Bolehkah Wanita Haid Menyentuh Mushaf?

by FAZZAN POST

Dalam bab ini para ulama fiqih berbeda pendapat, ada yang membolehkan dan ada yang tidak, sedangkan kalangan yang membolehkanya adalah pendapat jumhur ulama yang dikuatkan oleh 4 madzhab mu’tamad, Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah, dan A-Hanabilah.

Dasar yang umumnya digunakan adalah ayat berikut ini: ”Tidak ada ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” (QS.Al-Waqi’ah : 79). Dan juga berdasarkan Hadits Amr ibn Hazm bahwasanya Rasulullah ahallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim surat kepada penduduk Yaman, ”Hendaklah seseorang tidak menyentuh Al-quran kecuali dalam keadaan suci.”

Sedangkan kalangan yang memperbolehkan menyentuh mushaf adalah dari madzhab Adz-Dzahiriyah, dalil yang mereka gunakan adalah sebagaimana dalil yang sudah disebutkan diatas yaitu nash yang oleh jumhur diartikan sebagai pelarangan, sedangkan dalam madzhab Adzh-dzahiriyah, dalil diatas mempunyai tafsiran yang berbeda. Berikut perincianya :

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Para ulama Al-Hanafiyah sepakat dalam pelarangan wanita haid menyentuh mushaf, dan ada beberapa ulama yang membolehkanya dengan syarat adanya penghalang antara tangan dan mushaf, dapat berupa tissue atau kain yang terpisah dari badanya.

As-Sarakhsi (w. 483 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Al-Mabsuth menuliskan, ”Dan bagi orang yang haid tidak diperbolehkan menyentuh mushaf, masuk masjid dan membaca satu ayat Al-quran dengan lengkap.” Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut, ”Karena mengagungkan Al-quran adalah sesuatu yang wajib, dan bukanlah termasuk mengagungkan apabila ia menyentuhnya dengan tangan yang berhadats dan sebagai dalil adalah diwajibkanya membasuh tangan ketika bersuci, dan tidak pula diperbolehkan menyentuh uang yang bertuliskan ayat Al-quran, dan juga buku tafsir, karena karena menyentuhnya dihukumi sebagaimana mushaf, sedangkan menyentuh buku fiqih tidaklh mengapa.” Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadirmenuliskan sebagai berikut, ”Dan tidaklah diperbolehkan seseorang menyentuh mushaf kecuali dengan adanya penghalang.” Dan Az-Zaila’i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut, ”Dilarangnya membaca Al-quran sebagaimana menyentuhnya bagi wanita yang nifas, junub dan haid kecuali dengan adanya penghalang yang terpisah darinya.”

2. Mazhab Al-Malikiyah

Dalam madzhab Al-Malikiyah pelarangan menyentuh mushaf oleh wanita haid adalah secara muthlaq, adanya penghalang ataupun tidak, tidaklah berpengaruh dan hukumnya tetap haram.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan, ”Tidaklah diperbolehkan seseorang menyentuh mushaf baik secra langsung ataupun dengan penghalang kecuali dalam keadaan suci.” Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirahmenuliskan sebagai berikut, ”Pendapat kami tentang menyentuh mushaf adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala ‘Tidaklah menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci’ dan juga perkataan rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wassalam yang diriwayatkan oleh Amru ibn hazam ‘Tidaklah menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci’.”

3. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Sebagaimana Al-Malikiyah, madzhab ini pun melarang wanita haid menyentuh mushaf secara muthlaq.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnyaAl-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan, ”Dan diharamkan membawa menyentuh mushaf sebagaimana firman Allah ta’ala ‘Tidaklah menyentuh mushaf kecuali orang-orang yang suci’, dan diharamkan pula berdiam diri dimasjid, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Tidak dihalalkannya masjid bagi orang yang haid dan junub’.” Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi’iyah di dalam kitabnyaAsnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut, ”Dan bagi wanita yang haid tidak diperbolehkan menyetubuhinya, begitupula membaca dan menyentuh mushaf.” Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabTuhfatul muhtaj fi syarhi Al-Minhaj menuliskan sebagai berikut, ”Dan tidak diperbolehkanya menyentuh mushaf bagi wanita haid karena keharamanya adalah pasti.” ”Dan tidak diperbolehkanya wanita haid membalik halaman mushaf walampun dengan kayu, ataupun memindahkannya yang mana ia diibaratkan seperti membawanya.” Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabMughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut, ”Diharamkan bagi wanita haid menyentuh mushaf dan membawanya.”

4. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Taimiyah (w. 728 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnyaMajmu’ Fatawa menuliskan, ”Dan diperbolehkan bagi wanita haid membawa mushaf dengan lengan bajunya, asalkan tidak bersentuhan dengan tangan secara langsung.” Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut, ”Keshahihan hukum menyentuh mushaf dalam madzhab kami adalah haram menyentuh kitabnya, sampulnya, begitupun catatan kakinya, berdasarkan dalil al-bai’, yaitu ketika kita menjual atau membeli mushaf maka akan kita dapati semuanya tidak hanya lembaranya atau sampulnya saja.” Di dalam madzhab ini terdapat sebagian ulama yang membolehkan menyentuh mushaf dengan syarat tidak bersentuhan langsung antara tangan dan mushaf, dan solusi yang diberikan bisa dengan menggunakan lengan baju, ataupun yang lainya.

Ada perbedaan pendapat antara madzhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah, yang pada dasarnya keduanya melarang wanita haid menyentuh mushaf kecuali dengan penghalang. Yang menjadi perbedaan diantara mereka adalah menurut madzhab Al-Hanafiyah penghalang yang harus terpisah dari tubuh sang wanita, sedangkan menurut Al-Hanabilah diperbolehkan menggunakan kain yang sedang dipakai.

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan,”Membaca Al-quran, sujud tilawah, menyentuh mushaf serta berdzikir adalah diperbolehkan, baik dilakukan oleh orang yang mempunyai wudhu atau tidak, bagi orang yang junub, begitupun haid.” ”Bagi orang yang melarang menyentuh mushaf dengan dalil firman Allah ta’ala ” Tidaklah menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci”. Maka alasan ini tidak bisa dijadikan i perintah, kecuali dengan dalil, karena kalimat “Tidak menyentuhnya” bukanlah kata perintah, akan tetapi khabar. Dan Allah tidak pernah berkata kecuali sesuatu yang benar, dan tidak diperbolehkan merubah lafadz khabar menjadi perintah atau amr kecuali dengan adanya nash yang jelas.”

Advertisements