Rohingya, Umat Yang Dilupakan

by FAZZAN POST

Sekiranya kita melakukan tinjauan di kalangan umat Islam hari ini dan bertanya mengenai umat Islam yang tertindas, niscaya kita akan mendapat jawaban Palestin, Afghanistan, Iraq, Chechnya dan sebagainya. Namun tidak banyak di kalangan kita yang menginsafi terhadap permasalahan umat Islam Rohingya.

Selama beberapa decade, orang Islam Rohingya telah menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia yang sistematik dan meluas di tangan junta tentara Myanmar (Burma).

Dalam satu laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Pusat Hak Asasi Manusia Ireland (ICHR), seorang pakar undang-undang hak asasi manusia internasional mengatakan bahwa ”kekejaman massa yang dilakukan oleh kerajaan junta tentara terhadap minoritas Rohingya yang tinggal di daerah Barat Myammar mungkin merupakan antara kejahatan terhebat terhadap kemanusiaan di abad ini.”

Permasalahan mereka telah diabaikan selama bertahun-tahun dan tiada tindakan apapun yang sistematik yang dilakukan untuk membantu mereka meneruskan kehidupan sebagai masyarakat manusia yang normal.

Siapakah umat Islam Rohingya?

Umat ​​Islam Rohingya kebanyakannya tinggal di sebelah barat Burma (kini Myanmar) di Negeri Arakan yang berdampingan dengan Bangladesh. Mereka adalah keturunan daripada para pedagang Arab, Parsi, Turki dan lain-lain yang berkawin dengan penduduk setempat seperti Mughals, Pathan, dan Bengali. Penyebaran Islam di Arakan (dan di sepanjang kawasan pantai selatan Bangladesh) dilakukan oleh para pedagang dan pendakwah dari Asia Barat ini.

Mereka terus menetap di kawasan ini untuk masa yang panjang, berkawin dengan penduduk setempat dan hidup berbaur dengan budaya setempat. Kini, umat Islam Rohingya merupakan 1/3 daripada jumlah penduduk wilayah Arakan, Myanmar dan selebihnya adalah penganut Buddha Arakanese.

Apakah nasib mereka?

Umat Islam Rohingya telah dinafikan daripada hak-hak asasi kemanusiaan dan senantiasa berlanjut kepada pelecehan hak asasi manusia secara konsisten oleh pihak juta tentara Myanmar.

Di antara kekejaman yang dilakukan ke atas mereka, yaitu tidak mengakui kewarganegaraan mereka, tidak diakui akte kelahiran maupun akte perkawinan mereka, perampasan tanah-tanah milik mereka bagi meneruskan proyek pembangunan saluran pipa gas dan minyak yang melintasi  wilayan Arakan, menjadi korban perbudakan modern sebagai buruh paksa seperti bekerja tanpa gaji di proyek pembangunan jalan raya, kereta api, dan bangunan markas tentara, dibatasi makanan sehingga mereka hidup di dalam keadaan kelaparan, dibatasi ekonomi, kesihatan dan pelayanan dasar pendidikan. Wanita-wanita dan remaja perempuan mereka ditindas secara massal oleh tentera Myanmar, penyembelihan secara massal seumpama tragedi 1942 yang mana lebih 100,000 orang di kalangan mereka yang telah dibunuh, dan pada tahun 1978, sebanyak 300,000 di kalangan mereka telah diusir keluar secara massa ke Bangladesh. Kerajaan Bangladesh enggan untuk menyediakan bekal makanan dan keperluan lain sehingga banyak di kalangan warga Rohingya mati kelaparan dan akibat penyakit.

Pada tahun 1991, tentera Burma sekali lagi telah melakukan operasi pembersihan, sebanyak 268,000 ribu warga Rohingya terpaksa melarikan diri karena Myanmar ternyata tidak lagi aman untuk mereka.

Setelah bertahun-tahun melalui tahap penderitaan yang panjang dan besar, mereka mulai mengambil perahu-perahu kecil ke laut terbuka dengan harapan untuk mendarat di suatu tempat sebagai pelarian politik, ekonomi dan agama.

Ada di kalangan mereka yang berhasil mendarat di Thailand, Malaysia, Indonesia dan sebagiannya di Australia. Namun kebanyakan mereka telah ditolak mentah-mentah oleh kebanyakan negara ini.

Bahkan banyak di kalangan ‘orang perahu’ yang mendarat di Thailand telah dihalau kembali ke laut dalam bersama sampan mereka yang telah dicabut mesinnya agar mereka terus hanyut terombang-ambing tanpa arah tujuan. Sebagian daripada mereka terdampar di Malaysia, Indonesia dan Australia tetapi ribuan di kalangan mereka yang telah mati lemas atau kelaparan di tengah laut.

Tiada siapa yang menerima mereka! Bahkan negara-negara yang mengaku mewakili umat Islam juga tidak menerima mereka, sekaligus membuktikan bahwa seolah-olah umat ini ‘tidak ada harga’ kepada mereka.

Umat Islam Rohingya telah memohon diberikan status ‘Pelarian Sementara  Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), sehingga negara-negara lain setuju untuk mengambil mereka buat sementara. Indonesia dikatakan akan mempertimbangkan permohonan mereka untuk tinggal di Aceh buat sementara.

Kalau bukan kita, siapa lagi ?

Permasalahan Rohingya adalah permasalahan umat Islam sedunia. Mereka telah ditindas buat sekian lamanya dan kini sebagian daripada mereka telah mendarat di Aceh bagi mendapatkan perlindungan dan bantuan kemanusiaan daripada saudara seakidah mereka.

Ingatlah, bahawa kepedulian terhadap orang lain terutamanya saudara seakidah adalah sesuatu yang sangat dituntut oleh agama Islam yang luhur ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidak peduli tentang urusan umat Islam, maka bukanlah mereka daripada kalangannya.”

Solusinya

  1. Pemerintah Indonesia seharusnya mengambil inisiatif untuk persoalan umat Islam Rohingya baik di peringkat Internasional dengan menyuarakan permasalahan kronis ini di persidangan OIC, PBB, WHO, ASEAN dan sebagainya.
  2. NGO dan LSM yang ada harus mengambil peran bagi meringankan beban yang dihadapi oleh pelarian Rohingya yang sangat memerlukan bantuan di sudut sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan terutamanya di kalangan anak-anak mereka.
  3. Kalau rakyat Indonesia begitu perihatin dan berbagai NGO telah dibentuk untuk menangani masalah umat Internasional seperti Palestin dan lain-lainnya, kenapa kita abaikan bantuan kepada saudara seakidah yang kini terdampar di negara kita sendiri.
  4. Indonesia dan Negara-negara lainnya seharusnya mengambil peran menunjukkan keperihatinan terhadap isu kemanusiaan yang kronis ini dengan membantu meringankan beban kehidupan demi masa depan mereka.
  5. Kita juga boleh membantu dengan mendoakan keselamatan dan masa depan mereka serta mengikuti perkembangan keperihan hidup umat yang berpanjangan ini.

Dari Nu’man bin Basyir R.A., katanya Rasulullah SAW. Bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi, bagaikan sebuah tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh merasa sakit, tidak dapat tidur dan terasa panas.’’

Advertisements