Aceh Angkat Ratu 374 Tahun Lalu, Yogya Masih Berwacana

by FAZZAN POST

Sabda dan Dawuh Sultan Yogyakarta yang dikaitkan dengan upaya Sultan Hamengku Buwono X untuk mengangkat putrinya sebagai calon raja, mirip dengan yang terjadi di Aceh pada 374 tahun lalu.

Pada 1641, Kerajaan Aceh Darussalam mengangkat Sultanah perempuan pertama, Ratu Safiatuddin. “Kalau melihat sejarah tersebut, Yogya tertinggal jauh dari Aceh,” kata pemerhati sejarah dan budaya Aceh, Iskandar Norman, Senin, 11 Mei 2015.

Menurutnya, Ratu Safiatuddin adalah putri Iskandar Muda yang memerintah Aceh dalam kurun 1607–1636. Setelah Iskandar Muda meninggal, menantunya Iskandar Tsani, yang juga suami Ratu Safiatuddin, didaulat menjadi sultan sampai meninggal pada 1641.

Setelah Iskandar Tsani meninggal, tiga hari sesudah berkabung, para pembesar kerajaan sepakat mengangkat jandanya, Ratu Safiatuddin, menjadi sultanah. “Ada perdebatan-perdebatan juga, tidak semudah yang dibayangkan, karena raja perempuan masih tabu saat itu,” jelas Iskandar Norman.

Sebagian keluarga kerajaan dan pemuka agama, mempertanyakan kelayakan perempuan dalam kedudukan sebagai seorang raja. Para penentang berargumen pengangkatan perempuan sebagai raja tak sesuai dengan hukum Islam. Dalam hukum Islam, menurut tafsiran sebagian pihak. Jangankan menjadi pria, menjadi imam dan menjadi wali pun perempuan tidak diperbolehkan.

Untuk memecahkan kebuntuan, dilakukanlah musyawarah kerajaan. Dalam musyawarah itu, seorang ulama terkemuka di Kerajaan Aceh pada waktu itu, Teungku Abdurrauf as-Singkili, yang dikenal sebagai Teungku Syiah Kuala, menyarankan untuk memisahkan antara urusan agama dan urusan pemerintahan. Maka kukuhlah pengangkatan Ratu Safiatuddin sebagai Sultanah Aceh dengan gelar Seri Sultan Tajul Alam Safiatuddin Syah berdaulat Zil Allah, Fil- alam ibnat Sultan Raja Iskandar Muda Johan Berdaulat.

Dalam banyak buku sejarah disebutkan, Ratu Safiatuddin kemudian memerintah sampai wafatnya pada tahun 1675. Istimewanya setelah itu, tiga periode berturut-turut, Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh perempuan. Mereka adalah Ratu Naqiatuddin Syah (1675-1678 M), Ratu Zakiatuddin Syah (1678-1688 M), dan Ratu Kamalat Syah (1688-1699 M).

Saat para perempuan itu memerintah, Tgk Syiah Kuala adalah ulama besar di Aceh yang diangkat sebagai penasihat kerajaan dengan gelar Kadhi Malikul Adil. Jasa ulama yang begitu besar itu, kini masih dikenang bahkan kerap disebut dalam peribahasa Aceh yakni: adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak (Tgk) Syiah Kuala.

Sumber: Tempo.co

Advertisements