FAZZAN POST

Khayrunnaas Anfa'u Linnaas

Category: I-Wisdom

Terompet Sesangkala Sudah di Mulut Malaikat Israfil?

FAZZANPOST — Tidak ada yang tahu pasti kapan ketiga tiupan terjadi. Namun tahukah anda jika saat ini terompet sangkakala tersebut sudah berada di bibir Malaikat Israfil? Hanya tinggal menunggu perintah, maka kiamat tidak akan bisa dihindari. Ingin tahu selengkapnya? Berikut ulasannya.

Kebenaran terompet sangkakala ini sudah banyak dijelaskan Allah SWT di dalam Alquran. Bahwa sebelum kiamat nanti terompet akan ditiup sebanyak tiga kali. Tiga tiupan tersebut sudah dijelaskan dalam Alquran. Diantaranya dalam surat An-Naml: 87 dan az-Zumar: 68.

“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87).

Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Jarak antara kedua tiupan itu adalah empat puluh”

“Ya Abu Hurairah, apakah empat puluh itu?” tanya sahabat.
“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah
“Apakah empat puluh bulan?” tanya sahabat
“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah
“Apakah empat puluh tahun?” tanya sahabat lagi

“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah. “Kemudian Allah menurunkan hujan, maka tumbuhlah manusia seperti pepohonan. Ketika itu tubuh anggota tubuh manusia rusak, kecuali sebuah tulang, yaitu tulang punggung bagian bawah (ekor). Dari tulang itulah manusia dihimpun kembali bentuknya kelak pada hari kiamat ” (HR.Syaikhoin)

Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Meski tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan datangnya, namun Nabi Muhammad SAW mengabarkan jika waktunya sudah dekat. Bahkan, kini terompet tersebut sudah berada di bibir Malaikat Israfil.

Abu Sa’id ra. Mengungkapkan, Nabi Muhammad SAW bersabda “Bagaimana aku dapat merasakan nikmat, sebab malaikat pemegang sangkakala sudah memasukan sangkakala (ke mulutnya). Dan Ia pasti akan langsung meniup sangkakala itu, jika telah mendengar perintah untuk meniupnya,”

Para sahabat yang mendengarkan merasa takut, lalu Rasulullah SAW bersabda “Ucapkanlah, Cukupkanlah Allah sebagai penolong kami, dan Dia sebaik-baiknya pelindung. Hanya kepada Allah lah kami bertawakkal (berserah diri).” (HR. Tirmidzi)

Lantas, bagaimana dengan kita yang hidup 1400 tahun setelah Nabi? Bukankah kedatangan kiamat semakin dekat lagi? Semoga, setiap hari kita bisa menambah pundi-pundi amal, sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang kekal. []

Sumber: Islampos

 

Advertisements

Pernahkah Bertanya, Sedang Apa Kita di Bumi Ini?

FAZZANPOST – Saudaraku, pernahkah ada tanya dalam hatimu, sedang apa kita di bumi saat ini?

Sedang menikmati kehidupan yang diberikan oleh Sang Maha Hidup atau sedang menunggu mati yang pasti akan kita jumpai?

Pernahkah terlintas tanya, apa tujuan kita dikirim ke muka bumi?

Untuk bersenang- senang dengan segala fasilitas yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi atau hanya tinggal diam mengikuti alur kehidupan, menerima segala yang diberikan?

Mari sama-sama kita renungi

Saudaraku, Perlu kita sadari, ada cinta yang setia mengalir dalam aliran darah dan setiap hembusan nafas kita yang tetap hidup dan memberi kehidupan. Cinta yang tak pernah coba kita kenali dari mana sumbernya, meskipun ia tak meminta untuk dikenali. Cinta yang tak pernah coba kita lirik bukan karena tak mampu, tapi karena kita tak pernah punya keinginan untuk mencari tahu. Cinta yang begitu ikhlas dan terus menghujani hari- hari kita dengan begitu banyak nikmat yang terkadang sangat sulit untuk kita sadari keberadaannya.

Itu memang wajar, karena cinta itu tak terlihat sehingga mata kita buta untuk bisa melihatnya. Tapi tidakkah kita rasakan? Cinta yang memberi, memberi dan selalu memberi itu? Adakah yang lebih banyak memperhatikan kita dibanding Sang Pemilik Cinta itu? Tidakkah kita penasaran, siapa pemilik cinta yang tulus itu?

Dialah Allah SWT.

Masih tidak inginkah kita mencari tahu dan mengenali cinta Sang Khalik? Dia yang telah menciptakan pun menitipkan cinta dan kehidupan kepada manusia. Namun apakah yang dapat kita lakukan untuk membalas kebaikan Sang Maha Baik itu? Meskipun seluruh waktu yang Alloh berikan kepada kita, digunakan untuk beribadah kepadaNya, tidak akan mampu untuk membalas kebaikanNya.

Saudaraku, Tapi tenang, bukan itu yang Alloh inginkan. Alloh hanya ingin kita menjadi manusia super yang patuh pada perintahNya dan menjauhi laranganNya. Itu karena Alloh tidak ingin kita sampai tergoda dengan rayuan setan yang akan menyesatkan kita menuju tempat yang paling mengerikan yaitu Neraka. Alloh ingin menjadikan kita manusia pilihanNya yang semoga akan bertemu di SurgaNya (Aamiin).

Tapi kita tidak pernah merasa dipilih. Padahal sadar atau tidak, salah satu perintah Alloh kepada kita adalah agar Alloh bisa merasa dekat dengan kita, yang Dia ciptakan dengan penuh cinta. Pertanyaannya apakah hati kita terlalu keras sehingga tak bisa merasakan cinta Sang Maha Cinta?

Terkadang bahkan selalu Alloh merindukan air mata kita. Air mata tulus yang mengalir karena kerinduan. Tapi pernahkah kita menangis karena rasa rindu ingin berjumpa denganNya?

Saudaraku, Coba renungi baik- baik beberapa kalimat dari potongan sebuah hadits qudsi di bawah ini tentang Cinta Alloh pada hambaNya,
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “…………Kalau Aku sudah mencintainya, Aku adalah pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, tangan yang ia gunakan untuk berbuat, dan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Kalau ia meminta kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Kalau ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi,” (HR. Al-Bukhari).

Rasakan getaran cinta itu. Belum terlambat untuk mengejar Sang Cinta Sejati. Perjalanan cinta kita bermula di sini.

Saudaraku, Seperti itulah Allah mencintai hambaNya. Tidak perlu sang hamba tahu, tapi sang hamba pasti merasakannya.

Cinta serta kehidupan itu akan selalu manusia bawa meskipun telah meninggalkan alam fana ini jika selama hidupnya, ia mencoba belajar tentang cinta dan kehidupan yang Alloh berikan untuknya. Dan hingga akhirnya ia akan menemui Sang Pemilik Cinta itu di Surga nanti.

Kenapa Umat Islam Jadi Sasaran Pemusnahan?

FAZZANPOST – Dari Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), beliau berkata:” (Pada suatu hari) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan cemas sambil bersabda, ‘La ilaha illallah, celaka (binasa) bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah terbuka bagian dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti ini’, dan Baginda menemukan ujung ibu jarinya dengan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan.

Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya, ‘Ya Rasulullah! Apakah kami akan binasa, sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shaleh?’ Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak’,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menerangkan, apabila di suatu tempat atau daerah sudah terlalu banyak kejahatan, kemungkaran dan kefasiqan, maka kebinasaan akan menimpa semua orang yang berada di tempat itu. Tidak hanya kepada orang jahat saja, tetapi orang-orang shaleh juga akan dibinasakan, walaupun masing-masing pada hari qiamat akan diperhitungkan menurut amalan yang telah dilakukan.

Oleh karena itu segala bentuk kemungkaran dan kefasiqan hendaklah segera dibasrni, dan segala kemaksiatan hendaklah segera dirnusnahkan, supaya tidak terjadi malapetaka yang bukan saja akan menimpa orang-orang yang melakukan kernungkaran dan kejahatan tersebut, tetapi juga menimpa semua penduduk yang berada di tempat itu.

Dalam hadits di atas walaupun disebutkan secara khusus tentang bangsa Arab tetapi yang dimaksudkan adalah seluruh bangsa yang ada di dunia ini. Tujuan disebutkan bangsa Arab secara khusus karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri dari kalangan mereka, dan yang menerima Islam pada waktu permulaan pengembangannya adalah kebanyakan dari kalangan bangsa Arab dan sedikit demi sedikit dari bangsa lain.

Begitu pula halnya dalam masalah yang berkaitan dengan perkembangan umat Islam banyak bergantung kepada maju-mundurnya bangsa Arab itu sendiri. Selain itu, bahasa resmi Islam adalah bahasa Arab. Kemudian Ya’juj dan MaJuj adalah dua bangsa (dari keturunan Nabi Adam As.) yang dahulunya banyak mernbuat kerusakan di permukaan bumi, lalu batas daerah dan kediaman mereka ditutup oleh Zul Qarnain dan pengikut-pengikutnya dengan campuran besi dan tembaga, maka dengan itu mereka tidak dapat keluar, sehingga hampir tiba hari qiamat.

Maka pada waktu itu dinding yang kuat tadi akan hancur dan keluarlah kedua bangsa itu dari kediaman mereka, lalu kembali membuat kerusakan di permukaan bumi. Apabila peristiwa ini telah terjadi, itulah tanda hari qiamat sudah dekat.

Ini Kaum yang Digunting Bibirnya di Akhir Zaman

FAZZANPOST – Menjadi seorang pemimpin bagi suatu kaum bukanlah perkara yang mudah. Karena seorang pemimpin haruslah mengutamakan kepentingan rakyatnya di samping kepentingannya sendiri.

Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas segala kebutuhan masyarakatnya selain bertanggung jawab atas kebutuhah keluarganya. Demikianlah, seorang pemimpin yang sejati harus amanah atas jabatannya.

Akan tetapi pada masa ini, hanya sedikit pemimpin yang demikian itu. Kebanyakan pemimpin saat ini lebih mementingkan keluarga dan kelompoknya dibandingkan dengan rakyatnya yang jelas-jelas diamanahkan kepadanya. Dan kepada mereka para pemimpin yang tidak amanah ini telah diwartakan balasan yang akan mereka terima di akhirat kelak.

Nabi pernah bersabda, “Saat malam Isra Mi’raj tiba, aku lihat ada manusia. Mereka digunting bibirnya. Kepada Jibril aku bertanya, ‘Siapakah mereka?’ Jibril berkata, ‘Merekalah pemimpin-pemimpin umatmu. Mereka anjurkan orang lain berbuat baik, namun lupa diri sendiri. Mereka membaca kitab Al-Qur’an, tapi tak memperhatikan, tak pula mengamalkan’.”

Di dunia ini, kita akan mendapati banyak pemimpin yang tidak ada kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Mereka menganjurkan untuk berbuat sesuatu namun mereka sendiri melanggarnya. Kata-kata mereka di muka umum sungguh baik dan terdengar bijak. Tapi di sisi lain akhlak dan kelakuan mereka buruk. Kekuasaan telah mereka manfaatkan untuk menutupi kekurangan diri dan kejelekan sifat dengan cara kasar maupun halus.

Sering kita dapati bahwa pemerintahan suatu negara menggelar perlombaan membaca Al-Qur’an. Mereka menikmati alunan indahnya para qari’ membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Namun mereka lupa, bahkan dengan sengaja tidak mengamalkannya. Lebih dari itu, orang-orang yang berusaha mengamalkan Al-Qur’an dengan benar dan konsisten dia tangkap dan disiksa karena menghambat kepentingannya. Ironis memang.

Di antara kejelekan sifat mereka pula adalah menerapkan hukum hanya kepada golongan tertentu, yaitu kalangan bawah. Kalau hukum itu menyangkut dirinya, keluarganya dan orang-orang terdekatnya maka seketika menjadi tidak berfungsi. Sementara kalau rakyat kecil yang melakukan kesalahan dengan tugas dia terpakan hukum itu. Inilah yang akan menjadi penyebab kehancuran suatu negeri karena pemimpinnya yang demikian. Padalah Rasulullah SAW sudah memberikan contoh dengan sabdanya bahwa kalaulah Fatimah putrinya tercinta mencuri maka beliau tetap akan menerapkan hukum potong tangan kepadanya. Begitulah seharusnya seorang pemimpin.

Pemimpin yang dijumapai Rasulullah SAW dalam malam Isra Mi’raj sangat dapat dengan mudah kita jumpai saat ini. Maka ketahuilah ancaman Allah SWT ini, bahwa kelak di neraka bibir mereka akan digunting karena kebusukan mulut mereka.

Kisah Penghina al-Qur’an yang Dihukum Mati

FAZZANPOST – Kala Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin terhadap pengalamannya pernah diminta untuk menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan bahwa ternyata Nabi Muhammad itu dapat “dibodohi”. Dia mengatakan, “Ketika Muhammad mengimlakan kepadaku ayat “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja.”

Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghinakan Al-Quran sekaligus mencemooh Nabi Muhammad ﷺ disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah.

Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah ﷺ memiliki hukum tersendiri di dalam Islam.Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota Makkah yang lebih dikenal dengan istilah Fath Makkah. Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan terhadap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin puluhan tahun yang lalu.

Rasulullah ﷺ memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah. Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Islam yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja. Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap Al-Quran?

Rasulullah ﷺ dengan tegasnya memerintahkan para pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. Rasulullah ﷺ menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati sekalipun mereka bergantung di sisi Ka’bah.

Sedekah Sirriyyah

Sedekah sirriyyah adalah sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sedekah ini sangat utama karena lebih mendekati ikhlas dan selamat dari sifat riya’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Jika kamu Menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 271)

Perlu diketahui, bahwa yang utama untuk disembunyikan adalah pada sedekah kepada fakir dan miskin. Hal ini, karena ada banyak jenis sedekah yang mau tidak mau harus ditampakkan, seperti membangun masjid, membangun sekolah, jembatan, membuat sumur, membekali pasukan jihad dan sebagainya.

Di antara hikmah menyembunyikan sedekah kepada fakir miskin adalah untuk menutupi aib saudara kita yang miskin tersebut. Sehingga tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui kekurangan dirinya. Tidak diketahui bahwa tangannya berada di bawah dan bahwa dia orang yang tidak punya.

Hal ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam berbuat ihsan kepada fakir-miskin. Oleh karena itu, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam memuji sedekahsirriyyah, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk tujuh golongan yang dinaungi Allah Subhanahu wa Ta’ala nanti pada hari kiamat.

Buah Pendidikan Telah Menjadi Racun

Dasar pendidikan di negara-negara umat Islam pada umumnya tidak jauh berbeda. Jika ada yang berbeda pun hanya pada teknik dan nama yang digunakan saja. Dasarnya tetap sekular. Pendidikan saat ini hanya semata-mata melahirkan orang pandai, mampu membuat kemajuan dan mengejar dunia.

Sistem pendidikannya tidak berdasarkan tauhid atau ketuhanan, tetap diajarkan namun hanya sepintas saja. Syariat yang diajarkan juga terlalu mendasar, hanya disekitar ibadah. Sangat jauh mengajarkan kecintaan pada Allah, dan menumbuhkan rasa takut pada Allah. Semuanya hanya diajarkan dalam teori saja tanpa mencoba menumbuhkannya pada diri setiap peserta didik.

Jika pendidikan akidah dan ketauhidan hanya diajarkan pada bagian dasarnya saja, maka akhlak yang tinggi dan mulia sulit terwujud. Akhirnya Kita tidak lagi menemukan peserta didik yang sudah terlatih dan terbiasa mencintai Allah juga mencintai sesama manusia.

Kita juga sudah jarang menemukan seseorang yang tawadhu’, pemurah, sabar, dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Jika sistem pendidikan yang dibangun tidak berdasarkan pada aturan Allah pastinya sangat sulit menemukan seseorang yang memiliki sifat terpuji.

Mari membuka mata, dan menyadari bahwa sistem pendidikan harus segera diperbaiki. Jika tidak, nantinya akan sulit sekali mencari orang yang jujur, mandiri, rajin beribadah dan berani karena Allah.

Lihat lah buah dari sistem pendidikan yang sudah ditanam sejak lama dan saat ini sudah berbuah. Apakah buahnya itu? yaitu jika keberhasilan digenggamnya, maka ia akan sombong, tamak, egois, dan tidak lagi peduli terhadap sesama. Meskipun ada juga yang berhasil tapi tidak memiliki sifat tersebut. Namun, saat ini Kita berbicara soal mayoritas. Bukankah kita sering menemui orang-orang yang seperti itu?

Lebih parahnya lagi, seseorang yang mengalami kegagalan , ia dengan cepatnya mengalami putus asa. Karena mereka tidak dipupuk mentalnya, tidak dipersiapkan mentalnya mengalami kegagalan. Padahal, kegagalan dan keberhasilan itu adalah dua hal yang selalu beriringan.

Sesungguhnya kekacauan saat ini adalah akibat kita menjauh dari aturan Allah SWT. Hukum kebanyakan orang dijadikan pembenaran dan syariat dikesampingkan. Semoga Kita bisa sama-sama membangun dan memperbaiki sistem pendidikan yang sudah ada.

Cara Berbakti pada Orang Tua yang Telah Meninggal Dunia

Berbakti pada orang tua merupakan kewajiban setiap anak. Hanya saja, yang menjadi kendala ialah ketika kita telah kehilangan keduanya. Bagaimana cara kita berbakti kepada orang tua?. Berikut ada 3 cara yang dapat Anda lakukan untuk berbakti pada orang tua yang telah wafat.

1. Mendoakan kedua orang tua

Doa merupakan cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal yang dapat dilakukan oleh seorang anak. Doa seorang anak yang shaleh dikatakan sebagai salah satu hal yang amat bermanfaat bagi orang tua. Oleh karena itu, sudahkah kita sisipkan doa untuk kedua orang tua kita yang sudah meninggal atau tiada di setiap sujud, shalat malam dan waktu-waktu yang mustajab dikabulkannya doa? Jika belum, hendaknya harus kita mulai membiasakan diri untuk melakukannya. Bukankah kita ingin membantu agar orang tua kita mendapatkan kebaikan di akhirat kelak?

2. Menunaikan nazar orang tua yang belum sempat terpenuhi

Nazar adalah janji seseorang yang wajib dipenuhi. Jika seseorang tidak sempat memenuhi nazarnya, maka kebaikan bagi ahli warisnya, atau anaknya dalam hal ini adalah memenuhi nazar yang belum dipenuhi oleh orang tuanya. Inilah hal lain yang dapat seorang anak lakukan sebagai cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal.

3. Bersedekah untuk orang tua

Sedekah merupakan salah satu ibadah yang pahalanya amat besar. Jika orang tua kita telah meninggal, salah satu cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah dengan bersedekah untuk mereka.

Itu saja barangkali beberapa 3 hal yang dapat seorang anak lakukan sebagai cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal. Tentu bukan merupakan satu batasan, ada hal lain yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan bakti kita kepada orang tua kita yang telah tiada seperti menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dekat orang tua kita dan lain sebagainya.

Imam Syafi’i, Tak Membiarkan Waktu Berlalu Tanpa Karya

Subhaanallaah, menakjubkan! Anak kecil berusia 7 tahun itu sudah dapat menghafal al-Quran. Bukan hanya ibunya yang memang telaten mendidik dan mengajarkan al-Quran sejak bayi, demikian pula gurunya. Tak heran bila dalam bulan Ramadhan, anak lelaki itu mampu mengkhatam al-Quran berpuluh kali.

Begitu menginjak remaja, Muhammad bin Idris, anak laki-laki itu, kian bersemangat dalam mempelajari ilmu pengetahuan, terutama ilmu dien. Ia berpamitan pada orang tuanya guna mempelajari bahasa Arab di suatu dusun Bani Huzail yang dikenal terdapat banyak pengajar bahasa Arab jempolan.

Tak kurang dari 10 tahun ia habiskan untuk menimba ilmu tersebut. Selama masa itu pula mahir menguasai sastra Arab; mampu menghafal syair-syair berat karya Imru’u al-Qais, Zuhaer, dan Jarir. Berangkat dari penguasaan sastra ini, mendorong dirinya kian tertarik pada bahasa al-Quran.

Pada saat bersamaan, ia juga tertarik pada ilmu fiqh dan hadits. Maka, sambil menekuni sastra ia pun belajar hadits dari Sufyan bin ‘Uyainah di Mekkah, dilanjutkan pada Imam Malik di Madinah. Berkat kecerdasan otaknya, dalam usia 13 ia sudah hafal kitab gurunya “al-Muwatha”—hal yang jarang didapatkan pada anak sepantaran dia, termasuk orang dewasa sekalipun.

Ilmu fiqhnya, selain berguru langsung pada Imam Malik—hingga sang imam meninggal—ia menimba dari beberapa syaikh lain, termasuk dari Muslim bin Khalid, seorang mufti Mekkah.

Menginjak usia dewasa dan sepeninggal Imam Malik, Muhammad bin Idris yang kemudian lebih dikenal sebagai Imam Syafi’i, ini mengembara ke Yaman. Di wilayah ini ia mengamalkan ilmunya dan menyebarkannya pada orang lain.

Sampai pada suatu hari, saat usianya menginjak 34 tahun ia mendapat fitnah, yakni tuduhan bahwa dirinya telah membai’at ‘Alawy yang Syiah. Atas kebijakan khalifah Harun al-Rasyid-lah dirinya dapat bebas.

Di saat pusat ilmu fiqh berkembang di Baghdad di bawah ulama berpengaruh, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii pun merantau ke sana dan menetap beberapa tahun. Sehingga kekayaan ilmu fiqhnya benar-benar komplit. Ia memiliki pengetahuan mendalam di bidang lughah dan adab, serta di bidang fiqh yang meliputi fiqh ashabul ra’yi dan fiqh ashabul hadits.

Hidup penuh karya

Imam Syafi’i benar-benar telah memenej waktu hidupnya yang terbaik untuk diri, keluarga, dan umat. Semasa hidup ia menorehkan karya-karya monumental, baik dalam bentuk risalah maupun dalam bentuk kitab yang tak kurang dari 100 buah.

Kitab utamanya yang menjadi rujukan ilmu fiqh hingga masa kontemporer adalah al-Umm dan ar-Risalah. Ar-Risalah merupakan karya pertamanya yang ditulis saat ia belia. Kemudian dikembangkan pokok-pokok pikiran dalam kitab itu menjadi al-Umm.

Kitab Risalah ditulis atas permintaan Abdul Rahman bin Mahdy di Mekkah agar terdapat rujukan kitab yang mencakup ilmu tentang arti al-Quran, hal ihwal yang terkandung di dalamnya, nasih dan mansukh, serta hadits. Begitu rampung penyusunan kitab ini, oleh murid-muridnya dibawa ke Mekkah. Lantas di sana diperbanyak hingga membawa kemasyhuran nama Imam Syafii.

Imam Syafii dianggap sebagai pengulas ilmu ushul fiqh dan penggagas asas ilmu ushul fiqh serta yang mengadakan peraturan tertentu bagi ilmu fiqh dan dasar yang tetap dalam membicarakan secara kritis terhadap sunnah, karena di dalam kitab ar-Risalah itu diterangkan kedudukan hadits ahad, qiyas, istihsan, serta perselisihan ulama.

Mula-mula pemikiran Imam Syafii atau kemudian dikenal sebagai mazhab Syafii menyebar dari Irak ke Khurasan, Pakistan, Syam, Yaman, Persia, Hijaz, India, Afrika, serta Andalusia. Laatas berkembang ke pelosok negara-negara berpenduduk muslim, baik di Timur maupun Barat.

Perkembangan mazhabnya yang cepat meluas itu tidak serta merta bebas masalah. Ada sekelompok umat yang—saking fanatiknya—secara perlahan mengkultuskan dirinya. Karena itulah, sejak jauh-jauh hari ia sudah mewanti-wanti pengikutnya agar senantiasa tetap berpegang pada al-Quran dan as-Sunnah dan setiap tindakan (ibadah).

Keterangan tentang kewajiban berpengan pada Kitabullah itu tercantum dalam al-Umm: “Dasar utama dalam menetapkan hukum adalah al-Quran dan as-Sunnah. Jika tidak ada, maka dengan mengqiyaskan kepada al-Quran dan as-Sunnah. Apabila sanad hadits bersambung sampai kepada Rasulullah SAW dan shahih sanadnya, maka itulah yang dikehendaki. Ijma’ sebagai dalil adalah lebih kuat khabar ahad dan hadits menurut zhairnya. Apabila suatu hadits mengandung arti lebih dari satu pengertian, maka arti yang zhairlah yang utama…”

Imam Syafii telah mengabdikan hidupnya di jalan Allah. Ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang laghwi. Prioritas dan urutan segala urusan dimenej dengan sangat baik. Salah satunya, ia biasa membiasakan diri menuliskan rencana tindakan yang akan dilakukannya sesuai skala prioritas.

Sang imam menghadap Ilahi, tak lama setelah menetap di Mesir pada tahun 198 H. Jazadnya dikuburkan di suatu tempat di Qal’ah, yakni Mishrul Qadimah. Umat kehilangan tokoh yang cemerlang otaknya, kuat hafalannya, serta pandai mengatur waktu dalam hidupnya.

Sumber: Islam Pos

Orang yang Berpaling, Hidup Terasa Sempit

Hidup di muka bumi ini tak selamanya memberikan kemudahan dan kesenangan serta kesejahtetaan bagi manusia. Selalu saja ada haling rintang yang akan dihadapi oleh kita. Kita akan merasakan susahnya menjalani hidup. Mengapa seperti itu ya? Apakah manusia diciptakan untuk hidup menderita?

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam keadaan susah payah,” (QS. Al-Balad: 4).

Orang yang tidak ingin mengalami susah payah dan hanya ingin hidup senang adalah orang yang tidak memahami rahasia ciptaan Allah SWT.

Allah SWT menciptakan manusia dengan memberinya unsur kekuatan dan kelebihan, yaitu akal. Nur kekuatan sama seperti hewan tetapi dilebihkan dari makhluk lainnya dengan kemampuan akalnya.

Dengan akal itulah manusia meningkatkan taraf hidupnya, yang tentu saja mengalami berbagai gelombang kehidupan yang harus dapat mereka atasi.

Ini berbeda dengan hewan yang tidak pernah bercita-cita atau berusaha meningkatkan taraf hidupnya. Hewan tidak pernah menginginkan kandang yang mewah dan modern, makanan yang lezat atau mencuri obat untuk menyembuhkan penyakitnya. Ia tidak mau makan tambahan bila sudah merasa kenyang. Bahkan, sisa makanan ditinggalkan dan tidak pernah menyimpannya. Sedangkan manusia, meski sudah kenyang bisa ditawari makanan yang lebih lezat, ia tidak akan menolaknya.

Hewan yang beranak selalu hidup untuk anak-anaknya. Tetapi bila anak-anak itu sudah besar, mereka akan meninggalkan induknya, dan putuslah hubungan mereka. Tugas induk sudah selesai. Rasa kasih sayang yang mengikat mereka pun berakhir. Tidak mempunyai pilihan lain.

Jadi, rasa belas kasihan dan adanya bermacam-macam pilihan yang dihadapi manusia adalah penyebab dari timbulnya susah payah itu. Nah, lalu mengapa Allah menjadikan manusia untuk hidup sengsara, bersusah payah dan bekerja keras?

Maksud kesengsaraan di sini itu apa? Kesengsaraan hati, jiwa, batin atau kesengsaraan jasmani.

Orang-orang yang tidak beriman memang akan mengalami kedua-duanya. Tetapi orang yang beriman selalu ridha, tenang dan tenteram dengan pembagian Allah. Itu satu bukti kebenaran ajaran-Nya.

Jika yang dimaksud kelelahan, kerja keras, susah payah dan hal lainnya, yang menyangkut fisik, hal itu wajar saja. Manusia harus tanggap menghadapi perkembangan dunia, jika dia ingin mencapai kemajuan karena keberhasilan dapat dicapai dengan kerja keras.

Jika ia ingin menyalurkan air dari sumbernya ke rumah-rumah dengan pipa, dia harus bekerja keras, demi kesejahteraan manusia.

Pakar teknologi selalu bekerje keras dan bersusah payah selama bertahun-tahun untuk dapat menghasilkan sesuatu atau mungkin gagal. Kadang mereka tidak sempat memikirkan kepentingan diri sendiri dan keluarganya. Hal itu mereka lakukan demi pengabdiannya kepada manusia. Mereka tidak pernah mengeluh sengsara, merasa bersusah payah, dan sebagainya.

Begitu pun dengan orang-orang yang beriman yang mengabdikan kehidupannya kepada Allah, keluarga, masyakat dan bangsa. Mereka tidak pernah merasakan kesengsaraan dalam hidupnya. Bila suatu saat terjadi musibah dalam hidupnya, dia sudah memiliki kekuatan kesadaran pada batinnya (hatinya) untuk mampu mengatasinya, yaitu kekuatan bimbingan ajaran Allah. Bagi orang yang beriman, kehidupan dunia dengan segala kesenangannya bukanlah tujuan. Mereka yakin benar, jika berpegang erat pada petunjuk Allah, ia tidak akan tersesat dan sengsara (celaka). Hidup yang sempit hanyalah bagi orang yang berpaling dari peringatan-peringatan Allah. []

Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi.

%d bloggers like this: