tidak perlu qadha dan tidak pula membayar fidyah. Tapi jika mereka tidak puasa itu karena sakit maka wajib bagi mereka untuk mengqadha.”

Inilah pendapat para ulama pada tiap tiap madzhab mengenai wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan. Jika kita perhatikan ternyata pendapat Mahzhab Dzahiri ini sangat berbeda jauh sekali dibanding dengan madzhab-madzhab yang lain. Karena menurut pendapat Madzhab Dzahiri bahwa wanita yang hamil dan menyusui itu tidak wajib baginya puasa,qadha dan fidyah.

Bolehkah Wanita Haid Menyentuh Mushaf?

Dalam bab ini para ulama fiqih berbeda pendapat, ada yang membolehkan dan ada yang tidak, sedangkan kalangan yang membolehkanya adalah pendapat jumhur ulama yang dikuatkan oleh 4 madzhab mu’tamad, Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah, dan A-Hanabilah.

Dasar yang umumnya digunakan adalah ayat berikut ini: ”Tidak ada ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” (QS.Al-Waqi’ah : 79). Dan juga berdasarkan Hadits Amr ibn Hazm bahwasanya Rasulullah ahallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim surat kepada penduduk Yaman, ”Hendaklah seseorang tidak menyentuh Al-quran kecuali dalam keadaan suci.”

Sedangkan kalangan yang memperbolehkan menyentuh mushaf adalah dari madzhab Adz-Dzahiriyah, dalil yang mereka gunakan adalah sebagaimana dalil yang sudah disebutkan diatas yaitu nash yang oleh jumhur diartikan sebagai pelarangan, sedangkan dalam madzhab Adzh-dzahiriyah, dalil diatas mempunyai tafsiran yang berbeda. Berikut perincianya :

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Para ulama Al-Hanafiyah sepakat dalam pelarangan wanita haid menyentuh mushaf, dan ada beberapa ulama yang membolehkanya dengan syarat adanya penghalang antara tangan dan mushaf, dapat berupa tissue atau kain yang terpisah dari badanya.

As-Sarakhsi (w. 483 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Al-Mabsuth menuliskan, ”Dan bagi orang yang haid tidak diperbolehkan menyentuh mushaf, masuk masjid dan membaca satu ayat Al-quran dengan lengkap.” Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut, ”Karena mengagungkan Al-quran adalah sesuatu yang wajib, dan bukanlah termasuk mengagungkan apabila ia menyentuhnya dengan tangan yang berhadats dan sebagai dalil adalah diwajibkanya membasuh tangan ketika bersuci, dan tidak pula diperbolehkan menyentuh uang yang bertuliskan ayat Al-quran, dan juga buku tafsir, karena karena menyentuhnya dihukumi sebagaimana mushaf, sedangkan menyentuh buku fiqih tidaklh mengapa.” Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadirmenuliskan sebagai berikut, ”Dan tidaklah diperbolehkan seseorang menyentuh mushaf kecuali dengan adanya penghalang.” Dan Az-Zaila’i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut, ”Dilarangnya membaca Al-quran sebagaimana menyentuhnya bagi wanita yang nifas, junub dan haid kecuali dengan adanya penghalang yang terpisah darinya.”

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam madzhab Al-Malikiyah pelarangan menyentuh mushaf oleh wanita haid adalah secara muthlaq, adanya penghalang ataupun tidak, tidaklah berpengaruh dan hukumnya tetap haram.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan, ”Tidaklah diperbolehkan seseorang menyentuh mushaf baik secra langsung ataupun dengan penghalang kecuali dalam keadaan suci.” Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirahmenuliskan sebagai berikut, ”Pendapat kami tentang menyentuh mushaf adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala ‘Tidaklah menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci’ dan juga perkataan rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wassalam yang diriwayatkan oleh Amru ibn hazam ‘Tidaklah menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci’.”

3. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Sebagaimana Al-Malikiyah, madzhab ini pun melarang wanita haid menyentuh mushaf secara muthlaq.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnyaAl-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan, ”Dan diharamkan membawa menyentuh mushaf sebagaimana firman Allah ta’ala ‘Tidaklah menyentuh mushaf kecuali orang-orang yang suci’, dan diharamkan pula berdiam diri dimasjid, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Tidak dihalalkannya masjid bagi orang yang haid dan junub’.” Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi’iyah di dalam kitabnyaAsnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut, ”Dan bagi wanita yang haid tidak diperbolehkan menyetubuhinya, begitupula membaca dan menyentuh mushaf.” Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabTuhfatul muhtaj fi syarhi Al-Minhaj menuliskan sebagai berikut, ”Dan tidak diperbolehkanya menyentuh mushaf bagi wanita haid karena keharamanya adalah pasti.” ”Dan tidak diperbolehkanya wanita haid membalik halaman mushaf walampun dengan kayu, ataupun memindahkannya yang mana ia diibaratkan seperti membawanya.” Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabMughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut, ”Diharamkan bagi wanita haid menyentuh mushaf dan membawanya.”

4. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Taimiyah (w. 728 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnyaMajmu’ Fatawa menuliskan, ”Dan diperbolehkan bagi wanita haid membawa mushaf dengan lengan bajunya, asalkan tidak bersentuhan dengan tangan secara langsung.” Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut, ”Keshahihan hukum menyentuh mushaf dalam madzhab kami adalah haram menyentuh kitabnya, sampulnya, begitupun catatan kakinya, berdasarkan dalil al-bai’, yaitu ketika kita menjual atau membeli mushaf maka akan kita dapati semuanya tidak hanya lembaranya atau sampulnya saja.” Di dalam madzhab ini terdapat sebagian ulama yang membolehkan menyentuh mushaf dengan syarat tidak bersentuhan langsung antara tangan dan mushaf, dan solusi yang diberikan bisa dengan menggunakan lengan baju, ataupun yang lainya.

Ada perbedaan pendapat antara madzhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah, yang pada dasarnya keduanya melarang wanita haid menyentuh mushaf kecuali dengan penghalang. Yang menjadi perbedaan diantara mereka adalah menurut madzhab Al-Hanafiyah penghalang yang harus terpisah dari tubuh sang wanita, sedangkan menurut Al-Hanabilah diperbolehkan menggunakan kain yang sedang dipakai.

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan,”Membaca Al-quran, sujud tilawah, menyentuh mushaf serta berdzikir adalah diperbolehkan, baik dilakukan oleh orang yang mempunyai wudhu atau tidak, bagi orang yang junub, begitupun haid.” ”Bagi orang yang melarang menyentuh mushaf dengan dalil firman Allah ta’ala ” Tidaklah menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci”. Maka alasan ini tidak bisa dijadikan i perintah, kecuali dengan dalil, karena kalimat “Tidak menyentuhnya” bukanlah kata perintah, akan tetapi khabar. Dan Allah tidak pernah berkata kecuali sesuatu yang benar, dan tidak diperbolehkan merubah lafadz khabar menjadi perintah atau amr kecuali dengan adanya nash yang jelas.”

Mengapa Harus Kartini?

Mengapa harus Kartini? Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.

Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia?

Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.

Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.

Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? — Apa karena Cut Nyak dibenci penjajah?— Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.

Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

%d bloggers like this: