FAZZAN POST

Khayrunnaas Anfa'u Linnaas

Category: I-Politic

Kenapa Umat Islam Jadi Sasaran Pemusnahan?

FAZZANPOST – Dari Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), beliau berkata:” (Pada suatu hari) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan cemas sambil bersabda, ‘La ilaha illallah, celaka (binasa) bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah terbuka bagian dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti ini’, dan Baginda menemukan ujung ibu jarinya dengan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan.

Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya, ‘Ya Rasulullah! Apakah kami akan binasa, sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shaleh?’ Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak’,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menerangkan, apabila di suatu tempat atau daerah sudah terlalu banyak kejahatan, kemungkaran dan kefasiqan, maka kebinasaan akan menimpa semua orang yang berada di tempat itu. Tidak hanya kepada orang jahat saja, tetapi orang-orang shaleh juga akan dibinasakan, walaupun masing-masing pada hari qiamat akan diperhitungkan menurut amalan yang telah dilakukan.

Oleh karena itu segala bentuk kemungkaran dan kefasiqan hendaklah segera dibasrni, dan segala kemaksiatan hendaklah segera dirnusnahkan, supaya tidak terjadi malapetaka yang bukan saja akan menimpa orang-orang yang melakukan kernungkaran dan kejahatan tersebut, tetapi juga menimpa semua penduduk yang berada di tempat itu.

Dalam hadits di atas walaupun disebutkan secara khusus tentang bangsa Arab tetapi yang dimaksudkan adalah seluruh bangsa yang ada di dunia ini. Tujuan disebutkan bangsa Arab secara khusus karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri dari kalangan mereka, dan yang menerima Islam pada waktu permulaan pengembangannya adalah kebanyakan dari kalangan bangsa Arab dan sedikit demi sedikit dari bangsa lain.

Begitu pula halnya dalam masalah yang berkaitan dengan perkembangan umat Islam banyak bergantung kepada maju-mundurnya bangsa Arab itu sendiri. Selain itu, bahasa resmi Islam adalah bahasa Arab. Kemudian Ya’juj dan MaJuj adalah dua bangsa (dari keturunan Nabi Adam As.) yang dahulunya banyak mernbuat kerusakan di permukaan bumi, lalu batas daerah dan kediaman mereka ditutup oleh Zul Qarnain dan pengikut-pengikutnya dengan campuran besi dan tembaga, maka dengan itu mereka tidak dapat keluar, sehingga hampir tiba hari qiamat.

Maka pada waktu itu dinding yang kuat tadi akan hancur dan keluarlah kedua bangsa itu dari kediaman mereka, lalu kembali membuat kerusakan di permukaan bumi. Apabila peristiwa ini telah terjadi, itulah tanda hari qiamat sudah dekat.

Advertisements

Ini Kaum yang Digunting Bibirnya di Akhir Zaman

FAZZANPOST – Menjadi seorang pemimpin bagi suatu kaum bukanlah perkara yang mudah. Karena seorang pemimpin haruslah mengutamakan kepentingan rakyatnya di samping kepentingannya sendiri.

Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas segala kebutuhan masyarakatnya selain bertanggung jawab atas kebutuhah keluarganya. Demikianlah, seorang pemimpin yang sejati harus amanah atas jabatannya.

Akan tetapi pada masa ini, hanya sedikit pemimpin yang demikian itu. Kebanyakan pemimpin saat ini lebih mementingkan keluarga dan kelompoknya dibandingkan dengan rakyatnya yang jelas-jelas diamanahkan kepadanya. Dan kepada mereka para pemimpin yang tidak amanah ini telah diwartakan balasan yang akan mereka terima di akhirat kelak.

Nabi pernah bersabda, “Saat malam Isra Mi’raj tiba, aku lihat ada manusia. Mereka digunting bibirnya. Kepada Jibril aku bertanya, ‘Siapakah mereka?’ Jibril berkata, ‘Merekalah pemimpin-pemimpin umatmu. Mereka anjurkan orang lain berbuat baik, namun lupa diri sendiri. Mereka membaca kitab Al-Qur’an, tapi tak memperhatikan, tak pula mengamalkan’.”

Di dunia ini, kita akan mendapati banyak pemimpin yang tidak ada kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Mereka menganjurkan untuk berbuat sesuatu namun mereka sendiri melanggarnya. Kata-kata mereka di muka umum sungguh baik dan terdengar bijak. Tapi di sisi lain akhlak dan kelakuan mereka buruk. Kekuasaan telah mereka manfaatkan untuk menutupi kekurangan diri dan kejelekan sifat dengan cara kasar maupun halus.

Sering kita dapati bahwa pemerintahan suatu negara menggelar perlombaan membaca Al-Qur’an. Mereka menikmati alunan indahnya para qari’ membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Namun mereka lupa, bahkan dengan sengaja tidak mengamalkannya. Lebih dari itu, orang-orang yang berusaha mengamalkan Al-Qur’an dengan benar dan konsisten dia tangkap dan disiksa karena menghambat kepentingannya. Ironis memang.

Di antara kejelekan sifat mereka pula adalah menerapkan hukum hanya kepada golongan tertentu, yaitu kalangan bawah. Kalau hukum itu menyangkut dirinya, keluarganya dan orang-orang terdekatnya maka seketika menjadi tidak berfungsi. Sementara kalau rakyat kecil yang melakukan kesalahan dengan tugas dia terpakan hukum itu. Inilah yang akan menjadi penyebab kehancuran suatu negeri karena pemimpinnya yang demikian. Padalah Rasulullah SAW sudah memberikan contoh dengan sabdanya bahwa kalaulah Fatimah putrinya tercinta mencuri maka beliau tetap akan menerapkan hukum potong tangan kepadanya. Begitulah seharusnya seorang pemimpin.

Pemimpin yang dijumapai Rasulullah SAW dalam malam Isra Mi’raj sangat dapat dengan mudah kita jumpai saat ini. Maka ketahuilah ancaman Allah SWT ini, bahwa kelak di neraka bibir mereka akan digunting karena kebusukan mulut mereka.

Kisah Penghina al-Qur’an yang Dihukum Mati

FAZZANPOST – Kala Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin terhadap pengalamannya pernah diminta untuk menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan bahwa ternyata Nabi Muhammad itu dapat “dibodohi”. Dia mengatakan, “Ketika Muhammad mengimlakan kepadaku ayat “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja.”

Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghinakan Al-Quran sekaligus mencemooh Nabi Muhammad ﷺ disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah.

Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah ﷺ memiliki hukum tersendiri di dalam Islam.Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota Makkah yang lebih dikenal dengan istilah Fath Makkah. Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan terhadap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin puluhan tahun yang lalu.

Rasulullah ﷺ memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah. Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Islam yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja. Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap Al-Quran?

Rasulullah ﷺ dengan tegasnya memerintahkan para pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. Rasulullah ﷺ menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati sekalipun mereka bergantung di sisi Ka’bah.

Pemimpin Perempuan Dalam Islam

FAZZANPOST – Di Indonesia wacana hukum Islam tentang boleh tidaknya wanita menduduki jabatan publik, baik tingkat tertinggi maupun dalam level yang lebih rendah muncul relatif baru. Topik ini mulai mengemuka pasca era Reformasi. Tepatnya, sejak tahun 2001, yakni saat lengsernya Abdurrahman “Gus Dur” Wahid dari tahta kepresidenan dan naiknya Megawati Sukarnoputri menjadi presiden wanita pertama di Indonesia.[1] Di negara muslim lain, fenomena kepala negara wanita sudah pernah dan sedang terjadi yaitu di Pakistan dan Bangladesh. Perdana Menteri (PM) Benazir Bhutto menjadi Kepala Negara Pakistan dua periode yang pertama pada tahun 1988-1990 dan yang kedua pada tahun 1993-1996.[2] Bangladesh, negara yang memisahkan diri dari Pakistan pada 1971, dipimpin oleh dua kepala negara wanita yaitu Khaleda Zia (1991-2006) dan Sheikh Hasina.yang berkuasa dua periode yakni tahun 1996-2001 dan 2009-sampai sekarang.[3]

Kontroversi pemimpin perempuan sebenarnya sudah mulai berhembus jauh sebelum pemilu 1999. Pro kontra ini berasal dari berbagai lapisan masyarat mulai dari politisi partai yang berbasis Islam maupun dari kalangan non-partai termasuk akademisi, aktivis ormas Islam, bahkan kalangan santri yang secara kultural berafiliasi ke NU (Nahdlatul Ulama). Hal ini dapat dimaklumi karena masalah kepemimpinan perempuan mencakup banyak dimensi: politis, sosiologis, budaya, ideologis. Termasuk di antaranya adalah dimensi syariah. Tulisan ini akan memfokuskan pembahasan dari aspek hukum syariah, suatu sudut pandang yang paling menjadi perhatian kalangan santri khususnya dan umat Islam secara umum.

Pembagian Al-Wilayah

Level kepemimpinan dan dalam bahasa Arab disebut al wilayah yang secara etimologis berarti.suatu negara yang diatur oleh kepala pemerintahan. Al-Wilayah juga bermakna penguasa atau pejabat negara itu sendiri.[4] Secara istilah al-wilayah terbagi menjadi tiga yaitu al-wilayah al-udzma al-kubro, al-wilayah al-ammah dan al-wilayah as-sughro al-khassah. Al-wilayah al-ammah bermakna “jabatan yang memiliki otoritas untuk melaksanakan tiga jabatan yaitu eksekutif (tanfidziyah), yudikatif (qadhaiyah) dan legislatif (tashri’iyah).”[5]

Yang dimaksud al-wilayah al-udzma al-kubro yaitu wilayah negara yang dipimpin oleh kepala pemerintahan yang sekarang disebut dengan presiden, perdana menteri, kanselir, atau raja. Namun, ada juga perbedaan penafsiran dalam mendefinisikan kata al-wilayah al-udzma al-kubro dan al-wilayah as-sughro. Ada pandangan yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan al-wilayah al-kubro adalah kekuasaan khilafah yang mencakup seluruh negara Islam di seluruh dunia yang pemimpinnya disebut dengan al-imamah al-udzma.[6] Dalam pengertian ini, maka sebenarnya al-imam al-udzma atau al-khilafah al-ammah yang menjadi pemimpin tertinggi dalam al-wilayah al-udzma saat ini pada dasarnya tidak ada. Yang ada saat ini adalah kepala negara dalam level al-wilayah as-sughra.[7] Pandangan ini dianut oleh banyak ulama kontemporer seperti Yusuf Qardhawi, Tantawi, dan Ali Jumah. Sedang al-wilayah as-sughro hanya terbatas pada satu negara Islam di antara negara-negara Islam yang lain.

Dalam konteks pemahaman seperti di atas, Qardawi menyatakan:

ولكن هناك إجماعًا للفقهاء على أن المرأة لا تصلح للخلافة العامة، أو الإمامة العظمى، والتي هي خلافة المسلمين جميعًا، ولكن هل الرئاسة الإقليمية في الدول القطرية الحالية تدخل في الخلافة، أم أنها أشبه بولاية الأقاليم قديمًا.

(Ulama fiqih sepakat [ijmak] bahwa perempuan tidak pantas menduduki jabatan Al-Khilafah al-Ammah atau Al-Imamah Al-Udzma yaitu pemimpin seluruh umat Islam dunia. Akan tetapi apakah kepala negara dalam level lokal dan regional seperti saat ini masuk dalam kategori al-khilafah atau serupa dengan kepala daerah pada zaman dulu?).[8]

Terlepas dari itu, Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyah membagi kekusaan al-wilayah al-ammah yang berada di bawah kepala negara (al-wilayah al-kubro) ke dalam empat bagian:

فالقسم الأول: من تكون ولايته عامة في الأعمال العامة، وهم الوزراء، لأنهم يُستَنابون في جميع الأمور من غير تخصيص. والقسم الثاني: من تكون ولايته عامة في أعمال خاصة، وهم: أمراء الأقاليم والبلدان؛ لأن النظر فيما خصوا به من الأعمال، عام في جميع الأمور. والقسم الثالث: من تكون ولايته خاصة في الأعمال العامة، وهم كقاضي القضاة، ونقيب الجيوش، وحامي الثغور، ومستوفي الخراج، وجابي الصدقات؛ لأن كل واحد منهم مقصور على نظر خاص في جميع الأعمال. والقسم الرابع: من تكون ولايته خاصة في الأعمال الخاصة، وهم: كقاضي بلد، أو إقليم، أو مستوفي خراجه، أو جابي صدقاته، أو حامي ثغره، أو نقيب جند؛ لأن كل واحد منهم خاص النظر، مخصوص العمل

(Bagian pertama, orang yang kekuasaannya umum dalam urusan umum. Mereka adalah para menteri karena mereka bertanggung jawab atas semua perkara tanpa kekhususan. Kedua, pejabat yang kekuasaannya umum dalam tugas-tugas khusus. Mereka adalah pejabat daerah dan kota, karena melihat pada tugas yang dikhususkan pada mereka itu umum dalam segala urusan. Ketiga, pejabat yang kekuasaannya khusus dalam urusan yang umum. Mereka seperti hakim, komandan tentara, penarik pajak dan zakat. Keempat, pejabat yang tugasnya khusus untuk urusan khusus. Seperti hakim kota atau daerah, penarik pejak atau zakat, penegak hukum, dan lain-lain. Karena masing-masing memiliki pengawasan khusus dan tugas khusus).[9]

Titik Kontroversi Kepemimpinan Perempuan

Terjadinya pro dan kontra dalam soal pemimpin wanita dalam Islam berasal dari perbedaan ulama dalam menafsiri sejumlah teks baik dari Al-Quran maupun hadits. Beberapa nash yang menjadi ajang perbedaan penafsiran antara lain::

QS An Nisa 4:34 Allah berfirman “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),…”[10]
QS Al Ahzab 33:33 Allah berfirman: “dan hendaklah kamu (perempuan) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.”[11]
QS Al-Ahzab 33:53 Allah berfirman: “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”[12]
QS Al-Baqarah 4:282 Allah berfirman: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai.”[13]
QS At Taubah 9:71 Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.”[14]
QS An-Naml ayat 27:23-44 (kisah tentang dan pujian Allah terhadap Ratu Balqis).
Hadits Nabi: “Wanita adalah saudara dari laki-laki.”[15]
Hadits Nabi: “Allah mengizinkan kalian perempuan keluar rumah untuk memenuhi kebutuhanmu.”[16]
Aisyah memimpin tentara laki-laki dalam perang Jamal.
Umar bin Khattab mengangkat wanita bernama As-Syifa sebagai akuntan pasar.[17]
Hadits sahih riwayat Bukhari dari Abu Bakrah, Nabi bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada wanita.”[18]
Teks hadits dari Abu Bakrah dan QS An Nisa 4:34 menjadi alasan paling mendasar dari kalangan ulama yang mensyaratkan kepemimpinan harus di tangan laki-laki dan menolak atas bolehnya peran wanita menduduki posisi tersebut. Sedangkan kisah Ratu Balqis dalam QS An-Naml 27:23-44, dan QS At Taubat 9:71 serta hadits ““Wanita adalah saudara dari laki-laki.” menjadi argumen dasar ulama yang membolehkan pemimpin perempuan.

Pandangan yang Mengharamkan Pemimpin Wanita

Pendapat yang mengharamkan kepala negara perempuan mendasarkan argumennya terutama pada QS An Nisa 4:34 dan hadits dari Abu Bakrah di atas. Dari kedua nash tersebut kalangan ahli fiqih salaf, termasuk madzah empat berpendapat bahwa al-imam harus dipegang seorang laki-laki dan tidak boleh diduduki seorang perempuan. Ibnu Katsir, misalnya, dalam Tafsir Ibnu Katsir dalam menafsiri QS An-Nisa 4:34 menyatakan:

الرجل قيم على المرأة، أي هو رئيسها وكبيرها والحاكم عليها ومؤدبها إذا اعوجت. “بما فضَّل اللّه بعضهم على بعض” أي: لأن الرجال أفضل من النساء، والرجل خير من المرأة، ولهذا كانت النبوة مختصة بالرجال، وكذلك المُلك الأعظم؛ لقوله صلى اللّه عليه وسلم: “لن يفلح قوم ولَّو أمرهم امرأة” رواه البخاري، وكذا منصب القضاء وغير ذلك “وبما أنفقوا من أموالهم” أي: من المهور والنفقات… فناسب أن يكون قيماً عليها كما قال اللّه _تعالى: “وللرجال عليهن درجة” الآية، وقال ابن عباس: “الرجال قوامون على النساء” يعني أمراء عليهن، أي تطيعه فيما أمرها اللّه به من طاعته…)

(Laki-laki adalah pemimpin wanita … karena laki-laki lebih utama dari perempuan. Itulab sebabnya kenabian dikhususkan bagi laki-laki begitu juga raja yang agung; … begitu juga posisi jabatan hakim dan lainnya… Ibnu Abbas berkata “Laki-laki pemimpin wanita” maksudnya sebagai amir yang harus ditaati oleh wanita).[19]

Ar-Razi dalam Tafsir Ar-Razi sependapat dengan pandangan Ibnu Katsir:

واعلم أن فضل الرجل على النساء حاصل من وجوه كثيرة، بعضها صفات حقيقة، وبعضها أحكام شرعية وفيهم الإمامة الكبرى والصغرى والجهاد والأذان والخطبة والاعتكاف والشهادة في الحدود والقصاص بالاتفاق

(Keutamaan laki-laki atas wanita timbul dari banyak sisi. Sebagian berupa sifat-sifat faktual sedang sebagian yang lain berupa hukum syariah seperti al-imamah as-kubro dan al-imamah as-sughro, jihad, adzan, dan lain-lain).[20]

Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu mengutip ijmak-nya ulama bahwa salah satu syarat menjadi imam adalah laki-laki (dzukuroh):

وأما الذكورة فلأن عبء المنصب يتطلب قدرة كبيرة لا تتحملها المرأة عادة، ولا تتحمل المسؤولية المترتبة على هذه الوظيفة في السلم والحرب والظروف الخطيرة، قال صلّى الله عليه وسلم : «لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة» (2) لذا أجمع الفقهاء على كون الإمام ذكراً.

(Adapun laki-laki [sebagai syarat jabatan al-imam] karena beban pekerjaan menuntut kemampuan besar yang umumnya tidak dapat ditanggung wanita. Wanita juga tidak sanggup mengemban tanggung jawab yang timbul atas jabatan ini dalam masa damai atau perang dan situasi berbahaya. Nabi bersabda: ‘Tidak akan berjaya suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada wanita’ Oleh karena itu, ulama fiqih sepakat bahwa jabatan Imam harus laki-laki).[21] Tentu saja yang dimaksud al-imam di sini adalah al-imam al-udzma atau al-khalifah al-ammah yang mengepalai muslim dunia.

Namun, menurut Wahab Zuhaili, dalam masalah jabatan qadhi atau hakim, terdapat perbedaan ulama fiqih apakah wajib laki-laki atau perempuan juga boleh menempati posisi ini:

اتفق أئمة المذاهب على أن القاضي يشترط فيه أن يكون عاقلاً بالغاً حراً مسلماً سميعاً بصيراً ناطقاً، واختلفوا في اشتراط العدالة، والذكورة

(Imam madzhab sepakat bahwa syarat bagi qadhi adalah berakal sehat, baligh, merdeka, muslim, tidak tuli, tidak buta, tidak bisu. Mereka berbeda pendapat dalam syarat adil dan laki-laki).[22]

Ulama yang membolehkan wanita menduduki jabatan qadhi atau hakim antara lain Abu Hanifah, Ibnu Hazm dan Ibnu Jarir at-Tabari. Ibnu Rushd memerinci perbedaan pendapat ini dalam kitab Bidayatul Mujtahid:

وكذلك اختلفوا في اشتراط الذكورة: فقال الجمهور: هي شرط في صحة الحكم، وقال أبو حنيفة يجوز أن تكون المرأة قاضيا في الأموال. قال الطبري : يجوز أن تكون المرأة حاكماعلى الإطلاق في كل شيء

(Ulama berbeda pendapat tentang disyaratkannya laki-laki sebagai hakim. Jumhur mengatakan: ia menjadi syarat sahnya putusan hukum. Abu Hanifah berkata: boleh wanita menjadi qadhi dalam masalah harta. At-Tabari berkata: Wanita boleh menjadi hakim secara mutlak dalam segala hal).[23]

Sementara itu, kalangan ulama kontemporer yang mengharamkan kepemimpinan wanita dipelopori oleh ulama Wahabi. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz[24] menyatakan dalam fatwanya bahwa wanita dilarang menduduki jabatan tinggi apapun dalam pemerintahan:

تولية المرأة واختيارها للرئاسة العامة للمسلمين لا يجوز، وقد دل الكتاب والسنة والإجماع على ذلك ، فمن الكتاب : قوله تعالى : { الرجال قوَّامون على النساء بما فضَّل الله بعضهم على بعض ، والحكم في الآية عام شامل لولاية الرجل وقوامته في أسرته ، وكذا في الرئاسة العامة من باب أولى ، ويؤكد هذا الحكم ورود التعليل في الآية ، وهو أفضلية العقل والرأي وغيرهما من مؤهلات الحكم والرئاسة . ومن السنَّة : قوله صلى الله عليه وسلم لما ولَّى الفرسُ ابنةَ كسرى : ( لن يفلح قومٌ ولَّوا أمرَهم امرأة ) ، رواه البخاري ولا شك أن هذا الحديث يدل على تحريم تولية المرأة لإمرة عامة ، وكذا توليتها إمرة إقليم أو بلد ؛ لأن ذلك كله له صفة العموم ، وقد نفى الرسول صلى الله عليه وسلم الفلاح عمَّن ولاها ، والفلاح هو الظفر والفوز بالخير .

(Kepemimpinan wanita untuk riasah ammah lil muslimin itu tidak boleh. Quran, hadits dan ijmak sudah menunjukkan hal itu. Dalil dari Al-Quran adalah QS An-Nisa 4:34. Hukum dalam ayat tersebut mencakup kekuasaan laki-laki dan kepemimpinannya dalam keluarga. Apalagi dalam wilayah publik… Adapun dalil hadits adalah sabda Nabi “Suatu kaum tidak akan berjaya apabila diperintah oleh perempuan.” Tidak diragukan lagi bahwa hadits ini menunjukkan haramnya kepemimpinan perempuan pada otoritas umum atau otoritas kawasan khusus. Karena semua itu memiliki sifat yang umum. Rasulullah telah menegasikan kejayaan dalam suatu negara yang dipimpin perempuan).[25]

Fatwa Bin Baz di atas tidak membedakan antara riasah ammah yakni al-khilafah al-ammah dengan al-wilayah al-khassah. Juga, semua posisi jabatan tinggi seperti hakim, menteri, gubernur, dan semua posisi yang membawahi laki-laki haram hukumnya diduduki oleh perempuan.

Pandangan yang Membolehkan Pemimpin Wanita

Dr. Muhammad Sayid Thanthawi, Syaikh Al-Azhar dan Mufti Besar Mesir,[26] menyatakan bahwa kepemimpinan wanita dalam posisi jabatan apapun tidak bertentangan dengan syariah. Baik sebagai kepala negara (al-wilayah al-udzma) maupun posisi jabatan di bawahnya. Dalam fatwanya yang dikutip majalah Ad-Din wal Hayat, Tantawi menegaskan:

ان تولي المرأة رئاسة الدولة لا يخالف الشريعة الإسلامية لأن القرآن الكريم أشاد بتولي المرأة لهذا المنصب في الآيات التي ذكرها المولى عز وجل عن ملكة سبأ وأنه إذا كان ذلك يخالف الشريعة الإسلامية لبين القرآن الكريم ذلك في هذه القصة وحول نص حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم : (لم يفلح قوم ولو أمرهم امرأة )، قال طنطاوي ان هذا الحديث خاص بواقعة معينة وهي دولة الفرس ولم يذكره الرسول صلى الله عليه وسلم على سبيل التعميم.: فللمرأة أن تتولى رئاسة الدولة والقاضية والوزيرة والسفيرة وان تصبح عضوا في المجالس التشريعية إلا أنه لا يجوز لها مطلقا أن تتولى منصب شيخ الأزهر لأن هذا المنصب خاص بالرجال فقط لأنه يحتم على صاحبه إمامة المسلمين للصلاة وهذا لا يجوز شرعا للمرأة.)

(Wanita yang menduduki posisi jabatan kepala negara tidaklah bertentangan dengan syariah karena Al-Quran memuji wanita yang menempati posisi ini dalam sejumlah ayat tentang Ratu Balqis dari Saba.[27] Dan bahwasanya apabila hal itu bertentangan dengan syariah, maka niscaya Al-Quran akan menjelaskan hal tersebut dalam kisah ini. Adapun tentang sabda Nabi bahwa “Suatu kaum tidak akan berjaya apabila diperintah oleh wanita” Tantawi berkata: bahwa hadits ini khusus untuk peristiwa tertentu yakni kerajaan Farsi dan Nabi tidak menyebutnya secara umum. Oleh karena itu, maka wanita boleh menduduki jabatan sebagai kepala negara, hakim, menteri, duta besar, dan menjadi anggota lembaga legislatif. Hanya saja perempuan tidak boleh menduduki jabatan Syaikh Al-Azhar karena jabatan ini khusus bagi laki-laki saja karena ia berkewajiban menjadi imam shalat yang secara syariah tidak boleh bagi wanita).[28]

Pendapat ini disetujui oleh Yusuf Qardhawi. Ia menegaskan bahwa perempuan berhak menduduki jabatan kepala negara (riasah daulah), mufti, anggota parlemen, hak memilih dan dipilih atau posisi apapun dalam pemerintahan ataupun bekerja di sektor swasta karena sikap Islam dalam soal ini jelas bahwa wanita itu memiliki kemampuan sempurna (tamam al ahliyah).[29] Menurut Qaradawi tidak ada satupun nash Quran dan hadits yang melarang wanita untuk menduduki jabatan apapun dalam pemerintahan. Namun, ia mengingatkan bahwa wanita yang bekerja di luar rumah harus mengikuti aturan yang telah ditentukan syariah seperti a) tidak boleh ada khalwat (berduaan dalam ruangan tertutup) dengan lawan jenis bukan mahram, 2) tidak boleh melupakan tugas utamanya sebagai seorang ibu yang mendidik anak-anaknya, dan 3) harus tetap menjaga perilaku islami dalam berpakaian, berkata, berperilaku, dan lain-lain.[30]

Ali Jumah Muhammad Abdul Wahab, mufti Mesir saat ini[31], termasuk di antara ulama berpengaruh yang membolehkan wanita menjadi kepala negara dan jabatan tinggi apapun seperti hakim, menteri, anggota DPR, dan lain-lain. Namun, ia sepakat dengan Yusuf Qardhawi bahwa kedudukan Al-Imamah Al-Udzma yang membawahi seluruh umat Islam dunia harus dipegang oleh laki-laki karena salah satu tugasnya adalah menjadi imam shalat.[32]

Ali Jumah menyatakan bahwa kepemimpinan wanita dalam berbagai posisi sudah sering terjadi dalam sejarah Islam. Tak kurang dari 90 perempuan yang pernah menjabat sebagai hakim dan kepala daerah terutama di era Khilafah Utsmaniyah. Bagi Jumah, keputusan wanita untuk menempati jabatan publik adalah keputusan pribadi antara dirinya dan suaminya.[33]

Syarat Perempuan Bekerja di Luar Rumah

Bolehnya perempuan menduduki posisi penting di lembaga pemerintahan – dari kepala negara sampai ketua RT– maupun di sektor swasta bukan tanpa syarat. Islam membuat aturan-aturan yang harus ditaati atas setiap langkah yang dilakukan oleh setiap muslim dan muslimah. Dalam hal ini, Qardawi menyatakan ada tiga syarat yang harus dipenuhi wanita yang bekerja di luar rumah:

أولاً أن يكون العمل مشروعًا، فلا يجوز أن تعمل المرأة في عمل غير مشروع، كما لا يجوز للرجل أن يعمل في عمل غير مشروع، ولكن توجد أشياء تجوز للرجل ولا تجوز للمرأة، فلا يجوز أن تعمل راقصة مثلاً، ولا يجوز أن تعمل سكرتيرة خاصة لرجل يغلق عليها مكتب، وتضاء لمبة حمراء؛ فلا يجوز الدخول، لأن خلوة المرأة بالرجل بلا زوج ولا محرم، محرمة بيقين وبالإجماع.

الأمر الثاني: هو ألا يكون هذا العمل منافيًا لوظيفتها الأساسية في مملكتها الأساسية كما تقول، فعملها الأول أنها زوجة تؤدي حقوق الزوجية، وأم تؤدي حقوق الأولاد، فإذا كان هذا العمل سيتعارض تمامًا مع ذلك، فهذا لا يقبل بحال.

الأمر الثالث: أن تلتزم بالآداب الإسلامية، مثل آداب الخروج واللبس والمشي والكلام والحركة، فلا يجوز أن تخرج متبرجة، ولا يجوز أن تخرج متعطرة ليشم الرجال ريحها، ولا يجوز أن تمشي كما قال تعالى: (ولايضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن) أي تلبس حذاء بكعب عال وتضرب به في الأرض كأنها تقول للناس: “خذوا بالكم”، كما لا يجوز الكلام إلا بالمعروف (ولا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض وقلنا قولًا معروفًا) فهذه آداب يجب أن تراعيها إذا قامت بعملها هذا.

(Pertama, pekerjaan itu tidak dilarang syariah. Wanita tidak boleh melakukan pekerjaan yang dilarang syariah sebagaimana hal itu tidak boleh bagi laki-laki. Akan tetapi ada juga jenis pekerjaan yang boleh bagi laki-laki tapi tidak boleh bagi perempuan. Misalnya, wanita tidak boleh menjadi penari, atau sekretaris pribadi bagi laki-laki yang berada di dalam kamar tertutup. Karena wanita yang khalwat [berduaan dalam ruangan tertutup] dengan lelaki lain tanpa ditemani suami atau mahram adalah haram secara pasti menurut ijmak ulama.

Kedua, pekerjaan yang dilakukan hendaknya tidak meniadakan tugas wanita yang utama yaitu sebagai istri dengan melaksanakan hak-hak rumah tangga dan sebagai ibu dalam memenuhi hak-hak anak. Sekiranya pekerjaan tersebut akan mengganggu tugas-tugas utamanya, maka itu tidak bisa diterima.

Ketiga, berpegang teguh pada etika Islam. Seperti tata cara keluar rumah, berpakaian, berjalan, berbicara, dan menjaga gerak-geriknya. Oleh karena itu, wanita tidak boleh keluar tanpa mengenakan busana muslim, atau memakai parfum supaya wanginya tercium laki-laki. Dan tidak boleh berjalan dengan gaya jalan seperti yang digambarkan Allah dalam QS An-Nur 24:31 “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”[34] Sebagaimana tidak dibolehkan berbicara kecuali untuk kebaikan seperti disebut dalam QS Al-Ahzab 33:32 “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”[35] Inilah etika prinsip yang harus dijaga oleh wanita yang bekerja di luar rumah.)[36]

Kesimpulan

Terdapat kesepakatan ulama fiqih (ijmak) dari keempat madzhab dan lainnya, salaf dan kontemporer, bahwa perempuan tidak boleh menduduki jabatan al-khilafah al-ammah atau al-imamah al-udzma. Namun, ada perbedaan pandangan tentang definisi kedua istilah ini. Mayoritas memaknai kata al-khilafah al-ammah atau al-imamah al-udzma sebagai kepala negara yang membawahi wilayah Islam di seluruh dunia seperti yang terjadi pada zaman empat khalifah pertama (khulafaur rasyidin), masa khilafah Abbasiyah dan Umayyah. Ulama fiqih klasik umumnya juga tidak membolehkan perempuan menjadi hakim, kecuali Abu Hanifah, Ibnu Hazm dan Ibnu Jarir At-Tabari yang membolehkan wanita menduduki posisi apapun. Pandangan ketiga ulama terakhir ini menjadi salah satu alasan ulama kontemporer atas bolehnya wanita menjabat posisi apapun asal memenuhi syarat.

Bagi kalangan yang mengharamkan kepala negara wanita, setiap negara muslim saat ini termasuk dalam kategori al-wilayah al-ammah yang pemimpinnya disebut al-imamah al-udzma. Oleh karena itu, perempuan tidak boleh menduduki posisi ini. Bagi ulama yang membolehkan, seperti Tantawi, Yusuf Qardawi dan Ali Jumah, masing-masing negara yang ada saat ini adalah salah satu bagian wilayah alias al-wilayah al-khassah – bukan al-wilayah al-ammah — dan karena itu boleh dipimpin oleh perempuan termasuk posisi jabatan lain yang berada di bawahnya seperti hakim, menteri, gubernur, DPR, dan lain-lain.

Di antara kedua pendapat di atas, ada pandangan yang ekstrim yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh menduduki posisi jabatan apapun yang membawahi laki-laki dengan argumen QS An-Nisa 4:34 dan hadits Abu Bakrah. Pendapat ini berasal dari ulama Wahabi Arab Saudi dan didukung oleh hampir semua kalangan yang pro dengan mereka.[]

Endnote:

[1] Adrian Vickers, A History of Modern Indonesia, (Cambridge University Press:2013).
[2] Libby Hughes, Benazir Bhutto: From Prison to Prime Minister, (Universe: 2000).
[3] Willem van Schendel, A History of Bangladesh, (Cambridge University Press 2009).
[4] Al-Mukjam Al-Wasith. Teks asal: و الوِلاَيةُ البلادُ التي يتسلَّط عليها الوالي. Dalam kamus Ar-Raid, kata al-wilayah bisa bermakna wali yakni penugasa yang mengatur negara: Tiga makna wilyah: 1- ولي الشيء أو عليه : قام به وملك أمره . 2 – وليه أو عليه : نصره ، ساعده . 3 – ولي البلد : حكمه وأدار شؤونه .
[5] القيام بعمل من أعمال السلطات الثلاث : التشريعية ، والتنفيذية ، والقضائية
[6] Sebagaimana yang terjadi dahulu pada zaman Khulafaur Rasyidin dan juga seperti yang diimpikan dan dicita-citakan oleh gerakan Hizbut Tahrir.
[7] Diskursus tentang ini lihat Ibnu Taimiyah dalam Al-Wilayah as-Siyasiyah al-Kubro fil Islam.
[8] Yusuf Qardhawi, “للمرأة تولي الإفتاء والقضاء ورئاسة الدولة” Link: http://goo.gl/P3k8Nt
[9] Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sultaniyah, hlm. 31.
[10] Teks asal: الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض
[11] Teks asal: وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى
[12] QS Al-Ahzab 33:53 : وإذا سألتموهن متاعاً فاسألوهن من وراء حجاب ذلكم أطهر لقلوبكم وقلوبهن
[13] QS Al-Baqarah 4:282 : واستشهدوا شهيدين من رجالكم فإن لم يكونا رجلين فرجل وامرأتان
[14] QS At-Taubah 9:71 والمؤمنون والمؤمنات بعضهم من بعض يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر
[15] Hadits riwayat Abu Daud nomor 236. Lihat juga, Ahmad dalam Musnad-nya no. 26238; Abu Ya’la dalam Musnad-nya no. 4694; Tirmidzi dalam Al-Jamik no. 113; Daruqutni dalam As-Sunnah no. 481; Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa no. 90; Tusi dalam Al Mustakhraj no. 324; Baihaqi dalam Sunan al-Kubro no. 767. Teks asal: إنما النساء شقائق الرجال
[16] Hadits dalam Sahih Bukhari: قد أذن لكن أن تخرجن لحوائجكن
[17] Hadits riwayat Yazid bin Abi Hubaib terdapat dalam Al-Isabah li-Ibni Hajar, hlm. VII/728. Teks hadits: أن عمر رضي الله عنه استعمل الشِّفَاء على السوق. قال: ولا نعلم امرأة استعملها غير هذه عن يزيد بن أبي حبيب . Namun hadits ini dianggap tidak sahih oleh Ibnu Arabi dalam Ahkam al-Quran, hlm III/482.
[18] Sahih Bukhari hadits no. 4425; Sunan Nasai VIII/227. Teks asal: لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة
[19] Ismail bin Umar Ad-Dimashqi, Tafsir Ibnu Katsir, hlm. II/293-293.
[20] Tafsir Al-Fakhrur Razi, hlm. I/88
[21] Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, hlm. 8/302.
[22] Ibid, hlm. 8/80.
[23] Ibnu Rashd, dalam Bidayatul Mujtahid, hlm. IV/1768.
[24] Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz adalah mufti kerajaan Arab Saudi yang berfaham ideologi Wahabi dan bermadzhab fiqih Hanbali.
[25] Abdullah bin Abdul Azin bin Baz, Majmuk Fatawa Ibn Baz, no. fatwa: 30461, hlm. I/424. Pendapat serupa juga dapat dilihat pada Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, no. fatwa: 11780, hlm. XVII/ 13.
[26] Menjabat sebagai Mufti Besar Mesir pada tahun 1986-1996, menjadi Imam Masjid Al-Azhar dan Syeikh Al-Azhar pada 1996.
[27] Kisah Ratu Balqis atau Ratu Saba terdapat dalam QS An-Naml 27:23-44.
[28] Harian Okaz Arab Saudi, edisi 28 Muharram 1429, hlm. 39 mengutip dari majalah Ad-Din wal Hayat Mesir.
[29] Fatwa Qardawi pada suatu program “Fiqh al-Hayat” yang diadakan tanggal 29 Agustus 2009. Fatwa serupa juga ditulis di kitabnya Fatawa Muashirah. Juga dimuat di situs resminya: http://goo.gl/P3k8Nt
[30] Qardhawi, Op.Cit. Lihat “Syarat Perempuan Bekerja di Luar Rumah” dalam tulisan ini.
[31] Mufti Besar Mesir sejak 2013 sampai saat ini (2013).
[32] Fatwanya dimuat di harian Al-Jumhuriyah Mesir, edisi 28 Januari 2007.
[33] Ibid.
[34] QS An-Nur 24:31 ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن
[35] QS Al-Ahzab 33:32 فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض وقلن قولا معروفا
[36] Qardawi, Op.Cit

Haram Memilih Pemimpin Kafir?

Mana yang lebih baik, pemimpin kafir tapi adil atau pemimpin muslim tapi dzalim & koruptor?

Apakah memilih pemimpin kafir itu boleh? Mengapa ada pendapat yang membolehkan? Tapi mengapa banyak yang mengharamkan? Nah, bagaimana seharusnya? Saya mencoba menelaah beberapa pendapat. Semoga tulisan di bawah ini dapat meneguhkan hati orang-orang yang beriman dan tidak tergoyahkan oleh mereka yang hatinya condong kepada kesesatan & kemunafikan.

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’: 59).

Jangan Jadikan Orang Kafir Sebagai Auliya’

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Ali ‘Imran: 28)

Makna auliya (أَوْلِيَاءَ) adalah walijah (وَلِيجةُ) yang maknanya: “orang kepercayaan, yang khusus dan dekat”. Auliya adalah bentuk jamak dari wali (ولي) yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan. Sedangkan terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia, kata auliya’ banyak diterjemahkan dengan kata pemimpin.

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu menjelaskan makna ayat ini: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kaum mu’minin untuk menjadikan orang kafir sebagai walijah (orang dekat, orang kepercayaan) padahal ada orang mu’min. Kecuali jika orang-orang kafir menguasai mereka, sehingga kaum mu’minin menampakkan kebaikan pada mereka dengan tetap menyelisihi mereka dalam masalah agama. Inilah mengapa Allah Ta’ala berfirman: ‘kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka‘” (Tafsir Ath Thabari, 6825).

Tapi bukankah ayat di atas bukan dalil keharaman memilih pemimpin kafir tapi keharaman memilih orang dekat/kepercayaan (bersekutu) dengan orang kafir?

Hal ini dapat dijelaskan dengan Qiyas. Qiyas, adalah menyamakan perkara cabang dengan perkara pokok, karena kesamaan ‘illah (sebab adanya hukum).

contoh : memukul orang tua hukumnya haram, diqiyaskan dengan dalil larangan mengucapkan ah/cih kepada orangtua. Dalilnya :

“Dan janganlah sekali-kali kamu katakan kepada keduanya (orangtua) perkataan ‘ah” (QS Al Isra’ 23)

Pada ayat di atas, pokok masalahnya adalah larangan mengucapkan ah / cih kepada kedua orang tua. Hukum masalah ini adalah Haram. Perkara cabangnya memukul kedua orangtua. ‘Illah (faktor diharamkannya) sama-sama menyakiti orangtua. Kesimpulan: memukul orang tua haram dengan qiyas dalil tersebut.

Nah, jika kita tidak menggunakan qiyas dan hanya memahami Al Quran secara harfiah/literal tentu umpatan yang haram hanya kata ah/cih saja. Kita juga bisa bilang bahwa Al Qur’an tidak mengharamkan umpatan seperti anjing atau yang lebih buruk kepada orang tua. Bahkan memukul orang tua juga boleh karena hukum asal semuanya boleh. Tidak ada dalil khusus yang secara terang-terangan disebut di Al Qur’an. Maka rusaklah pemahaman seperti ini !!!

Jika memilih auliya’ (orang kepercayaan) orang kafir haram apalagi memilih pemimpin kafir. Hal ini karena sebab kita memberikan kekuasaan, sumber daya, dukungan, kepercayaan, ketaatan, loyalitas, informasi, posisi strategis dan hal-hal lain yang potensial membahayakan kepentingan kaum muslimin.

Pendapat Para Ulama’

Hampir semua ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa umat Islam dilarang mengangkat (memilih) pemimpin dari kalangan non Muslim. Landasan dasar para ulama tersebut rata-rata merujuk kepada QS Ali Imran ayat 28 tentang larangan Allah menjadikan orang-orang kafir sebagai auliyâ’ (pemimpin, kekasih, orang dekat dan semacamnya).

Syekh Syatha al-Bakri ad-Dimyathi (ulama mazhab Syafii) menyatakan, “Sultan (penguasa) disyaratkan harus Muslim. Sedangkan orang kafir tidak sah menjadi penguasa, dan tidak sah kepemimpinannya.” (lihat I‘ânatuth-Thâlibîn: IV/246)

Imam Ibnu Jamaah, salah satu pemuka mazhab Syafii, menyatakan, “Tidak diperbolehkan mengangkat seorang dzimmi (non Muslim) untuk menjadi pejabat yang mengurus kaum Muslimin, kecuali sebagai petugas pengumpul pajak dari sesama kafir dzimmi atau pengumpul pajak dari perdagangan yang dilakukan oleh non Muslim.” (Tahrîrul-Ahkâm: 147).

Imam Ibnu al-Arabi, pemuka ulama mazhab Maliki, menyatakan bahwa Sayidina Umar bin al-Khatthab melarang Abu Musa al-Asy’ari mengangkat pejabat dari kafir dzimmi. Umar memerintahkan agar Abu Musa memecat pejabat yang dia angkat dari kalangan kafir dzimmi di Yaman. Hal senada dinyatakan oleh Abu Bakar al-Jasshash, pakar fikih dan usul fikih mazhab Hanafi. Beliau menyatakan, bahwa tidak ada wilâyah (kekuasaan) bagi orang kafir untuk orang Islam. (Rawâ’i‘ul-Bayân: I/403).

Syekh asy-Syanqithi (ulama mazhab Hanbali) menyatakan, “Hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. menunjukkan bahwa beliau tidak pernah menyerahkan satu urusan kaum Muslimin kepada orang kafir, sama sekali. Beliau mematuhi ajaran Allah untuk menjaga kaum Muslimin dari penguasaan orang kafir. (Syarh Zâdul-Mustaqni‘: III/268).

Larangan Perkara Ini Ada di Ayat Lain

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]

Ulama besar Syafi’iyah, Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan makna ayat ini,

ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى، الذين هم أعداء الإسلام وأهله، قاتلهم الله، ثم أخبر أن بعضهم أولياء بعض، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك فقال: { وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ }

“Allah ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari bersikap loyal kepada Yahudi dan Nasrani, karena mereka itu adalah musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. Kemudian Allah ta’ala mengabarkan bahwa sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Kemudian Allah ta’ala mengingatkan dengan keras dan mengancam siapa yang loyal kepada mereka dengan firman-Nya, ‘Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim’.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/132]

Lalu Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’. Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’. Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’. Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘pecat dia!’. Umar lalu membacakan ayat: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/132).

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin.

Juga firman Allah ta’ala,

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا

“Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” [An-Nisa: 141]

Pemimpin Kafir Tidak Sah di Negeri Mayoritas Muslim

Ulama besar Syafi’iyah yang lain, Al-Imam Al-‘Allamah An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

قال القاضي عياض أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل

“Berkata Al-Qodhi ‘Iyadh; Ulama telah sepakat (ijma’) bahwa kepemimpinan tidak sah bagi seorang kafir, dan jika seorang pemimpin muslim menjadi kafir maka harus dilengserkan.”
[Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, 12/229]

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

وأن يكون مسلما لأن الله تعالى يقول ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا والخلافة أعظم السبيل ولأمره تعالى بإصغار أهل الكتاب وأخذهم بأداء الجزية وقتل من لم يكن من أهل الكتاب حتى يسلموا

“Syarat pemimpin haruslah seorang muslim, karena Allah ta’ala berfirman, ‘Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.’ [An-Nisa: 141] Dan kepemimpinan adalah sebesar-besarnya jalan (untuk menguasai kaum muslimin). Dan (kepemimpinan kaum muslimin bagi orang kafir tidak boleh) karena Allah ta’ala memerintahkan untuk menghinakan Ahlul Kitab, memerintahkan mereka membayar jizyah dan memerangi orang kafir selain Ahlul Kitab sampai mereka masuk Islam.” [Al-Fishol fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, 4/128]

Tidak sah-nya kepemimpinan orang kafir itu adalah dalam konteks di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia. Adapun apabila di negara yang mayoritas non-muslim maka tentu saja tidak ada masalah dipimpin oleh orang nonmuslim karena memang mereka yang berkuasa sebagaimana kasus pada zaman Nabi di mana sebagian Sahabat berhijrah ke negara non-muslim yang dipimpin orang nonmuslim. Saat itu Rasulullah berkata pada Sahabat yang hendak berimigrasi ke Habasyah:

اذهبوا الى الحبشة فإن فيها حاكما عادلا لا يظلم عنده أحد

Artinya: Pergilah ke negara Habasyah karena di sana terdapat seorang hakim (penguasa/pemimpin) yang adil. Tidak akan ada seorang pun yang akan mendzalimi.

Jangan Loyal kepada Orang Kafir

Firman Allah yang lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi auliya bagimu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman” (QS. Al Maidah: 57)

As Sa’di menjelaskan: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan ahlul kitab yaitu Yahudi dan Nasrani dan juga orang kafir lainnya sebagai auliya yang dicintai dan yang diserahkan loyalitas padanya. Juga larangan memaparkan kepada mereka rahasia-rahasia kaum mu’minin juga larangan meminta tolong pada mereka pada sebagian urusan yang bisa membahayakan kaum muslimin. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jika pada diri seseorang itu masih ada iman, maka konsekuensinya ia wajib meninggalkan loyalitas kepada orang kafir. Dan menghasung mereka untuk memerangi orang kafir” (Tafsir As Sa’di, 236)

Fatwa MUI & Ulama Indonesia

Berdasarkan buku berjudul “Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975” yang diterbitkan oleh Erlangga, dimuat salinan fatwa tersebut. Yakni, pada halaman 867 dengan bab Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia Ketiga Tahun 2009.

Adapun isinya adalah:

Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilihan Umum

  1. Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

  2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.

  3. Imamah dan Imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.

  4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.

  5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Rekomendasi

a. Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar.

b. Pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu meningkatkan sosialisasi penyelenggaraan pemilu agar partisipasi masyarakat dapat meningkat, sehingga hak masyarakat terpenuhi.

Fatwa ini ditetapkan di Padangpanjang, Sumatra Barat, pada 26 Januari 2009. Sedangkan pimpinan MUI yang menandatangani adalah pimpinan Komisi Fatwa MUI KH Ma’ruf Amin, Wakil Ketua MUI Dr H M Masyhuri Na’im, dan Sekretaris Sholahudin Al Aiyub, M.Si

Mantan Ketua PP Muhammadiyah sekaligus Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menegaskan lagi perkara putusan MUI ini di tahun 2014. “Umat Islam wajib memilih pemimpin yang sholih. Ini adalah sikap MUI yang jelas dan benar. Dalam ayat-ayat kitab suci Al-Quran, umat Islam tegas dilarang memilih pemimpin yang mengejek agama dan wajib memilih pemimpin yang menegakkan sholat, membayar zakat, dan tunduk pada aturan Allah SWT. Penegasan ini merupakan firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 55 dan 57,”

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) MUI Pusat, Tengku Zulkarnain juga menegaskan, “Larangan memilih pemimpin non-muslim jelas bukan larangan MUI, tapi larangan Allah dan Rasul-Nya yang wajib dipatuhi oleh semua golongan umat Islam, termasuk MUI sendiri,”

Keputusan forum Bahtsul Masa’il al-Diniyah al-Waqiiyyah saat Muktamar NU ke-30 di PP Lirboyo Kediri tgl 21 s/d 27 November 1999

Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam kecuali dalam keadaan darurat, yaitu:

Dalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang Islam secara langsung atau tidak langsung karena faktor kemampuan.
Dalam bidang-bidang yang ada orang Islam berkemampuan untuk menangani, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa yang bersangkutan khianat.
Sepanjang penguasaan urusan kenegaraan kepada non Islam itu nyata membawa manfaat.
Catatan: Orang non Islam yang dimaksud berasal dari kalangan ahl al-dzimmah dan harus ada mekanisme kontrol yang efektif.

Dasar pengambilan (hukum tersebut): al-Quranul Karim, At-Tuhfah li-Ibni Hajar al-Haitsamiy juz IX, hlm 72, al-Syarwani ‘alat-Tuhfah juz IX, hlm. 72-73, al-Mahalli ‘alal-Minhaj juz IV, hlm.172, al-Ahkam as-Sulthaniyah li-Abil Hasan al-Mawardiy.

Secara lebih terperinci, berikut ini hujjah-hujjah yang mendasari para muktamirin mengambil keputusan tersebut (teks asli dalam bahasa Arab-nya tidak dikutip dalam tulisan ini):

(1) “Dan Allah SWT sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (QS an-Nisa’:141).

(2) Dalam Kitab At-Tuhfah li-Ibni Hajar al-Haitsamiy juz IX, hlm 72, disebutkan:
“Orang Islam tidak boleh meminta bantuan kepada orang kafir dzimmi atau lainnya kecuali jika sudah sangat terpaksa. Menurut dhahir pendapat mereka, bahwa meminta bantuan orang kafir tersebut tidak diperbolehkan walaupun dalam keadaan dharurat. Namun dalam titimmah disebutkan tentang kebolehan meminta bantuan tersebut jika memang darurat.”

(3) al-Syarwani ‘alat-Tuhfah juz IX, hlm. 72-73:
“Jika suatu kepentingan mengharuskan penyerahan sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan oleh orang lain dari kalangan umat Islam atau tampak adanya pengkhianatan pada si pelaksana dari kalangan umat Islam dan aman berada di kafir dzimmi, maka boleh menyerahkannya karena dharurat. Namun demikian, bagi pihak yang menyerahkan, harus ada pengawasan terhadap orang kafir tersebut dan mampu mencegahnya dari adanya gangguan terhadap siapa pun dari kalangan umat Islam.”

(4) al-Mahalli ‘alal-Minhaj juz IV, hlm.172:
“Orang Islam tidak boleh meminta bantuan kepada orang kafir, karena haram menguasakan orang kafir terhadap umat Islam kecuali karena dharurat.” (Lihat, Ibid, hlm. 551-552).

Mempertanyakan Kembali Logika Kita

Kembali ke pertanyaan di awal; mana yang lebih baik, pemimpin kafir tapi adil atau pemimpin muslim tapi dzalim & koruptor?

Di negeri mayoritas muslim, mencari pemimpin muslim yang adil tentu lebih mudah daripada mencari pemimpin kafir yang adil. Hal ini bagaikan kita mau membeli sepeda motor. Misal di pasar ada 90% produk motor Jepang sebagai mayoritas dan 10% produk motor China sebagai minoritas. Nah, lebih mudah mana mencari produk Jepang yang berkualitas atau produk China yang berkualitas? Lalu ada yang membuat propaganda; Pilih mana, Motor China berkualitas atau Motor Jepang tapi boros? Seolah-olah tidak ada Motor Jepang yang berkualitas. Seolah-olah hanya produk China yang berkualitas. Seolah-olah semua motor Jepang boros. Padahal faktanya bisa jadi bertolak belakang.

Contoh lain, kita pergi ke sebuah restoran. Di sana ada 9 menu masakan daging sapi dan 1 menu masakan daging babi. Lalu ada yang menawarkan, pilih mana masakan babi enak dan higienis atau steak sapi tapi sudah basi? Seolah dari 9 menu hanya disodorkan yang paling jelek. Lalu ke mana kedelapan menu yang lain? Apakah Anda langsung memilih menu babi saja yang enak? Kemudian ada 9 minuman jus aneka macam, terus disodori bir. Karena udara sedang dingin lebih enak minum bir daripada jus. Bir tidak haram dalam Al Qur’an karena yang diharamkan itu khamr. Lalu, apakah rasionalisasi seperti itu bisa mengalahkan kebenaran?

Memilih pemimpin jauh lebih penting daripada memilih sepeda motor ataupun makanan. Hari ini harusnya kita bertanya, “Mau pilih pemimpin muslim yang adil atau pemimpin kafir yang dzalim & korup?” Ingatlah bahwa pemimpin muslim yang adil di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia itu banyak. Sedangkan pemimpin non-muslim yang adil di negara kita hampir mustahil untuk didapati. Bahkan, fakta koruptor kelas kakap di negeri ini malah didominasi oleh orang kafir Cina. Termasuk partai politik yang paling banyak kasus korupsinya juga bukan partai Islam.

Mari kita lihat sejarah dunia. Saat orang non muslim menguasai kaum muslim mayoritas apa yang terjadi? Apa juga yang terjadi ketika pemimpin muslim namun lebih loyal kepada orang-orang non muslim? Bahkan ketika Islam memimpin peradaban dunia. Ingatkah kita akan serbuan kaum non muslim baik dari Barat (pasukan salib) maupun timur (tentara Mongol)? Bukankah saat mereka mengalahkan kaum muslimin dan menguasai kepemimpinan umat maka yang terjadi adalah mala petaka? Bukankah pemimpin muslim seperti Sultan Sholahuddin Al Ayyubi ataupun Sultan Muhammad Al Fatih jauh lebih adil dan lebih baik dibandingkan para pemimpin non-muslim lawannya?

Mari kita lihat sejarah kita sendiri, sejarah Indonesia. Sejarah ketika minoritas menguasai mayoritas di negeri ini. Saat mayoritas muslim dipimpin Sultan yang muslim apa yang terjadi? Saat minoritas kafir Belanda menguasai mayoritas muslim Indonesia apa yang terjadi? Saat minoritas kafir Jepang menjajah mayoritas muslim Indonesia apa yang terjadi? Tak cukupkah itu semua jadi pelajaran?

Bukankah para penjajah kafir itu juga merayu dengan menawarkan kemajuan, modernisasi, maupun hal-hal menyenangkan lainnya? Tidak dipungkiri bahwa mereka membawa bukti dengan membangun rel kereta api, infrastruktur, dsb. Tapi penderitaan rakyat atau manfaatkah yang lebih banyak dirasakan umat?

Mari belajar dari sejarah! Para Sultan, ulama’ dan kaum muslimin yang menentang kafir Belanda adalah pahlawan kita. Sedangkan mereka yang loyal, bersahabat dekat (meskipun Sultan), maka mereka ini adalah antek penjajah sekaligus pengkhianat umat. Maka, jangan salah pilih! Pilihlah pemimpin yang lebih diridhai Allah!

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)

Oleh karena itu, hanya orang bodoh saja yang taat sama pemikiran, propaganda, ajakan dan ideologi sesat orang-orang kafir. Mereka pandai menutupi kebenaran dengan media dan sarana lainnya. Lalu ketika orang kafir memimpin, suka tidak suka mereka taat lagi. Mari kita renungkan dalam-dalam ayat berikut ini;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ 0 بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (QS. Ali Imran 149-150)

Mari kita berdo’a semoga dijauhkan dan diselamatkan dari propaganda sesat orang-orang kafir & pendukungnya

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Mumtahanah 5)

Penutup

Salah satu kaidah dalam Islam adalah menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kepentingan umum (seperti masalah politik) kepada para ulama, yaitu orang-orang yang memiliki ilmu yang mendalam tentang agama. Adapun orang-orang bodoh maka sebaiknya diam dan menuntut ilmu terlebih dahulu.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan mengangkatnya dari hati para hamba, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim pun maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Maka orang-orang bodoh tersebut ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka pun sesat dan menyesatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyalllahu’anhuma]

Hal ini karena ulama’ adalah pewaris nabi. Mereka punya ilmu agama yang dalam. Kita sebagai orang awam mungkin tidak lebih mengetahui. Ulama’ akan mengembalikan urusan kepada Al Qur’an & Sunnah.

Dan sang Pencipta, Allah SWT menegaskan,

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” [Al-Baqorah: 147]

Allah ta’ala juga mengingatkan,

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ. السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ

“Andaikan kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.” [Al-Mu’minun: 71]

Sudah jelas & terang bahwa hukum memilih pemimpin non muslim (kafir) adalah haram berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kesepakatan seluruh Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin bagi umat Islam berarti menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW serta Ijma’ Ulama.

Islam tetap melarang umatnya mengangkat pemimpin dari kalangan non muslim. Hal itu karena ajaran Islam tidak hanya berbicara mengenai keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan. Ada yang lebih penting, yaitu tegaknya kebenaran dan tercapainya keselamatan akhirat. Islam tidak hanya berbicara tentang makan dan aman, tetapi juga keberkahan.

Semoga bermanfaat.

Sejarah Berdirinya Israel Di Palestina

Israel sudah berdiri di Palestina selama kurang lebih 64 tahun. Waktu yang sangat lama. Mereka menjajah Palestina dan hanya menyisakan Gaza saja yang belum utuh mereka taklukkan. Di Gaza, ada sebuah tembok besar yang tak pernah berhasil diruntuhkan oleh Israel: Hamas. Bagaimanakah Israel berdiri?

Gerakan antisemit di seluruh dunia melahirkan reaksi balik berupa gerakan Zionisme sedunia, yang digagas oleh Dr. Theodore Herzl (1896), seorang Yahudi Hongaria di Paris. Menurut Herzl, satu-satunya obat mujarab untuk menanggulangi antisemitisme adalah dengan menciptakan suatu tanah air bagi bangsa Yahudi.

Melalui pamfletnya yang berjudul “Der Yuden Staat,” Herzl mulai mempropagandakan cita-citanya tersebut. Awalnya Herzl belum menegaskan di mana letak tanah air bangsa Yahudi akan dibangun. Mula-mula disebut Argentina atau Palestina. Tetapi dalam kongres kaum Zionis pertama di Basel, Swiss tahun 1897, mereka menetapkan Palestina sebagai pilihannya.

Alasan pemilihan Palestina adalah latar belakang historis untuk mengembalikan ”Haikal Sulaiman” yang merupakan lambang puncak kejayaan Kerajaan Yahudi di tanah Palestina (sekitar 975 – 935 SM). Maka, sejak 1930 eksodus Yahudi dari Eropa ke Palestina meningkat tajam, terutama pada Era Nazi Jerman (Perang Dunia II).Berdirinya Israel tidak lepas dari keruntuhan khilafah. Khalifah Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid sebagai penghalang terbesar diturunkan sebagai Khalifah oleh gerakan Turki Muda.

Waktu itu, tahun 1909, Sultan Abdul Hamid mengeluarkan pernyataan keras kepada Yahudi: ”Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniyah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian!” Tidak heran kalau kemudian Yahudi berkonspirasi menghancurkan Sultan Abdul Hamid.

Pada Perang Dunia I (1914-1918), Turki Utsmani bergabung dengan Poros Central (Jerman, Austria-Hungaria) melawan Sekutu. Namun pada 1916, Inggris dan Prancis berkongkalingkong untuk membagi wilayah Timur Tengah dan terkenal dalam Perjanjian Sykes Picot. Dalam Deklarasi Balfor tahun 1917, Inggris mendukung pembentukan Negara Yahudi di tanah Palestina.

Berikut adalah isi surat dari Arthur James Balfour yang berdiri di belakang perjanjian laknat itu. ”Lord Rothschild yang terhormat, saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet. Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya . Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.”

Tahun 1918, Palestina jatuh. Jendral Allenby merebut Palestina dari Khilafah Turki Utsmani. Setahun kemudian, secara resmi mandat atas Palestina diberikan kepada Inggris oleh LBB. Pada tahun 1947, PBB dengan sewenang-wenang membagi dua wilayah Palestina. 1948 menjadi tahun bersejarah bagi Yahudi karena merupakan tahun deklarasi pembentukan Israel. Tepat hari berakhirnya mandat dan penarikan pasukan Inggris dari Palestina dideklarasikan Pendirian Negara Israel, 14 Mei 1948.

Ada beberapa perang yang pantas diingat dalam sejarah berdarah Yahudi. Pada 1948 ada Perang Arab Israel I. Mesir, Jordania, dan Syria masing-masing menduduki Gaza, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan. Pada 1967 terjadi Perang 6 Hari, Mesir, Jordani, Syiria menyerang Israel, tapi justru kehilangan ketiga daerah hasil perang 1948 bahkan Gurun Sinai lepas dari Mesir. Dan pada tahun 1973 terjadi Perang Yom Kippur, Mesir dan Syria menyerang Israel. Diikuti embargo minyak kepada negara-negara Barat.

Tapi pada tahun 1978 dalam Perjanjian Camp David, Mesir mendapatkan kembali Gurun Sinai dengan syarat tidak lagi memerangi Israel. Gaza, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan tetap dalam kontrol Israel. Puncaknya pada tahun 1992 dibuat Perjanjian Oslo. Pengakuan PLO atas eksistensi Israel dan penunjukkan PLO sebagai otoritas resmi atas Jalur Gaza dan Tepi Barat. Sejak saat itu Israel semakin berdiri kokoh di tanah jajahannya, Palestina.

Sumber:

Konspirasi Yahudi Capai Palestina

Setelah konspirasi berhasil mencapai tujuannya di Jerman, sasaran berikutnya ditujukan kepada bumi Palestina. Mereka mengincar Palestina sebagai impian lama yang kini hampir tiba di ambang pintu. Sebagaimana telah kita singgung terdahulu, bumi Palestina akan dijadikan poros bagi program dan titik pemusatan kegiatan internasional bagi Konspirasi. Hal ini bisa dimaklumi, karena Palestina adalah pusat terpenting wilayah Timur Tengah dan Timur Dekat.

Secara geografis, Palestina merupakan jalur penghubung antara tiga benua, yaitu Afrika, Eropa dan Asia. Di samping itu, kekayaan emas hitam yang terdapat di wilayah itu merupakan kebutuhan dunia dalam jumlah melimpah. Dengan demikian, politik Zionisme telah meletakkan dua sasaran yang hendak dicapai untuk menuju ke Palestina, yaitu :

1) Memaksa negara di dunia untuk mengakui negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina, yang kemudian akan dijadikan pusat kegiatan Konspirasi untuk meletakkan memprakarsai Perang Dunia III.

2) Menguasai seluruh sumber kekayaan alam yang terdapat di wilayah itu.

Berikut ini diketengahkan tahapan program kerja yang akan dijadikan landasan bagi pelaksanaannya. Langkah pertama, mereka mengeluarkan deklarasi Balfour tahun 1917 yang telah mengikat Inggris, Perancis dan Amerika Serikat untuk mendukung berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di bumi Palestina.

Untuk melaksanakan hal itu, jenderal Allenby langsung diberi instruksi untuk memukul mundur pasukan Turki Utsmani keluar dari wilayah Timur Tengah dan menduduki Yerusalem. Penguasa Inggris sengaja merahasiakan deklarasi Balfour selama masa operasi militernya, dengan dukungan pasukan Arab nasional, pengkhianat ummat di bawah bendera Syarif Hussein, Amir Makkah.

Sedang para pemilik modal internasional pada saat operasi militer Inggris di wilayah Palestina masih berlangsung, telah mendesak pemerintah Inggris untuk menentukan perwakilan Organisasi Zionisme di Palestina, dan menentukan anggota politisi Zionis untuk menjadi anggota perwakilan itu. Tuntutan itu diajukan kepada penguasa militer Inggris di Palestina, jenderal Crayton, dan segera dikabulkan pada bulan Maret 1915. Politisi yang menjadi anggota perwakilan itu adalah :

  1. Kolonel Orampsey Rigor, yang kelak menjadi direktur Bank Standard di Afrika Selatan, yaitu sebuah bank yang menguasai pertambangan emas dan logam mulia lainnya di Afrika Selatan. Dan dia pula yang mendukung dana kepada sistem politik Apartheid.

  2. Haim Weizman yang kelak menjadi perdana menteri Israel pertama.

  3. Komite perwakilan Zionisme ini telah berada di Palestina sebelum diadakan perundingan damai, bahkan sebelum Perang Dunia I usai. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan momen yang tepat sebelum masalah Palestina dibicarakan di forum mendatang, yaitu perjanjian Versailles. Kemudian perundingan damai dimulai, dan para pemilik modal internasional membuka kedok.

Tampak jelaslah pengaruh mereka. Kita tidak perlu memperjelas lagi, tapi cukup dengan menyebutkan beberapa analisa singkat. Dalam perundingan ini, ketua utusan Amerika adalah Paul Warburg, yang sebelumnya telah kita sebutkan sebagai wakil pemilik modal internasional di Amerika Serikat. Ketua utusan Jerman adalah saudara kandung Paul sendiri, Mark Warburg. Jangan lupa, Mark mewakili negara musuh sekutu yang kalah perang.

Sementara itu, Paul mewakili negara yang menang perang. Perundingan damai seperti itu lalu menjadi perundingan pemerasan, yang seluruh keputusan yang berbuntut jahat dan mengakibatkan timbulnya bahaya itu bisa disetujui. Pada masalah yang berhubungan dengan Palestina, sejumlah tokoh Zionis Inggris dalam perundingan itu meletakkan rancangan pemerintahan perwakilan Inggris di wilayah itu, di antaranya adalah :

  1. Profesor Philex Frankfurner, yang kelak menjadi penasihat presiden di Gedung Putih pada masa pemerintahan Franklin Roosevelt.

  2. Sir Herbert Samuel, komisioner tinggi pertama di Palestina setelah pendudukan pasukan Inggris.

  3. Lushian Wolf, seorang penasihat pribadi perdana menteri Inggris Lloyd George.

Ketika perundingan pendahuluan dimulai, penasihat khusus bagi perdana menteri Perancis Monscour Clemenceau adalah Madell. Nama ini adalah nama samaran. Nama yang sebenarnya adalah Rothschild, yaitu salah satu anggota keluarga besar Rothschild. Sedang salah satu penasihat presiden Amerika Serikat yang menjadi delegasi dalam perundingan itu adalah Mr. Morganthow, yang putranya kelak memegang kementerian keuangan pada masa pemerintahan Roosevelt.

Telah kita sebutkan, bahwa para pemilik modal internasional tidak segan-segan mencampakkan topeng mereka. Untuk membuktikan hal ini, berikut ini dikutipkan beberapa kalimat yang ditulis oleh Lushian Wolf dalam bukunya yang berjudul Steadies on The Jewish History halaman 408 :

“Sejumlah nama politisi muncul pada perundingan perdamaian, dan yang menandatangani perjanjian itu atas nama negara-negara Italia, Perancis dan India adalah tokoh-tokoh Yahudi yang mewakili negara masing-masing. Mereka adalah Baron Somito mewakili Italia, Louis Cloudes mewakili Perancis, dan Edvin Montagio mewakili India. Mereka semua adalah orang Yahudi.

Sebaiknya baik pula untuk kita simak kata-kata beberapa penulis yang tidak perlu kita beri komentar. Seorang sejarawan Inggris terkenal Harold Nicolon dalam bukunya “Menciptakan Perdamaian” 1919-1944 (Making Peace 1919-1944) halaman 44 mengatakan, bahwa Lushian Wolf minta secara pribadi kepadanya, agar ia mau menunjukkan pendapatnya tentang orang-orang Yahudi yang harus diberi perlindungan internasional. Dalam waktu yang sama mereka juga harus diberi hak seperti layaknya warga negara lain, di mana pun mereka berada.

Seorang penulis Perancis George Pateau dalam bukunya yang diberi judul “Masalah Yahudi” (The Problem of the Jews) halaman 38 mengatakan : “Tanggung jawab diberikan kepada orang Yahudi yang telah mengelilingi presiden Amerika Serikat Wilson, perdana menteri Perancis Clemenceau dan perdana menteri Inggris Lloyd George, dalam menyulap perundingan damai menjadi perundingan Yahudi.”

Selanjutnya perlu juga disinggung mengenai peristiwa yang terjadi pada saat perundingan berlangsung di Paris tahun 1919, saat presiden Wilson pada mulanya mengajukan pendapatnya yang sangat jitu. Akan tetapi sayang, tiba-tiba ia mendapat telegram tertanggal 28 Maret 1919 terdiri dari 2000 kata, yang dikirim kepadanya secara pribadi oleh Yacob Sheiff, wakil pemilik modal internasional di Amerika, yang telah kita sebutkan berulang kali.

Telegram itu berisi gagasan pihak yang diwakili Yacob Sheiff mengenai 5 masalah internasional, yaitu masalah Palestina, pampasan perang yang harus dibayar oleh Jerman, masalah Sisilia, Terusan Danring dan wilayah Sarre (Jerman). Telegram ini telah mempengaruhi pendirian presiden Wilson, dan membuatnya berubah pendirian, sehingga jalan perundingan dibuatnya berputar haluan.

Duta besar Perancis untuk Inggris, pada waktu itu De San O’clear melukiskan peristiwa itu dalam bukunya mengenai politik yang kelak ia tulis, berjudul “Jenewa menuju Perdamaian” (Jeneve Towards Peace) menyebutkan, bahwa isi teks yang terkandung dalam perjanjian Versailles berkenaan dengan 5 masalah itu adalah hasil rancangan Yacob Sheiff dan orang-orang sedarahnya.

Masalah Palestina merupakan agenda pembicaraan yang paling banyak difokuskan oleh para peserta. Sebelum gerakan Yahudi terselubung selesai menentukan pemerintahan perwakilan Inggris di Palestina dalam perundingan damai itu, mereka telah mengalihkan program mengenai point yang lain, yaitu persiapan untuk merancang pecahnya Perang Dunia II.

Maka isi rumusan perundingan damai yang dibebankan kepada Jerman sangat tidak adil dan memberatkan. Hal ini merupakan bibit-bibit ketidakpuasan di kalangan bangsa Jerman yang kelak menimbulkan dendam nasional. Begitulah kenyataan yang terjadi dalam peristiwa berikutnya.

Konspirasi tidak lupa untuk menoleh kepada usul mengenai pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (Nations League) Yang telah disahkan dalam perjanjian Versailles. Maka tidak mengherankan kalau forum internasional ini kelak menjadi ladang subur bagi penanaman berbagai rancangan yang dibuat oleh Konspirasi, sekaligus menjadi kuda tunggangan bagi para pemilik modal internasional.

Oleh sebab itu, kelak tokoh Zionis kenamaan Nachom Sokolov, kepala Komite Eksekutif Konferensi Zionisme menjadi berbangga diri dalam badan internasional ini. Pada tanggal 25 Agustus 1952 ia mengatakan, bahwa Liga Bangsa-Bangsa adalah hasil buah pikiran orang-orang Yahudi. Pernyataan ini dikutip secara harfiah oleh kolonel M.H. Seen dari Amerika, dalam bukunya “Tangan Kotor” (The Filty Hand), yang sengaja ia tulis untuk memperingatkan bangsa Amerika mengenai bahaya Zionisme.

Juga perlu kita perhatika pernyataan Weekham Syde, seorang pakar dalam masalah internasional dan pimpinan redaksi harian besar berbahasa InggrisThe Tunes. la berkali-kali menyinggung adanya pengaruh terselubung yang dilakukan oleh para pemilik modal Yahudi internasional. la menulis buku besar dengan judul “Selama 30 Tahun” (In the past 30 Years). Dalam halaman 301-302 ia mengatakan:

Ketika Winston Churchill mengadakan kunjungan ke tanah Palestina tahun 1921, delegasi Arab datang untuk menyambutnya. Mereka menjelaskan kepadanya tentang ketidakadilan dan kekejaman langkah-langkah kebijakan yang ditempuh pemerintah Inggris untuk memenuhi cita-cita Zionisme, yaitu menguasai bumi Palestina. Mereka mengemukakan, bahwa bangsa Arab telah mendiami bumi itu sejak ribuan tahun yang silam. Mereka minta agar Churchill sudi mengusahakan adanya penyelesaian mengenai ketidakadilan ini. Akan tetapi Churchill menjawab:

“Masalah itu di luar wewenang kekuasaanku, di samping aku sendiri juga tidak setuju. Bahkan kami yakin, bahwa yang telah digariskan dalam deklarasi Balfour ini akan lebih baik bagi kemaslahatan dunia, bagi kerajaan Inggris dan bagi bangsa Arab sendiri. Kami akan tetap mewujudkan rencana itu.”

Tidak seorang pun bisa membayangkan, bagaimana perasaan delegasi Arab yang mendengar jawaban Churchill itu, yang terus terang menunjukkan keterlibatan Churchill dengan program terselubung Zionisme. Bahkan kami pribadi (penulis) baru tahu masalah ini setelah tahun 1954, pada saat Churchill mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat dalam suatu pertemuan dengan Bernard Baruch, seorang Yahudi yang memainkan pecan penting dalam politik Amerika Serikat dari balik layar selama bertahun-tahun, pada masa pemerintahan Roosevelt yang menjabat sebagai kepala penasihat presiden di Gedung Putih.

Pada pertemuan itu Churchill menyatakan, bahwa dia adalah seorang Zionis, dan akan tetap sebagai orang Zionis. Mungkin ketika menjawab delegasi Arab, Churchill masih teringat ancaman terbuka kepada Inggris, yang dikeluarkan oleh tokoh Zionis terbesar, Haim Weizman yang dimuat dalam majalah Gudesha edisi ke 4 tahun 1920, yang bunyinya secara harfiah sebagai berikut :

“Kami akan tetap hidup berdiam di tanah Palestina, baik Anda mau atau tidak. Maka langkah yang paling baik untuk Anda lakukan sekarang adalah mempercepat proses imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina atau memperlambat sedikit. Namun yang paling baik bagi Anda adalah membantu kami supaya kekuatan kami tidak berbalik menentang Anda. Kami sekarang berada dalam barisan bersama Anda. Dan Anda semua tahu, bahwa kami punya kekuatan di setiap penjuru dunia”.

Ancaman seperti itu bukan satu-satunya. Dalam konferensi Zionisme yang diadakan di kota Budapest ibukota Hunggaria tahun 1919, para tokoh Zionis peserta konferensi mengeluarkan ancaman terbuka kepada dunia. Pernyataan yang bernada mengancam seperti itu juga datang dari Hain Weizman sendiri. Ia mengatakan :

“Organisasi Zionisme kita akan memainkan perannya dalam mengatur dunia baru pada masa pasca perang. Kitalah yang menciptakan Liga Bangsa-Bangsa, dan kita akan berjalan di belakang program yang telah kita buat. Tujuan dan kepentingan yang kita inginkan telah kita tentukan sebelumnya.”

Kami (penulis) menyelesaikan penulisan bab ini tahun 1944, setelah mempelajari dokumen dan data-data yang sebelumnya kami kumpulkan. Akan tetapi, setelah 8 tahun kemudian sesuai dengan jabatan kami dalam pemerintah sebagai perwira inteligen rahasia, kami mendapatkan sebuah dokumen rahasia berbahaya.

Kami merasa wajib untuk menyertakan beberapa bagian dari dokumen itu dalam bab ini, mengingat masalah ini punya arti tersendiri, yaitu yang berhubungan dengan konferensi puncak Sidang Darurat Para Pendeta Yahudi se-Eropa, yang diadakan di Budapest tanggal 22 Januari 1952. Berikut ini adalah ringkasan dari dokumen tersebut yang mengandung beberapa paragraf harfiah, yang memungkinkan kami memuatnya, yaitu :

‘Laporan dari Eropa tentang konferensi puncak Sidang Darurat Pendeta Yahudi se-Eropa, pidato rahasia yang disampaikan oleh pendeta tertinggi Yahudi Emanuel Robinovich tertanggal 12 Januari 1952.

Selamat berbahagia putra-putraku . . .

Kalian telah terpanggil untuk mengadakan pertemuan istimewa ini untuk mengkaji masalah dan rancangan pokok bagi program kita yang baru, yaitu program yang berkaitan dengan perang yang akan datang, sebagaimana yang kalian telah ketahui. Rancangan kita semula membutuhkan tenggang waktu 20 tahun, sehingga kita mendapatkan seluruh keuntungan yang dihasilkan dari Perang Dunia II.

Akan tetapi, beberapa pertimbangan baru mengharuskan adanya pengurangan jangka waktu 5 tahun lebih dini. Langkah-langkah yang masih kita lakukan demi tujuan kita, sejak 3000 tahun yang lalu sekarang telah berada dalam jangkauan tangan kita. Sebentar lagi kita pasti akan bisa memetik buahnya, dengan syarat kita harus melipat gandakan usaha keras dengan menggunakan pikiran dan pengalaman apa saja yang kita miliki.

Kami bisa meyakinkan Anda sekalian, bahwa beberapa tahun lagi bangsa kita akan bisa mengembalikan posisinya di tempat paling atas di dunia. Ini merupakan hak alami yang telah dirampas semenjak kurun waktu yang sangat panjang. Dan hal ini akan kembali kepada kita seperti semula, sehingga setiap orang Yahudi akan menjadi tuan, dan setiap gentile atau non-Yahudi akan menjadi budak … (aplaus besar).

Sekarang ini, kami akan menawarkan pemikiran tentang perang mendatang. Kalian tentu ingat keberhasilan besar mengenai program yang kita laksanakan sejak tahun 1930. Propaganda besar-besaran yang kita sebarluaskan telah berhasil meniupkan api kebencian di Jerman terhadap dunia Barat dan terhadap unsur semitik. Kemudian kita juga meniupkan rasa kebencian bangsa Barat terhadap bangsa Jerman, yang disebabkan oleh sikap permusuhan Jerman terhadap unsur semitik.

Inilah program pokok yang sekarang sedang kita laksanakan untuk meniupkan rasa kebencian Timur terhadap Barat, dan di Barat terhadap Timur. Kita akan memerangi bangsa-bangsa yang bersikap netral untuk memaksa mereka bergabung dengan blok ini atau blok itu. Kita tidak akan membiarkan seseorang menghalangi jalan yang kita tempuh. Untuk mencapai tujuan awal dari program ini, kita akan menanamkan orientasi militerisme dan naluri perang di Amerika.

Akan tetapi, rancangan undangundang yang kita ajukan kepada kongres Amerika dengan dukungan dari jaksa agung mengenai wajib militer bagi setiap warga Amerika ternyata ditolak. Kita mengalami kegagalan sementara. Kita akan mulai usaha baru lagi dengan bekerja keras, untuk melemparkan tuduhan kepada pihak Uni Sovyet, bahwa negara itu melakukan kebijakan anti semitik, meskipun terdapat hubungan erat antara kita dan Komunisme.

Kita akan mendukung dengan dana dan pengaruh bagi organisasi yang membela unsur semitik, khususnya di Amerika. Tujuan terakhir program ini adalah menciptakan Perang Dunia III, yang akan mengakibatkan kehancuran total, dan pengaruh yang jauh lebih besar daripada seluruh peperangan yang pernah terjadi. Kita akan membuat Israel tetap netral dalam perang ini, sehingga terhindar dari kehancuran.

Setelah itu, Israel akan menjadi tempat sidang-sidang perundingan, pengawasan dan lain-lain, yang saat itu akan diserahi tugas untuk mengawasi bangsa-bangsa yang tersisa. Perang inilah yang akan merupakan pertikaian terakhir dalam sejarah melawan kaum gentiles. Kita kelak akan membuka kedok yang menutupi wajah identitas kita yang sebenarnya di hadapan mata dunia.

Ada sebuah pertanyaan diajukan oleh salah seorang pendeta Yahudi. Saya mohon yang mulia pendeta Robinovich menjawab pertanyaan berikut ini, ‘Bagaimanakah nasib agama-agama setelah Perang Dunia III berakhir?’

Robinovich menjawab, “Di sana tidak akan ada lagi agama setelah Perang Dunia III, dan tidak ada pula tokoh-tokoh agama. Keberadaan agama dan tokohnya merupakan ancaman bagi kita, karena agamalah yang mampu membuat ancaman bagi kita untuk menguasai dunia. Kekuatan jiwa yang ditimbulkan dari iman pemeluk agama akan melahirkan sikap berani untuk menghadapi kekuatan kita. Akan tetapi, kita akan tetap memelihara sebagian dari ajaran agama yang bersifat lahiriah saja. Sedang agama Yahudi akan tetap merupakan pegangan bagi setiap bangsa Yahudi, dengan satu tujuan untuk menjaga tali pengikat antar-bangsa kita, dan sekaligus sebagai tameng untuk menghalangi orang non-Yahudi tidak masuk ke dalam barisan kita melalui perkawinan atau lainnya.”

“Untuk mencapai tujuan akhir, bisa saja kita memerlukan cara yang menyedihkan, seperti pernah kita lakukan pada masa Hitler, yaitu kita sendiri yang mengatur terjadinya peristiwa penindasan terhadap sebagian bangsa kita sendiri. Dengan kata lain, kita akan menumbalkan sebagian putra bangsa kita sendiri pada suatu peristiwa yang akan kita atur dari belakang layar. Kita bisa mendapatkan alasan yang cukup untuk menarik simpati dan dukungan bangsa Eropa dan Amerika, serta dunia pada umumnya dari satu sisi. Sedang dari sisi lain, para tokoh militer yang terlibat perang, seperti pernah kita lakukan dalam pengadilan Nurenburg (Jerman) setelah Perang Dunia II. Tumbal itu mungkin mencapai ribuan nyawa bangsa kita, dan kita sendiri yang akan melakukan pembunuhan terhadap mereka, agar kita bisa melemparkan tuduhan terhadap pihak lain. Meskipun tumbal itu besar, namun kita tidak perlu mengukur besar-kecilnya tumbal demi tujuan kita yang terakhir, yaitu menguasai dunia. Anda sekalian sekarang melihat kemenangan terakhir dengan jelas, seperti melihat gajah di pelupuk mata. Kalian akan kembali ke negara masing-masing setelah konferensi ini untuk mengajak bangsa kita bekerja keras, sehingga akhirnya akan sampai pada suatu saat, di mana Israel akan membuka hakikat diri yang sebenarnya kepada dunia, sebagai tempat memancarnya cahaya yang akan menerangi seluruh jagad.”

Sampai di sini Robinovich mengakhiri pidatonya. Komentar tidak diperlukan lagi. Satu hal yang perlu kita singgung adalah, bahwa kongres itu menguatkan hasil analisa kita sebelumnya, sehubungan dengan masalah anti semitik dan Nazisme dan seterusnya, yang bisa meyakinkan kita, bahwa kekuatan di balik layar yang diatur oleh Zionisme pada hakikatnya adalah kekuatan yang mengeksploitasi gerakan anti semitik dengan memperalat Hitler dan Nazismenya.

Kekuatan itu pula yang sedang merancang dan mendalangi untuk menjerumuskan dunia ke dalam Perang Dunia III. Hitler dan Nazisme bagi orang awam belum banyak dikenal. Banyak yang tidak memperhatikan adanya tangan-tangan terselubung di balik peristiwa yang terjadi di Jerman, yaitu ketika para pemilik modal Yahudi internasional mempersenjatai Nazisme, dan membangun perindustrian Jerman setelah perjanjian Versailles.

Pada saat itu Hitler menggalakkan anti Yahudi. Di sini timbul pertanyaan, mengapa Stalin dan dunia Barat tutup mulut, ketika melihat Jerman bangkit dan membangun militernya kembali secara besar-besaran, yang bisa mengancam dunia Barat dan Rusia? Menurut pengamatan yang cermat, justru Stalin sendiri telah mengadakan perjanjian kerja-sama rahasia dengan penguasa militer di Jerman, bahkan sebelum militer berkuasa untuk melatih dan mempersenjatai angkatan perang Jerman.

Dan lagi, beberapa lembaga keuangan Barat menyalurkan dana-dananya untuk membiayai pembangunan industri persenjataan Jerman. Tokoh-tokoh Barat bukan tidak tahu apa yang terjadi di balik layar di Jerman pada waktu itu, dan kebangkitan kekuatan militernya. Kami (penulis) secara pribadi tahu akan hal itu dengan yakin, ketika kami menghadiri konferensi perlucutan senjata yang diadakan di London tahun 1930.

Hasil studi analitis mengenai periode 1920-1938 dalam sejarah modern yang kami lakukan menunjukkan, bahwa pemilik modal Yahudi internasional telah memusatkan kegiatannya dalam periode ini untuk meraih tujuan-tujuan sebagai berikut :

1) Menyalakan api Perang Dunia II, sesuai dengan program asli semenjak dulu. Mereka berhasil.

2) Memerangi pemerintahan dan pergerakan yang memusuhi mereka di Eropa dengan segala cara dan sarana. Dalam hal ini, mereka juga telah berhasil dengan gemilang, seperti penyingkiran pemerintahan Asquith di Inggris pada masa Perang Dunia I.

3) Memaksa Inggris, Perancis, kemudian Amerika Serikat untuk menyetujui berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Pada masa Perang Dunia I Inggris telah menjanjikan para pemilik modal Yahudi internasional untuk mendesak Amerika Serikat lewat organisasi Yahudi di Amerika, agar negara itu terlibat dalam perang bersama sekutu dengan imbalan, bahwa Inggris akan membela cita-cita Zionisme. Data-data inteligen angkatan laut menunjukkan, bahwa peristiwa penyerbuan Jerman terhadap kapal perang Amerika, Lusiana, kemudian tenggelam adalah sebuah peristiwa yang sengaja dirancang sebelumnya sebagai preteks agar Amerika Serikat melibatkan dirinya dalam Perang itu, persis penyerbuan Pearl Harbour oleh angkatan udara Jepang tahun 1941, sehingga Amerika-Serikat ketika itu bisa terjun dalam kancah Perang Dunia II.

Adapun naskah asli dalam perjanjian Versailles tentang nasib tanah Palestina di bawah kekuasaan pendudukan Inggris disebutkan dalam rumusan berikut … yaitu untuk mengubah tanah Palestina menjadi sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi. ‘mengubah” menjadi “mendirikan”, dengan maksud menutupi niat buruk bangsa Yahudi sebenarnya di seluruh wilayah itu. Maka rumusan menjadi sebagai berikut:

“His Majesty’s government view with favor the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavors to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which might prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, of the right and political status enjoyed by Jews in any other country.” (Pemerintah baginda raja melihat dengan tatapan belas kasih mengenai berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan akan mengusahakan dengan segala kemampuan pemerintah kerajaan Baginda untuk mewujudkan cita-cita ini. Sebagaimana sama-sama dimaklumi, tidak ada langkah yang akan diambil yang kira-kira bisa menyinggung hak sipil atau agama bagi masyarakat non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status politik yang dimiliki oleh Yahudi di negara lain manapun).

Dalam ulasan terdahulu telah kita bicarakan, bagaimana kekuatan Konspirasi bisa menaklukkan arah politik seluruh negara Eropa pada masa antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II, yaitu politik yang ditandai dengan ketamakan imperialisme dunia Barat dan pemerasan kekayaan terhadap bangsa lainnya di Dunia. Begitu pula periode itu ditandai oleh adanya perpecahan blok militer yang saling berhadapan, hingga pecahnya Perang Dunia II. Oleh karena itu, kita tidak perlu heran, bahwa tujuan paling utama Konspirasi dari Perang Dunia itu adalah mendirikan negara yang akan menjadi pusat kegiatan konspirasi Yahudi terhadap bangsa lain di dunia.

“Kami telah berkali-kali mengatakan, bahwa yang menguasai wajah perjalanan dunia adalah para pemilik modal Yahudi Internasional. Dan yang menggerakan khususnya perundingan damai itu adalah Yacob Sheiff dan kelompok Warburg serta para pemilik modal Yahudi internasional lainnya. Satu-satunya tujuan yang hendak mereka capai adalah menguasai Eropa, khususnya Jerman.”

Sumber: Islam Pos & William G. Car, ”Yahudi Menggenggam Dunia.”

Rohingya, Umat Yang Dilupakan

Sekiranya kita melakukan tinjauan di kalangan umat Islam hari ini dan bertanya mengenai umat Islam yang tertindas, niscaya kita akan mendapat jawaban Palestin, Afghanistan, Iraq, Chechnya dan sebagainya. Namun tidak banyak di kalangan kita yang menginsafi terhadap permasalahan umat Islam Rohingya.

Selama beberapa decade, orang Islam Rohingya telah menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia yang sistematik dan meluas di tangan junta tentara Myanmar (Burma).

Dalam satu laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Pusat Hak Asasi Manusia Ireland (ICHR), seorang pakar undang-undang hak asasi manusia internasional mengatakan bahwa ”kekejaman massa yang dilakukan oleh kerajaan junta tentara terhadap minoritas Rohingya yang tinggal di daerah Barat Myammar mungkin merupakan antara kejahatan terhebat terhadap kemanusiaan di abad ini.”

Permasalahan mereka telah diabaikan selama bertahun-tahun dan tiada tindakan apapun yang sistematik yang dilakukan untuk membantu mereka meneruskan kehidupan sebagai masyarakat manusia yang normal.

Siapakah umat Islam Rohingya?

Umat ​​Islam Rohingya kebanyakannya tinggal di sebelah barat Burma (kini Myanmar) di Negeri Arakan yang berdampingan dengan Bangladesh. Mereka adalah keturunan daripada para pedagang Arab, Parsi, Turki dan lain-lain yang berkawin dengan penduduk setempat seperti Mughals, Pathan, dan Bengali. Penyebaran Islam di Arakan (dan di sepanjang kawasan pantai selatan Bangladesh) dilakukan oleh para pedagang dan pendakwah dari Asia Barat ini.

Mereka terus menetap di kawasan ini untuk masa yang panjang, berkawin dengan penduduk setempat dan hidup berbaur dengan budaya setempat. Kini, umat Islam Rohingya merupakan 1/3 daripada jumlah penduduk wilayah Arakan, Myanmar dan selebihnya adalah penganut Buddha Arakanese.

Apakah nasib mereka?

Umat Islam Rohingya telah dinafikan daripada hak-hak asasi kemanusiaan dan senantiasa berlanjut kepada pelecehan hak asasi manusia secara konsisten oleh pihak juta tentara Myanmar.

Di antara kekejaman yang dilakukan ke atas mereka, yaitu tidak mengakui kewarganegaraan mereka, tidak diakui akte kelahiran maupun akte perkawinan mereka, perampasan tanah-tanah milik mereka bagi meneruskan proyek pembangunan saluran pipa gas dan minyak yang melintasi  wilayan Arakan, menjadi korban perbudakan modern sebagai buruh paksa seperti bekerja tanpa gaji di proyek pembangunan jalan raya, kereta api, dan bangunan markas tentara, dibatasi makanan sehingga mereka hidup di dalam keadaan kelaparan, dibatasi ekonomi, kesihatan dan pelayanan dasar pendidikan. Wanita-wanita dan remaja perempuan mereka ditindas secara massal oleh tentera Myanmar, penyembelihan secara massal seumpama tragedi 1942 yang mana lebih 100,000 orang di kalangan mereka yang telah dibunuh, dan pada tahun 1978, sebanyak 300,000 di kalangan mereka telah diusir keluar secara massa ke Bangladesh. Kerajaan Bangladesh enggan untuk menyediakan bekal makanan dan keperluan lain sehingga banyak di kalangan warga Rohingya mati kelaparan dan akibat penyakit.

Pada tahun 1991, tentera Burma sekali lagi telah melakukan operasi pembersihan, sebanyak 268,000 ribu warga Rohingya terpaksa melarikan diri karena Myanmar ternyata tidak lagi aman untuk mereka.

Setelah bertahun-tahun melalui tahap penderitaan yang panjang dan besar, mereka mulai mengambil perahu-perahu kecil ke laut terbuka dengan harapan untuk mendarat di suatu tempat sebagai pelarian politik, ekonomi dan agama.

Ada di kalangan mereka yang berhasil mendarat di Thailand, Malaysia, Indonesia dan sebagiannya di Australia. Namun kebanyakan mereka telah ditolak mentah-mentah oleh kebanyakan negara ini.

Bahkan banyak di kalangan ‘orang perahu’ yang mendarat di Thailand telah dihalau kembali ke laut dalam bersama sampan mereka yang telah dicabut mesinnya agar mereka terus hanyut terombang-ambing tanpa arah tujuan. Sebagian daripada mereka terdampar di Malaysia, Indonesia dan Australia tetapi ribuan di kalangan mereka yang telah mati lemas atau kelaparan di tengah laut.

Tiada siapa yang menerima mereka! Bahkan negara-negara yang mengaku mewakili umat Islam juga tidak menerima mereka, sekaligus membuktikan bahwa seolah-olah umat ini ‘tidak ada harga’ kepada mereka.

Umat Islam Rohingya telah memohon diberikan status ‘Pelarian Sementara  Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), sehingga negara-negara lain setuju untuk mengambil mereka buat sementara. Indonesia dikatakan akan mempertimbangkan permohonan mereka untuk tinggal di Aceh buat sementara.

Kalau bukan kita, siapa lagi ?

Permasalahan Rohingya adalah permasalahan umat Islam sedunia. Mereka telah ditindas buat sekian lamanya dan kini sebagian daripada mereka telah mendarat di Aceh bagi mendapatkan perlindungan dan bantuan kemanusiaan daripada saudara seakidah mereka.

Ingatlah, bahawa kepedulian terhadap orang lain terutamanya saudara seakidah adalah sesuatu yang sangat dituntut oleh agama Islam yang luhur ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidak peduli tentang urusan umat Islam, maka bukanlah mereka daripada kalangannya.”

Solusinya

  1. Pemerintah Indonesia seharusnya mengambil inisiatif untuk persoalan umat Islam Rohingya baik di peringkat Internasional dengan menyuarakan permasalahan kronis ini di persidangan OIC, PBB, WHO, ASEAN dan sebagainya.
  2. NGO dan LSM yang ada harus mengambil peran bagi meringankan beban yang dihadapi oleh pelarian Rohingya yang sangat memerlukan bantuan di sudut sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan terutamanya di kalangan anak-anak mereka.
  3. Kalau rakyat Indonesia begitu perihatin dan berbagai NGO telah dibentuk untuk menangani masalah umat Internasional seperti Palestin dan lain-lainnya, kenapa kita abaikan bantuan kepada saudara seakidah yang kini terdampar di negara kita sendiri.
  4. Indonesia dan Negara-negara lainnya seharusnya mengambil peran menunjukkan keperihatinan terhadap isu kemanusiaan yang kronis ini dengan membantu meringankan beban kehidupan demi masa depan mereka.
  5. Kita juga boleh membantu dengan mendoakan keselamatan dan masa depan mereka serta mengikuti perkembangan keperihan hidup umat yang berpanjangan ini.

Dari Nu’man bin Basyir R.A., katanya Rasulullah SAW. Bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi, bagaikan sebuah tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh merasa sakit, tidak dapat tidur dan terasa panas.’’

Syiah, dari Nusantara Hingga ke Houthi di Yaman

Suatu ketika, seorang teman keturunan sayid mengundang saya dalam sebuah acara Majelis Zikir di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, dalam surat undangan tertulis lafaz bahasa Arab, Ya Tarim wa ahlaha. Wahai Negeri Tarim dan penduduknya. Belakangan, saya baru mengerti jika Tarim adalah nama daerah di negeri Yaman.

Di lain waktu di Johor Malaysia, saya bersama orang Arab, ketika sedang bercakap-cakap dengannya, tiba-tiba didatangi oleh orang Melayu, dia bertanya ke saya, Apakah Anda juga orang Arab? Sebab saya liiht bahasa Anda dengan orang Mesir itu tidak berbeda. Pertanyaan ini dijawab teman Arab saya, Kemungkinan dia juga orang Arab tapi keturunan Yaman.

Setelah saya telusuri, ternyata orang Arab Yaman memang sudah lama berada di Indonesia dan memberikan pengaruh besar, termasuk dari segi klan dan bahasa. Orang Indonesia adalah bagian dari bangsa yang mu’arrab atau terarabkan. Kalau tidak percaya, lihatlah bahasa Indonesia, begitu banyak menyerap kosa kata Arab yang sebagian besarnya ditularkan oleh Arab Yaman tidak terkecuali dari para Sayid bergelar Habib. Kita pun kenal istilah ane, ente, musyawarah, rakyat, adab, adil, makmur, sifat, dan seterusnya.

Di Sulawesi, ada pekampungan Arab namanya Cikoang, di sini, hingga kini penduduknya semua dari keturuan arab muarrab, mereka telah berdiam berabad-abad, menikah dengan penduduk lokal, kini mukanya sudah sama dengan penduduk setempat. Sebagaimana umumnya orang Bugis-Makassar. Mereka adalah keturunan Arab Yaman.

Prolog di atas bukanlah isapan jempol belaka, sebab sepanjang sejarah Islam, negeri Yaman adalah bagian tak terpisahkan dari islamisasi belahan dunia lainnya termasuk Nusantara. Faris Khoirul Anam, sebagaimana dikutif Republika (5/4/2015) dalam karyanya, “Koloni Indonesia di Hadramaut” menuturkan, bahwa orang-orang Hadramaut-Yaman sudah lama membuka hubungan dengan kerajaan yang ada di Nusantara, bahkan gelombang migrasi orang Arab ke Indonesia terjadi secara masif pada pribode sebelum penjajahan Belanda.

LWC Van Den Berg, seorang Islamolog Belanda yang mengadakan riset tentang “Hadramaut dan Koloni Arab Nusantara” mengungkapkan, para keturunan Arab di Indonesia dapat cepat membaur dengan pribumi. Beberapa kabilah atau etnis Arab di Indonesia dapat kita jumpai di Hadramaut seperti klan, As-Sagaf, Al-Attas, Al-Jufri, bin Syiahab, bin Thalib, Sungkar, Al-Katiri, Al-Bar, dan sebagainya.

Menurut Ensyclopedia Britannica, sebagaimana dikutip Republika, keluarga para habib termasuk kelompok berpengaruh di Yaman. Nenek moyang para sayid di Yaman pertama kali datang dari Irak selatan lebih dari seribu tahun lampau. Ba ‘Alawi di Hadramaut, Al-Wazir di Sanaa, Al-Shammam di Sa’adah adalah beberapa klan yang masih eksis di Yaman.

Mohammad Al-Asadi dalam artikelnya, From Religius Leaders to Ordinary Citizens: The Changing Role of Sadah in Yamen, yang dipublikasikan majalah The Ambassadors, volume 8, issue 1 (2005) menulis bahwa peneliti tidak menemukan banyak fakta yang mendalam tentang habaib di Yaman dalam buku-buku sejarah dan antropologi lainnya. Ini karena, para sayid tersebut hidup dalam diaspora atau memiliki banyak cabang keluarga di tempat yang berbeda-beda.

Paul Driesch pernah mencoba merangkum asal usul para sayid di Yaman. Menurutnya, kelompk Syiah Zaidiyah pernah mendominasi kota Sanaa dan sekitarnya selama berabad-abad. Inti ajaran dari Syiah Zaidiyah adalah kekuasaan Islam yang sah semestinya diwariskan oleh keturunan Nabi Muhammad melalui alur pernikahan putrinya, Fatimah, dengan Ali bin Abi Thalib. Nama kelompok Zaidiyah sendiri mengacu pada Zaid bin Ali bin Husain bin Ali yang merupakan generasi keempat Nabi Muhammad dari putrinya, Fatimah.

Keturunan Zaid bin Ali itulah yang mula-mula diberi gelar sayid. Kelompok ini didirikan di utara Yaman pada 896 M oleh Imam pertama Syiah Zaidiyah, Al-Hadi. Perlu dicatat bahwa Syiah Zaidiyah kendati dianggap sesat dan menyimpang dari Ahlussunnah, namun secara pemahaman dan praktik, inilah Syiah yang paling dekat dan tidak terlalu bermasalah dengan Ahlussunnah. Bahkan Imam Asy-Syaukani disebut-sebut berpaham Syiah Zaidiyah, namun karya-karyanya antara lain, kitan, “Nailul Authar” menjadi rujukan para Ahlussunnah. Ini pula yang ditangkap oleh Sayyid Ali ibn Ali Al-Zaidi dalam artikelnya, A Short History of the Yemenite Shi’its (2005), menuturkan, sepanjang sejarah abad ke-12 hingga ke-13, kelompok Zaidiyah hanya mengakui imam Syiah dari Yaman tetapi mentang imam-imam Syiah yang ada di Iran.

Namun, Mohammed Asad juga menerangkan bahwa pada 952 M, muncul keluarga sayid lainnya yang didirikan oleh migrasi asal Irak bernama Isa. Berbeda dengan kolompok Zaidiyah yang berpaham Syiah, keluarga sayid ini justru berpaham Ahlussunnah bermazhab Syafi’I. Keluarga sayid inilah yang banyak memainkan peran penting dalam sejarah Yaman dari dulu hingga sekarang.

Dan jika dikorelasikan dengan islamisasi Nusantara, maka keluarga ini yang banyak memiliki kesamaan dalam praktik keagamaan di Indonesia, terutama golongan habib. Para sayid, kendati ada yang berpaham Syiah namun itu tak seberapa dibandingkan yang Ahlussunnah dan bermazhab Syafi’I, walaupun tak dapat dipungkiri sebagain kecil dari mereka, jika terjadi perseteruan dari para Sayid dalam masalah Ahlussunnah versus Syiah, mereka lebih mendahulukan klan ‘sayed-nya’ daripada akidah.

SYIAH HOUTHI

Jika menarik simpul sejarah Islamisasi Yaman, maka awal masuknya Islam ke Yaman bermula pada tahun 630 M, kala itu Rasulullah mengutus saudara sepupu yang juga menantunya, Ali bin Abi Thalib ke Sanaa, dan sekitarnya untuk menyampaikan syiar Islam. Saat itu, Yaman merupakan wilayah penting dan maju di Semenangjung Arabia, Bani Hamdan tercatat sebagai kabilah pertama yang menerima Islam.

Rasulullah juga pernah mengutus Muaz bin Jabal ke Al-Janad atau saat ini dinamakan Taiz, juga untuk berdakwah. Dan mereka pun menerima Islam dengan sukarela, bahkan beberapa suku terkemuka di Yaman, mengirim delegasi ke Madinah antara tahun 630-631 M, untuk menyatakan kesediaan mereka menerima Islam. Kendati demikian, sejumlah orang Yaman sudah ada yang lebih dulu masuk Islam, antara lain, Ammar bin Yasir, Al-Ala’a, Al-Hadrami, dan Miqdad bin Syurahbil.

Delegasi itu meminta Nabi agar mengirim sejumlah guru yang dapat mengajarkan Islam kepada masyarakat Yaman. Untuk memenuhi permintaan tersebut Nabi menugaskan sekelompok sahabat yang berkompeten, lalu menunjuk Muaz bin Jabal sebagai pemimpin.

Selanjutnya, negeri Yaman berada dalam kondisi stabil selama era pemerintahan Khulafa ar-Rasyidun, masyarakatnya pun turun berkontribusi besar dalam perkembangan Islam sepeninggal Rasulullah. “Suku-suku Yaman memainkan peran penting dalam pembukaan negeri Islam di Mesir, Irak, Persia, dan sekitarnya, juga Anatolia, Afrika Utara, Sisilia, hingga Andalusia, ungkap Wilfrerd Madelung dalam “The Succession to Muhammad:A Study of the Early Caliphate”.

Suku-suku Yaman yang menetap di Suriah juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan kekuasaan Dinasti Umayyah pada masa kekuasaan Khalifah Marwan I. Beberapa emirat yang didirikan di Afrika Utara dan Andalusia semasa Umyyah dipimpin orang-orang Yaman.

Negeri yang kita bahas itu, sekrang sedang dalam sakratul maut akibat perang saudara. Bermula ketika pimpinan Syiah, Badruddin al-Hautsi berfaham Syiah Zaidiyyah Jarudiyyah berangkat berguru ke Iran dan menetap di sana, lalu pada tahun 1994 berubah menjadi Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah atau Rafidhah.

Menurut KH Agus Hasan Bashori, Ideologi para pemberontak Syiah Houtsi ini sama dengan gerakan Syiah yang ada di Iran, Libanon, Irak, Bahrain, dan mayoritas Syiah yang ada di dunia. Bahkan sama dengan yang ada di Indonesia, hanya saja mereka yang ada di Indonesia sering menyebut dirinya dengan sebutan “Ahlulbait” atau “Jamaah Ahlulbait”.

Di antara ideologi mereka adalah, berkeyakinan bahwa kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wajib ditangan Ali bin Abi Thalib, berdasarkan nash (wahyu, wasiat atau pengangkatan langsung oleh Nabi); Menolak Abu Bakar, Umar dan Usman sebagai imam setelah Nabi SAW sebab dalam keyakinan mereka ketiga khalifah sebelum Ali itu adalah tidak sah, zhalim, fasiq, dan kafir. Dengan demikian Syiah pun melaknat mereka bertiga; Mencaci maki sahabat Thalah, Zubair, dan Muawiyah serta para sahabat Nabi yang lain, karena dinilai telah kafir menentang Imam Ali RA.

Mereka juga mengajarkan untuk mencela dan melaknat Ahlulbait Nabi khususnya Ummul Mukminin Aisyah RA; Memprovokasi dan membangkitkan semangat pengikutnya untuk memerangi Ahlussunnah. Karena Ahlussunnah meridhai selain Ali sebagai imam dan khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA; Meyakini pemerintah yang sah sekarang ini hanyalah pemerintah imam Mahdi yang Ghaib atau pemerintah seorang wali al-faqih yang loyal kepada Imam Mahdi, yang disebut dengan istilah wilayatul faqih. Dan, atu-satunya negara wilayatul faqih adalah Iran.

Akhirnya, Syiah Houthi, mengambil nama deklaratornya, berkembang dan meniru Hizbullah di Lebanon. Mereka membentuk milisi bersenjata bernama Anshar Allah, yang dibiayai oleh Iran dan dikenal degan “Khoutsiyyin”. Inilah yang menjadi penyebab perang terjadi, mereka melakukan pemberonrakan dan berhasil menguasai kota-kota vital di Yaman, termasuk Sanaa sebagai ibu kota negara, bahkan pernah berhasil menyandera presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, walau pada akhirnya Al-Hadi lepas dan meminta bantuan pada negara-negara teluk dengan surat yang begitu menyentuh, menyebut para tetangganya sebagai, akhy.

Isi suratnya, sebagaimana ditulis KH Agus Hasan Basori, bahwa Al-Hadi mengutip piagam PBB tentang  hak pembelaan diri setiap bangsa, dari gangguan yang mengancam keselamatan negara, dan kesepakatan antar-negara Teluk untuk bersama-sama saling melindungi.

Atas dasar ini, beliau mempersilakan para pemimpin negara Teluk untuk segara mengatasi pemberontak Syiah Houthi di Yaman dengan kaffah wasail (semua sarana).

Maka pada hari Rabu malam Kamis, 25 maret 2015, negara-negara Teluk yang dipimpin Saudi Arabia melakukan gempuran terhadap posisi pemberontak Syiah Houtsi. Lalu terjadilah perang hingga hari ini. Para pendukung Syiah di belahan dunia pun berang, tak terkecuali di Indonesia. Padahal, kekejaman Syiah Houthi begitu besar sehingga sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam menolong saudaranya yang dizalimi dan ditindas.

Atas dasar itu pula, Ikatan Ulama Asia Tenggara, termasuk di Indonesia secara sebuat suara mendukung serangan Koalisi Teluk Pimpinan Arab saudi terhadap pemnerontak Syiah Houthi berdasarkan kekejaman, dan kejahatan yang mereka lakukan.

PERNYATAAN SIKAP

Atas Nama Ikatan Ulama seAsia Tenggara mengeluarkan pernyataan bahwa: Negeri Yaman sejak beberapa tahun terakhir dilanda berbagai pergolakan dan tragedi. Hal yang paling memilukan adalah terjadinya pembunuhan kaum muslimin, termasuk ulama dan pelajar yang dilakukan oleh milisi Syi’ah Hautsi.

Mereka juga melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah sehingga keamanan di kawasan tersebut semakin terancam termasuk terhadap dua kota suci Mekkah dan Madinah. Hal mana mengundang Arab Saudi dan negara-negara teluk melakukan operasi militer atas permintaan presiden Yaman yang sah.

Inisiatif negara-negara teluk ini mengundang kontroversi di kalangan ummat dan tokoh-tokohnya, bahkan ada yang tanpa mengetahui duduk masalah di sana telah memberikan vonis atau penilaian negatif atau sinis. Untuk itu demi melaksanakan kewajiban untuk menyampaikan dan membela kebenaran, juga sebagai solidaritas sesama ummat, kami menyampaiakan penjelasan atau risalah ini, dalam poin- poin berikut ini:

Pertama. Mendukung inisiatif Operasi Militer negara-negara teluk yang dipimpin oleh Arab Saudi untuk melumpuhkan gerakan milisi pemberontak Syi’ah Hautsi dengan beberapa alasan kuat sebagai berikut: a. Untuk menyelamatkan rakyat Yaman dari pemberontak Syi’ah Houtsi yang telah melakukan serangan dan pembunuhan terhadap kaum muslimin dan para ulama serta pelajar, termasuk pelajar Indonesia di Yaman; b. Untuk mencegah gangguan keamanan dikawasan tersebut dan menyelamatkan dua kota suci dari ancaman pemberontak Houtsi dan negara atau pihak yang mendukungnya; c. Inisiatif operasi militer tersebut adalah atas permintaan dari presiden yang konstitusional yang dipilih oleh mayoritas rakyat Yaman; d. Operasi ini telah disetujui dan didukung penuh oleh Liga Arab yang terdiri dari 28 negara Arab; e. Operasi ini juga didukung oleh Negara-negara Islam lainnya seperti: Turki, Pakistan dan Malaysia.

Kedua. Meminta agar kiranya serangan ini betul-betul diarahkan pada pusat pusat kekuatan pemberontak Houtsi dan menghindari obyek sipil yang tidak ada kaitannya dengan milisi Houtsi atau orang-orang yang tak berdosa, dimana kami berkeyakinan bahwa para pimpinan dan panglima operasi telah memperhitungkan hal itu secara cermat.

Ketiga. Mengingatkan kepada para pemimpin Islam dan rakyat Yaman agar berhati- hati terhadap pemanfaatan pihak-pihak musuh yang anti Islam, yang senantiasa berusaha mengail di air keruh memanfaatkan situasi ini untuk kemaslahatan mereka dan kemudharatan kaum muslimin.

Keemoat. Meminta Pemerintah Indonesia dan pemimpin negara Islam lainnya untuk membantu rakyat Yaman memperoleh keamanan dan tegaknya konstitusi mereka bersama dengan negara-negara teluk dan liga Arab. Sebab bila operasi penyelamatan ini berlansung lama dan pemberontak Syiah Houtsi tetap eksis maka dapat mengganggu keamanan di kawasan tersebut, termasuk pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Juga dapat menjadi tempat yang subur bagi berkembangnya gerakan gerakan radikal, yang tentu saja dapat melebar keberbegai penjuru dunia termasuk Indonesia.

Kelima. Mengingatkan pemerintah Indonesia dan kaum muslimin di Indonesia pada umumnya agar mewaspadai tumbuh dan berkembangnya gerakan seperti pemberontak Hautsi tersebut yang merupakan sempalan dari syi’ah Zaidiyah setelah pendiri kelompok tersebut menganut faham Syi’ah Imamiyah. Kita hendaknya tidak memandang remeh dengan adanya sekolompok kecil Syi’ah di Indonesia saat ini yang telah mulai mengalami perkembangan pesat, di mana mereka telah berani menunjukan kekerasan dan serangan serta ancaman mereka kepada para da’i dan ulama, bahkan para tokoh Ahlussunnah. Mereka juga begitu getol mencaci dan melaknat sahabat serta istri Nabi kita tercinta Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau keadaan ini terus berlanjut dan jumlah serta prosentasi mereka semakin banyak maka dapat menyebabkan perang saudara dan terancamnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (wana’uzu billahi min zalik).

Keenam. Mendukung upaya Pemerintah Indonesia untuk mengupayakan perlindungan WNI di Yaman dan memulangkan mereka yang terancam keselamatannya sebagai bentuk nyata eksistensi negara yang melindungi warga dan rakyatnya. Kami pun mengharapkan apabila keamanan di Yaman telah pulih, kiranya pemerintah dapat memberikan bantuan bagi kembalinya mereka ke sana untuk melanjutkan pendidikan dan menuntut ilmu yang sangat bermanfaat bagi ummat dan bangsa Indonesia kelak insya Allah.

Sumber: Islam Pos

Dari Suriah Untuk Yaman: Syiah Tidak Akan Mengalahkan Umat Islam

Jatuhnya Yaman ke tangan pemberontak Syiah Hautsi sejak September 2014 lalu telah mengundang perhatian umat Islam dan ulamanya. Salah satunya adalah Syaikh Abdullah Al-Muhaisini. Dari bumi jihad Suriah, beliau menyampaikan keutamaan Yaman, kondisi saat ini dan hal mendesak yang harus dilakukan oleh umat Islam. Berikut pesannya seperti diungkapkan di laman twitternya:

Saudara-saudaraku di mana pun kalian berada, kita mencintai saudara-saudara kita di Yaman karena Allah dan mereka pun mencintai kita dengan alasan yang sama! Saya berbicara terutama saya tujukan kepada para tokoh dan singa-singa Yaman, sekarang, kami tidak sedang berbicara kepada kalian tentang tenda-tenda Muslim Syam, tetapi tentang jatuhnya kota Shan’a.

Kota Shan’a telah melahirkan Imam As-Syaukani, Ibnu Amir Ash-Shan’ani, Ibnu Wazir, Al-Mu’alimi, dan masih banyak ulama lain.

Kabar gembira penaklukan Shan’a telah disampaikan oleh Nabi saw ketika sedang menggali parit perang Khandaq, beliau berkata, “Aku melihat gerbang Shan’a dari tempatku ini.” Maksudnya bahwa Yaman akan ditaklukkan sampai ke Baghdad dari Persia.

Shan’a dikabarkan oleh Nabi saw bahwa Islam akan menguasai dan mengaturnya. Beliau berkata, “… sehingga seorang yang berkendara dari Shan’a ke Hadramaut tidak akan takut kecuali hanya kepada Allah dan dari serangan serigala.”

Beliau mengabarkan tentang penduduk Yaman bahwa mereka adalah masyarakat yang paling lembut hatinya. Beliau bersabda, “Keimanan ada di Yaman dan hikmah juga terdapat di Yaman.”
Sekarang saatnya kita membuktikan keyakinan tersebut wahai umatku dan para mujahidin di Yaman.
Apa yang terjadi hari ini pada negeri kalian adalah persekongkolan yang hampir-hampir langit terbelah karenanya.

Allah dan orang-orang mukmin akan melihat amal kalian. Demi Allah, kami tahu kalian adalah manusia yang kuat dalam peperangan, sabar ketika bertemu dengan musuh. Tidak mungkin 10% Syiah Hauthi akan mengalahkan 90% Ahlus Sunah. Mustahil, cucu-cucu Ibnu Saba’ bisa menghancurkan cucu-cucu Abu Bakar dan Umar.

Yaman adalah amanah di pundak kalian. Sejarah akan mencatat sikap kalian hari ini. Sungguh, Islam akan datang dari perjuangan kalian. Wahai singa-singa Yaman, kami mengetahui kekuatan dan keteguhan kalian ketika di Damaj, kalian mampu mengusir seluruh Syiah Hauthi.

Demi Allah tidak mungkin para pengikut Abdullah bin Saba’ akan menguasai Shan’a kalau bukan karena pengkhianatan Presiden Hadi dan antek-anteknya.

Wahai penduduk Yaman, ingatlah bahwa pendiri Syiah Rafidhah adalah Abdullah bin Saba’. Ia adalah seorang Yahudi dari Shan’a, yang pura-pura masuk Islam untuk menghancurkannya. Sekarang, cucu-cucunya telah menguasai Shan’a.

Dahulu, Baghdad telah dijajah oleh Tatar, dengan bantuan Ibnu Alqami, seorang Rafidhah pegawai pemerintahan sendiri. Hari ini anak cucunya membukakan pintu bagi penjajah Amerika di Irak.
Inilah yang mereka inginkan: jatuhnya Shan’a.
Ibnu Taimiyyah berkata, “Demikian juga, jika orang-orang Yahudi memiliki negara di Irak, atau di wilayah lain, maka Syiah Rafidhah menjadi pendukung utama mereka! Mereka selalu setia kepada orang kafir.”

Ibnu Hazm berkata, “Kami tidak pernah mengetahui penduduk negeri mana pun yang lebih bernafsu untuk merusak Islam selain Rafidhah.” Kerusakan Rafidhah hari ini sudah tidak ada yang tersembunyi lagi bagi siapa pun.

Wahai para ksatria Yaman yang berwibawa, orang-orang memilih damai hingga Rafidhah datang dan menjajah San’a. Namun Allah telah memilih jihad untuk kalian.

Kami tahu tentang kalian bahwa kalian menolak kehinaan dan tidak akan tidur dalam kerendahan diri. Maka ingatlah sabda Nabi saw, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan menghinakan mereka.”

Demi Allah apa yang terjadi sekarang seolah-olah kami sedang membaca firman Allah, “Rencana yang jahat tidak akan menimpa kecuali orang yang merancang itu sendiri.” (Fathir: 43). Mereka telah membuat makar dan Allah pun membuat makar wahai para pejuang Yaman! Semoga Allah meneguhkan kalian

Saya tidak mengatakan besok, tetapi sekarang juga, wahai saudaraku para mujahid! Bersatulah dalam satu barisan dan janganlah berpecah belah wahai para ksatria!

Universitas Al-Iman—Allah telah memuliakan saya untuk mengunjunginya—adalah medan pertempuran tang terhampar di depan klaim, lantas apa yang masih kalian tunggu? Mereka menghancurkan rumah-rumah Allah dan menghina Bunda (Aisyah r.ah) kalian.

Wahai para pemuka kabilah, jika kalian berjihad maka bagi kalian pahala dan pahala bagi keluarga Anda. Jika kalian mundur—semoga Allah melindungi kalian—maka bagi kalian dosa kalian dan dosa orang-orang yang mundur karena kalian.

Wahai Syaikh yang mulia (Abu Basir Al-Wuhaisyi) dan segenap saudaranya, janganlah kalian mengabaikan saudara-saudara kalian. Kalian adalah para pahlawan dan ksatria perang. Ingatlah Allah!

Bukalah front untuk melawan musuh-musuh kalian, berlemah-lembutlah kepada saudara kalian, dan terimalah orang-orang baik dan satukanlah umat dalam satu barisan.
Wahai pasukan kuda Allah, majulah! Wahai tentara Ansharus Syariah, bertempurlah!
Perang telah dimulai! Gempurlah mereka dengan senjata dan bom kalian!

Allah telah memberi kenikmatan kepada kalian dengan menyadarkan kalian tentang keburukan Ali Saleh dan Hadi serta antek-anteknya. Mereka adalah serigala-serigala berbulu domba! Bagaimana dengan Syiah yang telah mencengkeramkan makarnya, apa reaksi kalian?

Wahai para pemuda Yaman, dari sini dan dari Syam aku ingatkan kalian, jika sekarang kalian tidak mau berjihad maka kalian telah melakukan dosa besar, dosa yang paling besar daripada dosa-dosa yang lain. Rasulullah saw bersabda, “Akan datang pada umat ini suatu zaman; para qari Qur’an mereka akan berkata, ‘Sekarang bukanlah zaman untuk berjihad.’ Barang siapa menemui masa itu, maka itulah masa jihad yang paling indah.

Jika mereka memalingkan kalian dari jihad, meninggalkan jihad, maka katakan kepada mereka, “Kami takut ancaman dari Allah Rabb semesta alam.”
“Jika kalian berpaling ke belakang maka kalian akan diazab dengan azab yang pedih.”

Apa yang kalian tunggu? Sekarang pintu-pintu jihad telah terbuka. Rumah-rumah di Surga telah dibuka. Bidadari-bidadari yang cantik telah berhias. Lalu adakah orang yang menjawab seruan ini?
Di manakah orang-orang yang siap?

Dan kalian wahai konglomerat Yaman, bantulah saudara kalian para mujahidin dengan harta kalian dan ketahuilah bahwa Allah telah mendahulukan jihad harta (sebelum jihad jiwa) dalam banyak firmannya.
Terakhir saya katakan (firman Allah), “Janganlah engkau menyangka bahwa itu buruk bagi kalian tapi itu adalah baik bagi kalian.”

Berapa banyak kita butuh waktu untuk meyakinkan masyarakat tentang kejahatan Ali Saleh dan antek-anteknya, terutama dengan keberadaan para ulama su’. Dengan alasan penguasa telah membangun masjid agung, mereka menjadikan itu sebagai kebaikan yang menutupi semua bentuk kemurtadan yang dilakukan dan semua perang terhadap Islam yang dilancarkan. Allah telah membongkar aibnya dengan keadilan-Nya.

Ya Allah berilah kemenangan kepada para Mujahidin di Yaman dengan hikmah dan iman. Satukanlah barisan mereka. Tolonglah agama dan Kitab-Mu melalui mereka. Bimbingkanlah mereka untuk menapaki jalan nabimu. []

%d bloggers like this: