Konspirasi Yahudi Capai Palestina

by FAZZAN POST

Setelah konspirasi berhasil mencapai tujuannya di Jerman, sasaran berikutnya ditujukan kepada bumi Palestina. Mereka mengincar Palestina sebagai impian lama yang kini hampir tiba di ambang pintu. Sebagaimana telah kita singgung terdahulu, bumi Palestina akan dijadikan poros bagi program dan titik pemusatan kegiatan internasional bagi Konspirasi. Hal ini bisa dimaklumi, karena Palestina adalah pusat terpenting wilayah Timur Tengah dan Timur Dekat.

Secara geografis, Palestina merupakan jalur penghubung antara tiga benua, yaitu Afrika, Eropa dan Asia. Di samping itu, kekayaan emas hitam yang terdapat di wilayah itu merupakan kebutuhan dunia dalam jumlah melimpah. Dengan demikian, politik Zionisme telah meletakkan dua sasaran yang hendak dicapai untuk menuju ke Palestina, yaitu :

1) Memaksa negara di dunia untuk mengakui negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina, yang kemudian akan dijadikan pusat kegiatan Konspirasi untuk meletakkan memprakarsai Perang Dunia III.

2) Menguasai seluruh sumber kekayaan alam yang terdapat di wilayah itu.

Berikut ini diketengahkan tahapan program kerja yang akan dijadikan landasan bagi pelaksanaannya. Langkah pertama, mereka mengeluarkan deklarasi Balfour tahun 1917 yang telah mengikat Inggris, Perancis dan Amerika Serikat untuk mendukung berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di bumi Palestina.

Untuk melaksanakan hal itu, jenderal Allenby langsung diberi instruksi untuk memukul mundur pasukan Turki Utsmani keluar dari wilayah Timur Tengah dan menduduki Yerusalem. Penguasa Inggris sengaja merahasiakan deklarasi Balfour selama masa operasi militernya, dengan dukungan pasukan Arab nasional, pengkhianat ummat di bawah bendera Syarif Hussein, Amir Makkah.

Sedang para pemilik modal internasional pada saat operasi militer Inggris di wilayah Palestina masih berlangsung, telah mendesak pemerintah Inggris untuk menentukan perwakilan Organisasi Zionisme di Palestina, dan menentukan anggota politisi Zionis untuk menjadi anggota perwakilan itu. Tuntutan itu diajukan kepada penguasa militer Inggris di Palestina, jenderal Crayton, dan segera dikabulkan pada bulan Maret 1915. Politisi yang menjadi anggota perwakilan itu adalah :

  1. Kolonel Orampsey Rigor, yang kelak menjadi direktur Bank Standard di Afrika Selatan, yaitu sebuah bank yang menguasai pertambangan emas dan logam mulia lainnya di Afrika Selatan. Dan dia pula yang mendukung dana kepada sistem politik Apartheid.

  2. Haim Weizman yang kelak menjadi perdana menteri Israel pertama.

  3. Komite perwakilan Zionisme ini telah berada di Palestina sebelum diadakan perundingan damai, bahkan sebelum Perang Dunia I usai. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan momen yang tepat sebelum masalah Palestina dibicarakan di forum mendatang, yaitu perjanjian Versailles. Kemudian perundingan damai dimulai, dan para pemilik modal internasional membuka kedok.

Tampak jelaslah pengaruh mereka. Kita tidak perlu memperjelas lagi, tapi cukup dengan menyebutkan beberapa analisa singkat. Dalam perundingan ini, ketua utusan Amerika adalah Paul Warburg, yang sebelumnya telah kita sebutkan sebagai wakil pemilik modal internasional di Amerika Serikat. Ketua utusan Jerman adalah saudara kandung Paul sendiri, Mark Warburg. Jangan lupa, Mark mewakili negara musuh sekutu yang kalah perang.

Sementara itu, Paul mewakili negara yang menang perang. Perundingan damai seperti itu lalu menjadi perundingan pemerasan, yang seluruh keputusan yang berbuntut jahat dan mengakibatkan timbulnya bahaya itu bisa disetujui. Pada masalah yang berhubungan dengan Palestina, sejumlah tokoh Zionis Inggris dalam perundingan itu meletakkan rancangan pemerintahan perwakilan Inggris di wilayah itu, di antaranya adalah :

  1. Profesor Philex Frankfurner, yang kelak menjadi penasihat presiden di Gedung Putih pada masa pemerintahan Franklin Roosevelt.

  2. Sir Herbert Samuel, komisioner tinggi pertama di Palestina setelah pendudukan pasukan Inggris.

  3. Lushian Wolf, seorang penasihat pribadi perdana menteri Inggris Lloyd George.

Ketika perundingan pendahuluan dimulai, penasihat khusus bagi perdana menteri Perancis Monscour Clemenceau adalah Madell. Nama ini adalah nama samaran. Nama yang sebenarnya adalah Rothschild, yaitu salah satu anggota keluarga besar Rothschild. Sedang salah satu penasihat presiden Amerika Serikat yang menjadi delegasi dalam perundingan itu adalah Mr. Morganthow, yang putranya kelak memegang kementerian keuangan pada masa pemerintahan Roosevelt.

Telah kita sebutkan, bahwa para pemilik modal internasional tidak segan-segan mencampakkan topeng mereka. Untuk membuktikan hal ini, berikut ini dikutipkan beberapa kalimat yang ditulis oleh Lushian Wolf dalam bukunya yang berjudul Steadies on The Jewish History halaman 408 :

“Sejumlah nama politisi muncul pada perundingan perdamaian, dan yang menandatangani perjanjian itu atas nama negara-negara Italia, Perancis dan India adalah tokoh-tokoh Yahudi yang mewakili negara masing-masing. Mereka adalah Baron Somito mewakili Italia, Louis Cloudes mewakili Perancis, dan Edvin Montagio mewakili India. Mereka semua adalah orang Yahudi.

Sebaiknya baik pula untuk kita simak kata-kata beberapa penulis yang tidak perlu kita beri komentar. Seorang sejarawan Inggris terkenal Harold Nicolon dalam bukunya “Menciptakan Perdamaian” 1919-1944 (Making Peace 1919-1944) halaman 44 mengatakan, bahwa Lushian Wolf minta secara pribadi kepadanya, agar ia mau menunjukkan pendapatnya tentang orang-orang Yahudi yang harus diberi perlindungan internasional. Dalam waktu yang sama mereka juga harus diberi hak seperti layaknya warga negara lain, di mana pun mereka berada.

Seorang penulis Perancis George Pateau dalam bukunya yang diberi judul “Masalah Yahudi” (The Problem of the Jews) halaman 38 mengatakan : “Tanggung jawab diberikan kepada orang Yahudi yang telah mengelilingi presiden Amerika Serikat Wilson, perdana menteri Perancis Clemenceau dan perdana menteri Inggris Lloyd George, dalam menyulap perundingan damai menjadi perundingan Yahudi.”

Selanjutnya perlu juga disinggung mengenai peristiwa yang terjadi pada saat perundingan berlangsung di Paris tahun 1919, saat presiden Wilson pada mulanya mengajukan pendapatnya yang sangat jitu. Akan tetapi sayang, tiba-tiba ia mendapat telegram tertanggal 28 Maret 1919 terdiri dari 2000 kata, yang dikirim kepadanya secara pribadi oleh Yacob Sheiff, wakil pemilik modal internasional di Amerika, yang telah kita sebutkan berulang kali.

Telegram itu berisi gagasan pihak yang diwakili Yacob Sheiff mengenai 5 masalah internasional, yaitu masalah Palestina, pampasan perang yang harus dibayar oleh Jerman, masalah Sisilia, Terusan Danring dan wilayah Sarre (Jerman). Telegram ini telah mempengaruhi pendirian presiden Wilson, dan membuatnya berubah pendirian, sehingga jalan perundingan dibuatnya berputar haluan.

Duta besar Perancis untuk Inggris, pada waktu itu De San O’clear melukiskan peristiwa itu dalam bukunya mengenai politik yang kelak ia tulis, berjudul “Jenewa menuju Perdamaian” (Jeneve Towards Peace) menyebutkan, bahwa isi teks yang terkandung dalam perjanjian Versailles berkenaan dengan 5 masalah itu adalah hasil rancangan Yacob Sheiff dan orang-orang sedarahnya.

Masalah Palestina merupakan agenda pembicaraan yang paling banyak difokuskan oleh para peserta. Sebelum gerakan Yahudi terselubung selesai menentukan pemerintahan perwakilan Inggris di Palestina dalam perundingan damai itu, mereka telah mengalihkan program mengenai point yang lain, yaitu persiapan untuk merancang pecahnya Perang Dunia II.

Maka isi rumusan perundingan damai yang dibebankan kepada Jerman sangat tidak adil dan memberatkan. Hal ini merupakan bibit-bibit ketidakpuasan di kalangan bangsa Jerman yang kelak menimbulkan dendam nasional. Begitulah kenyataan yang terjadi dalam peristiwa berikutnya.

Konspirasi tidak lupa untuk menoleh kepada usul mengenai pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (Nations League) Yang telah disahkan dalam perjanjian Versailles. Maka tidak mengherankan kalau forum internasional ini kelak menjadi ladang subur bagi penanaman berbagai rancangan yang dibuat oleh Konspirasi, sekaligus menjadi kuda tunggangan bagi para pemilik modal internasional.

Oleh sebab itu, kelak tokoh Zionis kenamaan Nachom Sokolov, kepala Komite Eksekutif Konferensi Zionisme menjadi berbangga diri dalam badan internasional ini. Pada tanggal 25 Agustus 1952 ia mengatakan, bahwa Liga Bangsa-Bangsa adalah hasil buah pikiran orang-orang Yahudi. Pernyataan ini dikutip secara harfiah oleh kolonel M.H. Seen dari Amerika, dalam bukunya “Tangan Kotor” (The Filty Hand), yang sengaja ia tulis untuk memperingatkan bangsa Amerika mengenai bahaya Zionisme.

Juga perlu kita perhatika pernyataan Weekham Syde, seorang pakar dalam masalah internasional dan pimpinan redaksi harian besar berbahasa InggrisThe Tunes. la berkali-kali menyinggung adanya pengaruh terselubung yang dilakukan oleh para pemilik modal Yahudi internasional. la menulis buku besar dengan judul “Selama 30 Tahun” (In the past 30 Years). Dalam halaman 301-302 ia mengatakan:

Ketika Winston Churchill mengadakan kunjungan ke tanah Palestina tahun 1921, delegasi Arab datang untuk menyambutnya. Mereka menjelaskan kepadanya tentang ketidakadilan dan kekejaman langkah-langkah kebijakan yang ditempuh pemerintah Inggris untuk memenuhi cita-cita Zionisme, yaitu menguasai bumi Palestina. Mereka mengemukakan, bahwa bangsa Arab telah mendiami bumi itu sejak ribuan tahun yang silam. Mereka minta agar Churchill sudi mengusahakan adanya penyelesaian mengenai ketidakadilan ini. Akan tetapi Churchill menjawab:

“Masalah itu di luar wewenang kekuasaanku, di samping aku sendiri juga tidak setuju. Bahkan kami yakin, bahwa yang telah digariskan dalam deklarasi Balfour ini akan lebih baik bagi kemaslahatan dunia, bagi kerajaan Inggris dan bagi bangsa Arab sendiri. Kami akan tetap mewujudkan rencana itu.”

Tidak seorang pun bisa membayangkan, bagaimana perasaan delegasi Arab yang mendengar jawaban Churchill itu, yang terus terang menunjukkan keterlibatan Churchill dengan program terselubung Zionisme. Bahkan kami pribadi (penulis) baru tahu masalah ini setelah tahun 1954, pada saat Churchill mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat dalam suatu pertemuan dengan Bernard Baruch, seorang Yahudi yang memainkan pecan penting dalam politik Amerika Serikat dari balik layar selama bertahun-tahun, pada masa pemerintahan Roosevelt yang menjabat sebagai kepala penasihat presiden di Gedung Putih.

Pada pertemuan itu Churchill menyatakan, bahwa dia adalah seorang Zionis, dan akan tetap sebagai orang Zionis. Mungkin ketika menjawab delegasi Arab, Churchill masih teringat ancaman terbuka kepada Inggris, yang dikeluarkan oleh tokoh Zionis terbesar, Haim Weizman yang dimuat dalam majalah Gudesha edisi ke 4 tahun 1920, yang bunyinya secara harfiah sebagai berikut :

“Kami akan tetap hidup berdiam di tanah Palestina, baik Anda mau atau tidak. Maka langkah yang paling baik untuk Anda lakukan sekarang adalah mempercepat proses imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina atau memperlambat sedikit. Namun yang paling baik bagi Anda adalah membantu kami supaya kekuatan kami tidak berbalik menentang Anda. Kami sekarang berada dalam barisan bersama Anda. Dan Anda semua tahu, bahwa kami punya kekuatan di setiap penjuru dunia”.

Ancaman seperti itu bukan satu-satunya. Dalam konferensi Zionisme yang diadakan di kota Budapest ibukota Hunggaria tahun 1919, para tokoh Zionis peserta konferensi mengeluarkan ancaman terbuka kepada dunia. Pernyataan yang bernada mengancam seperti itu juga datang dari Hain Weizman sendiri. Ia mengatakan :

“Organisasi Zionisme kita akan memainkan perannya dalam mengatur dunia baru pada masa pasca perang. Kitalah yang menciptakan Liga Bangsa-Bangsa, dan kita akan berjalan di belakang program yang telah kita buat. Tujuan dan kepentingan yang kita inginkan telah kita tentukan sebelumnya.”

Kami (penulis) menyelesaikan penulisan bab ini tahun 1944, setelah mempelajari dokumen dan data-data yang sebelumnya kami kumpulkan. Akan tetapi, setelah 8 tahun kemudian sesuai dengan jabatan kami dalam pemerintah sebagai perwira inteligen rahasia, kami mendapatkan sebuah dokumen rahasia berbahaya.

Kami merasa wajib untuk menyertakan beberapa bagian dari dokumen itu dalam bab ini, mengingat masalah ini punya arti tersendiri, yaitu yang berhubungan dengan konferensi puncak Sidang Darurat Para Pendeta Yahudi se-Eropa, yang diadakan di Budapest tanggal 22 Januari 1952. Berikut ini adalah ringkasan dari dokumen tersebut yang mengandung beberapa paragraf harfiah, yang memungkinkan kami memuatnya, yaitu :

‘Laporan dari Eropa tentang konferensi puncak Sidang Darurat Pendeta Yahudi se-Eropa, pidato rahasia yang disampaikan oleh pendeta tertinggi Yahudi Emanuel Robinovich tertanggal 12 Januari 1952.

Selamat berbahagia putra-putraku . . .

Kalian telah terpanggil untuk mengadakan pertemuan istimewa ini untuk mengkaji masalah dan rancangan pokok bagi program kita yang baru, yaitu program yang berkaitan dengan perang yang akan datang, sebagaimana yang kalian telah ketahui. Rancangan kita semula membutuhkan tenggang waktu 20 tahun, sehingga kita mendapatkan seluruh keuntungan yang dihasilkan dari Perang Dunia II.

Akan tetapi, beberapa pertimbangan baru mengharuskan adanya pengurangan jangka waktu 5 tahun lebih dini. Langkah-langkah yang masih kita lakukan demi tujuan kita, sejak 3000 tahun yang lalu sekarang telah berada dalam jangkauan tangan kita. Sebentar lagi kita pasti akan bisa memetik buahnya, dengan syarat kita harus melipat gandakan usaha keras dengan menggunakan pikiran dan pengalaman apa saja yang kita miliki.

Kami bisa meyakinkan Anda sekalian, bahwa beberapa tahun lagi bangsa kita akan bisa mengembalikan posisinya di tempat paling atas di dunia. Ini merupakan hak alami yang telah dirampas semenjak kurun waktu yang sangat panjang. Dan hal ini akan kembali kepada kita seperti semula, sehingga setiap orang Yahudi akan menjadi tuan, dan setiap gentile atau non-Yahudi akan menjadi budak … (aplaus besar).

Sekarang ini, kami akan menawarkan pemikiran tentang perang mendatang. Kalian tentu ingat keberhasilan besar mengenai program yang kita laksanakan sejak tahun 1930. Propaganda besar-besaran yang kita sebarluaskan telah berhasil meniupkan api kebencian di Jerman terhadap dunia Barat dan terhadap unsur semitik. Kemudian kita juga meniupkan rasa kebencian bangsa Barat terhadap bangsa Jerman, yang disebabkan oleh sikap permusuhan Jerman terhadap unsur semitik.

Inilah program pokok yang sekarang sedang kita laksanakan untuk meniupkan rasa kebencian Timur terhadap Barat, dan di Barat terhadap Timur. Kita akan memerangi bangsa-bangsa yang bersikap netral untuk memaksa mereka bergabung dengan blok ini atau blok itu. Kita tidak akan membiarkan seseorang menghalangi jalan yang kita tempuh. Untuk mencapai tujuan awal dari program ini, kita akan menanamkan orientasi militerisme dan naluri perang di Amerika.

Akan tetapi, rancangan undangundang yang kita ajukan kepada kongres Amerika dengan dukungan dari jaksa agung mengenai wajib militer bagi setiap warga Amerika ternyata ditolak. Kita mengalami kegagalan sementara. Kita akan mulai usaha baru lagi dengan bekerja keras, untuk melemparkan tuduhan kepada pihak Uni Sovyet, bahwa negara itu melakukan kebijakan anti semitik, meskipun terdapat hubungan erat antara kita dan Komunisme.

Kita akan mendukung dengan dana dan pengaruh bagi organisasi yang membela unsur semitik, khususnya di Amerika. Tujuan terakhir program ini adalah menciptakan Perang Dunia III, yang akan mengakibatkan kehancuran total, dan pengaruh yang jauh lebih besar daripada seluruh peperangan yang pernah terjadi. Kita akan membuat Israel tetap netral dalam perang ini, sehingga terhindar dari kehancuran.

Setelah itu, Israel akan menjadi tempat sidang-sidang perundingan, pengawasan dan lain-lain, yang saat itu akan diserahi tugas untuk mengawasi bangsa-bangsa yang tersisa. Perang inilah yang akan merupakan pertikaian terakhir dalam sejarah melawan kaum gentiles. Kita kelak akan membuka kedok yang menutupi wajah identitas kita yang sebenarnya di hadapan mata dunia.

Ada sebuah pertanyaan diajukan oleh salah seorang pendeta Yahudi. Saya mohon yang mulia pendeta Robinovich menjawab pertanyaan berikut ini, ‘Bagaimanakah nasib agama-agama setelah Perang Dunia III berakhir?’

Robinovich menjawab, “Di sana tidak akan ada lagi agama setelah Perang Dunia III, dan tidak ada pula tokoh-tokoh agama. Keberadaan agama dan tokohnya merupakan ancaman bagi kita, karena agamalah yang mampu membuat ancaman bagi kita untuk menguasai dunia. Kekuatan jiwa yang ditimbulkan dari iman pemeluk agama akan melahirkan sikap berani untuk menghadapi kekuatan kita. Akan tetapi, kita akan tetap memelihara sebagian dari ajaran agama yang bersifat lahiriah saja. Sedang agama Yahudi akan tetap merupakan pegangan bagi setiap bangsa Yahudi, dengan satu tujuan untuk menjaga tali pengikat antar-bangsa kita, dan sekaligus sebagai tameng untuk menghalangi orang non-Yahudi tidak masuk ke dalam barisan kita melalui perkawinan atau lainnya.”

“Untuk mencapai tujuan akhir, bisa saja kita memerlukan cara yang menyedihkan, seperti pernah kita lakukan pada masa Hitler, yaitu kita sendiri yang mengatur terjadinya peristiwa penindasan terhadap sebagian bangsa kita sendiri. Dengan kata lain, kita akan menumbalkan sebagian putra bangsa kita sendiri pada suatu peristiwa yang akan kita atur dari belakang layar. Kita bisa mendapatkan alasan yang cukup untuk menarik simpati dan dukungan bangsa Eropa dan Amerika, serta dunia pada umumnya dari satu sisi. Sedang dari sisi lain, para tokoh militer yang terlibat perang, seperti pernah kita lakukan dalam pengadilan Nurenburg (Jerman) setelah Perang Dunia II. Tumbal itu mungkin mencapai ribuan nyawa bangsa kita, dan kita sendiri yang akan melakukan pembunuhan terhadap mereka, agar kita bisa melemparkan tuduhan terhadap pihak lain. Meskipun tumbal itu besar, namun kita tidak perlu mengukur besar-kecilnya tumbal demi tujuan kita yang terakhir, yaitu menguasai dunia. Anda sekalian sekarang melihat kemenangan terakhir dengan jelas, seperti melihat gajah di pelupuk mata. Kalian akan kembali ke negara masing-masing setelah konferensi ini untuk mengajak bangsa kita bekerja keras, sehingga akhirnya akan sampai pada suatu saat, di mana Israel akan membuka hakikat diri yang sebenarnya kepada dunia, sebagai tempat memancarnya cahaya yang akan menerangi seluruh jagad.”

Sampai di sini Robinovich mengakhiri pidatonya. Komentar tidak diperlukan lagi. Satu hal yang perlu kita singgung adalah, bahwa kongres itu menguatkan hasil analisa kita sebelumnya, sehubungan dengan masalah anti semitik dan Nazisme dan seterusnya, yang bisa meyakinkan kita, bahwa kekuatan di balik layar yang diatur oleh Zionisme pada hakikatnya adalah kekuatan yang mengeksploitasi gerakan anti semitik dengan memperalat Hitler dan Nazismenya.

Kekuatan itu pula yang sedang merancang dan mendalangi untuk menjerumuskan dunia ke dalam Perang Dunia III. Hitler dan Nazisme bagi orang awam belum banyak dikenal. Banyak yang tidak memperhatikan adanya tangan-tangan terselubung di balik peristiwa yang terjadi di Jerman, yaitu ketika para pemilik modal Yahudi internasional mempersenjatai Nazisme, dan membangun perindustrian Jerman setelah perjanjian Versailles.

Pada saat itu Hitler menggalakkan anti Yahudi. Di sini timbul pertanyaan, mengapa Stalin dan dunia Barat tutup mulut, ketika melihat Jerman bangkit dan membangun militernya kembali secara besar-besaran, yang bisa mengancam dunia Barat dan Rusia? Menurut pengamatan yang cermat, justru Stalin sendiri telah mengadakan perjanjian kerja-sama rahasia dengan penguasa militer di Jerman, bahkan sebelum militer berkuasa untuk melatih dan mempersenjatai angkatan perang Jerman.

Dan lagi, beberapa lembaga keuangan Barat menyalurkan dana-dananya untuk membiayai pembangunan industri persenjataan Jerman. Tokoh-tokoh Barat bukan tidak tahu apa yang terjadi di balik layar di Jerman pada waktu itu, dan kebangkitan kekuatan militernya. Kami (penulis) secara pribadi tahu akan hal itu dengan yakin, ketika kami menghadiri konferensi perlucutan senjata yang diadakan di London tahun 1930.

Hasil studi analitis mengenai periode 1920-1938 dalam sejarah modern yang kami lakukan menunjukkan, bahwa pemilik modal Yahudi internasional telah memusatkan kegiatannya dalam periode ini untuk meraih tujuan-tujuan sebagai berikut :

1) Menyalakan api Perang Dunia II, sesuai dengan program asli semenjak dulu. Mereka berhasil.

2) Memerangi pemerintahan dan pergerakan yang memusuhi mereka di Eropa dengan segala cara dan sarana. Dalam hal ini, mereka juga telah berhasil dengan gemilang, seperti penyingkiran pemerintahan Asquith di Inggris pada masa Perang Dunia I.

3) Memaksa Inggris, Perancis, kemudian Amerika Serikat untuk menyetujui berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Pada masa Perang Dunia I Inggris telah menjanjikan para pemilik modal Yahudi internasional untuk mendesak Amerika Serikat lewat organisasi Yahudi di Amerika, agar negara itu terlibat dalam perang bersama sekutu dengan imbalan, bahwa Inggris akan membela cita-cita Zionisme. Data-data inteligen angkatan laut menunjukkan, bahwa peristiwa penyerbuan Jerman terhadap kapal perang Amerika, Lusiana, kemudian tenggelam adalah sebuah peristiwa yang sengaja dirancang sebelumnya sebagai preteks agar Amerika Serikat melibatkan dirinya dalam Perang itu, persis penyerbuan Pearl Harbour oleh angkatan udara Jepang tahun 1941, sehingga Amerika-Serikat ketika itu bisa terjun dalam kancah Perang Dunia II.

Adapun naskah asli dalam perjanjian Versailles tentang nasib tanah Palestina di bawah kekuasaan pendudukan Inggris disebutkan dalam rumusan berikut … yaitu untuk mengubah tanah Palestina menjadi sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi. ‘mengubah” menjadi “mendirikan”, dengan maksud menutupi niat buruk bangsa Yahudi sebenarnya di seluruh wilayah itu. Maka rumusan menjadi sebagai berikut:

“His Majesty’s government view with favor the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavors to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which might prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, of the right and political status enjoyed by Jews in any other country.” (Pemerintah baginda raja melihat dengan tatapan belas kasih mengenai berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan akan mengusahakan dengan segala kemampuan pemerintah kerajaan Baginda untuk mewujudkan cita-cita ini. Sebagaimana sama-sama dimaklumi, tidak ada langkah yang akan diambil yang kira-kira bisa menyinggung hak sipil atau agama bagi masyarakat non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status politik yang dimiliki oleh Yahudi di negara lain manapun).

Dalam ulasan terdahulu telah kita bicarakan, bagaimana kekuatan Konspirasi bisa menaklukkan arah politik seluruh negara Eropa pada masa antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II, yaitu politik yang ditandai dengan ketamakan imperialisme dunia Barat dan pemerasan kekayaan terhadap bangsa lainnya di Dunia. Begitu pula periode itu ditandai oleh adanya perpecahan blok militer yang saling berhadapan, hingga pecahnya Perang Dunia II. Oleh karena itu, kita tidak perlu heran, bahwa tujuan paling utama Konspirasi dari Perang Dunia itu adalah mendirikan negara yang akan menjadi pusat kegiatan konspirasi Yahudi terhadap bangsa lain di dunia.

“Kami telah berkali-kali mengatakan, bahwa yang menguasai wajah perjalanan dunia adalah para pemilik modal Yahudi Internasional. Dan yang menggerakan khususnya perundingan damai itu adalah Yacob Sheiff dan kelompok Warburg serta para pemilik modal Yahudi internasional lainnya. Satu-satunya tujuan yang hendak mereka capai adalah menguasai Eropa, khususnya Jerman.”

Sumber: Islam Pos & William G. Car, ”Yahudi Menggenggam Dunia.”

Advertisements