Sekularisme dalam Ilmu, Siapa Memulai?

by FAZZAN POST

Penting ditegaskan bahwa Islam memiliki konsep ilmu tersendiri dibandingkan dengan peradaban dan agama lain yang pernah dan masih ada saat ini. Namun secara spesifik, penekanan konsep ilmu menurut Islam dimaksud adalah untuk menjadi pembeda dengan konsep keilmuan Barat yang telah menjadi anutan dan rujukan hampir semua umat Islam di negara mana pun, termasuk Indonesia.

Inilah yang dikoreksi Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas, bahwa tidak ada yang lebih rusak dalam sisi pemikiran saat ini melebihi konsep ilmu yang diaplikasi lalu ditularkan Barat terhadap dunia, lebih khusus kepada umat Islam.

Penting karena, apa yang dimaksud ilmu sebagai kebenaran hakiki dalam Islam tidak dianggap ilmu oleh Barat. Wahyu yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis adalah sebuah kebenaran mutlak dari Allah lewat Rasulullah, namun bagi Barat itu bukan ilmu karena dianggap tidak ilmiah dan irasional.

Penjabaran ini melemparkan kita untuk berdiskusi jauh ke ranah filsafat, dalam kasus ini, epistemologi ilmu, atau bahasa lugasnya “pengetahuan asas sebelum berilmu”. Menurut Barat, sumber ilmu itu sangat materialistik dan rasionalisme-empiris, sumber ilmu harus kasat, terlihat jelas dan rasional, untuk itulah, akal dan pancaindra adalah alat utama untuk mendapatkan ilmu (fisik), sedangkan wahyu yang berbentuk metafisik itu, tidak dapat dinalar dengan pancaindra, maka wahyu jelas bukan ilmu, hanya mitos dan khayalan.

Sebenarnya aliran empirisme ini perkembangan dari aliran-aliran sebelumnya, yang tentu saja masih wujud di sekitar kita. Diawali dengan Georgians, salah seorang tokoh sophisme sekitar abad ke-4-5 sebelum Masehi. Pernah menggunakan logikanya bahwa tidak ada yang maujud dalam alam nyata ini, katanya, Kalau di sana ada sesuatu yang maujud, tentu saja ia wujud dari ketiadaan, maka hal itu mustahil karena tidak mungkin sesuatu mewujudkan dirinya, kalau ada yang wujud sebelumnya, maka ini akan mengakibatkan tasalsul, yakni perurutan yang tidak berakhir dan juga tidak berawal.

Protagoras, filosof sophisme lainnya, mendukung, katanya, Tidak ada yang mandiri dari apa yang tergambar dalam benak kita. Apa yang dianggap oleh seseorang benar adalah nisbi, yakni benar untuknya sedang orang lain juga memiliki persepsi apa yang dianggapnya benar. Kesimpulannya, tidak ada yang dinamakan kesalahan, karena semuanya nisbi.

Pandangan sophisme pun merebak ke kalangan sufi nyeleneh yang berpendapat bahwa siapa yang berkata ‘dalam maujud ini ada selain Allah, maka dia telah berbohong!’ Ucapan konyol ini dapat disanggah dengan lugu, sambil dibungkam dengan pertanyaan, Jika demikian, siapakah yang berbohong itu?

Aristoteles (384-322 SM) datang, ia berhasil mementalkan argumen-argumen kaum sophis yang meragukan wujud nyata oleh pancaindra melalui keberhasilannya merumuskan apa yang dinamai “logika Aristo”. Filosof ini berhasil memformalkan prinsip-prinsip pemikiran dan merumuskan sejumlah ketentuan dasar dalam menetapkan sebuah konklusi/natijah, (Shihab, 2006: 129).

Tapi menurut Prof Al-Attas, justru Aristoteles yang menjadi pelopor utama sekularisme. Menurutnya, Aristoteles telah meresmikan sekularisme dalam filsafat dan kehidupan ketika ia mengeluarkan dan memisahkan Tuhan dari manusia dan alam. Ini karena Aristoteles bermaksud hendak menyelamatkan Tuhan dari “terhina” dengan sisi perubahan yang dialami oleh alam dan manusia. Lebih berbahaya lagi, implikasi dari pandangan Aristoteles itu, ketika didefinisikan bahwa Tuhan tidak boleh berpikir tentang makhluk-Nya tetapi hanya tentang Diri-Nya sendiri (Wan Daud, 2007: 15).

Masalah ini berlarut-larut karena mereka tidak memiliki sumber pengetahuan yang normatif kecuali akal dan tradisi yang selalu bertentangan antar satu dengan lainnya, sehingga kebenaran menurut mereka selalu berubah berdasarkan setting ruang dan waktu. Inilah yang membedakan konsep ilmu dalam Islam yang berpandukan pada pancaindra, rasio, intuisi, dan paling utama adalah wahyu. Firman Allah, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibu kamu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, aneka penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur, (QS. An-Nahl [16]: 78) adalah bagian dari epistemologi dasar dalam Islam.

Cukup banyak ayat menegaskan bahwa sumber ilmu itu mencakup mata, telinga, intuisi (hati) dan akal, bahkan perintah untuk melakukan perjalanan di bumi juga dikonotasikan sebagai bagian dari metode menemukan ilmu, dan kita yakin bahwa pengalaman adalah guru yang baik, experience is the good teacher.

Selain akal, intuisi (hati), dan pancaindera (al-khawas al-khamsah) sebagai sumber untuk memeroleh ilmu, epistemologi Islam juga mengenal khabar shadiq, atau true report alias berita yang tidak diragukan kebenarannya, dalam hal ini, wahyu termasuk di dalamnya. Umat Islam memandang bahwa wahyu, baik Al-Qur’an maupun hadis adalah kumpulan berita dengan seleksi yang ketat dan tidak mungkin terjadi kesangsian dan kesalahan, orang-orang yang terlibat dalam kodifikasi (pengumpulan dan penulisan) adalah manusia-manusia yang shadiq, atau kejujurannya tak terbantahkan.

True report juga bisa dianalogikan begini: saya tidak tau jika dilahirkan oleh pasangan Abdul Kadir dan Siti Hawa, tetapi saya mengakui kalau mereka berdua adalah orang tua saya yang telah mengandung, melahir, dan membesarkan saya. Dari mana saya tahu? Hanya informasi dari kedua orang tua, dan orang-orang di sekitar saya, informasi itulah disebut true report,kabar yang tidak disangsikan kebenarannya.

Karena kebenaran berita yang saya terima bersifat mutlak dari orang-orang di sekitar keluarga di Bonto Cani, maka tidak dibutuhkan tes deoxyribose-nucleic acid (DNA) untuk mengetahui siapa sebenarnya kedua orang tua saya. Informasi ini menjadi sebuah keyakinan yang pasti pada diri saya, karena kebenarannya mutlak seratus persen, maka ia juga disebut sebagai ilmu. Dan, para penganut mazhab empiris-rasionalisme seharusnya meragukan siapa orang tua mereka sebelum dibuktikan dengan tes DNA. Wallahu A’lam!

Sumber: Islam Pos

Advertisements