FAZZAN POST

Khayrunnaas Anfa'u Linnaas

Benarkah Khilafah Ciptaan Ulama Saja?

FAZZANPOST – Meskipun pembahasan tentang Khilafah dilarang di Indonesia, namun saat ini diskusi tentang Khilafah justru sangat marak. Beberapa tokoh nasional, termasuk mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof Mahfudz, termasuk yang paling getol menggulirkan diskusi dan pembahasan tentang Khilafah. Baru-baru ini, beliau mengajak diskusi dengan siapa saja tentang Khilafah. Dalam suatu seminar nasional ‘Tantangan NKRI di Tengah Penetrasi Ideologi Transnasional’ di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Kamis (7/12/2017), beliau mengatakan: “Saya nantang siapa saja, di mana saja, di dalam forum yang terbuka. Yang bisa menunjukkan kepada saya, tentang adanya Kholifah atau Khilafah tentang adanya Khilafah sebagai sistem pemerintahan, ya di dalam Al-quran dan al-hadis. Saya katakan kalau Khilafah banyak, tapi bukan dari Al-quran dan al-hadis. Itu adalah ciptaan para ulama berdasar kebutuhan, waktu, dan tempat masing-masing”

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI menganut sistem khilafah, tapi berbeda-beda. Hal tersebut bisa berbeda karena, dalam Al-quran dan hadis, sistemnya tidak diajarkan. “Kenapa beda? Ya karena memang Al-quran dan al-hadis tidak mengajarkan sistemnya. Prinsipnya nilainya mengajarkan bahwa khilafah harus berkeadilan. Tapi kalau sistemnya seperti apa, tidak ada,” ujar beliau.

 

Tulisan ini akan berusaha membahas tema seputar Khilafah, terutama tentang benarkah bahwa Khilafah hanyalah ciptaan ulama? Apakah 57 negara yang tergabung dalam OKI adalah Khilafah? Benarkah jika fakta penerapan sesuatu berbeda-beda berarti tidak ada ajarannya?

*****

Jika dikatakan bahwa para ulama telah membahas tentang Khilafah, maka saya sangat setuju dengan pernyataan itu. Saya setuju bukan karena apa-apa, tetapi faktanya para ulama memang telah membahas tentang Khilafah. Secara obyektif, jika kita membaca kitab-kitab para ulama, maka kita akan dengan mudah mendapati pembahasan tentang Khilafah.

Imam Ar-Razi, misalnya, dalam kitab Mukhtar ash-Shihah halaman 186, menjelaskan:
الخلافة أو الإمامة العظمى، أو إمارة المؤمنين كلها يؤدي معنى واحداً، وتدل على وظيفة واحدة و هي السلطة العيا للمسلمين

“Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim”.

Imam Ibnu Khaldun, dalam kitab Al Muqaddimah, halaman 190 berkata:
وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام أ . هـ
“Dan ketika telah menjadi jelas bagi kita penjelasan ini, bahwa imam itu adalah wakil pemilik syariah dalam menjaga agama serta politik duniawi di dalamnya disebut khilafah dan imamah. Sedangkan yang menempatinya adalah khalifah atau imam”.

Dua bukti di atas, lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa Khilafah memang telah menjadi pembahasan para ulama. Tentu ada ribuan ulama lain dalam ribuan kitab-kitab beliau yang membahas tentang Khilafah.

Hal ini tidak dibahas panjang lebar, karena saya dan Prof Mahfudz sepertinya “sudah sepakat”.
Selanjutnya, pembahasan akan diarahkan tentang tema yang lebih krusial, benarkah bahwa Khilafah itu hanya ciptaan para ulama’, yang tidak ada landasan dari al-qur’an atau al-hadits?

Pada titik ini, saya sangat berbeda dengan Prof Mahfudz. Sepengetahuan saya, ulama tidak akan sembrono berani menciptakan sesuatu yang tidak ada landasan dari al-qur’an dan al-hadits. Para ulama itu bukan pencipta ajaran Islam. Para ulama itu hanya menjelaskan Islam yang tentu saja sumbernya berasal dari al-qur’an, hadits, dan ijma’ para shahabat. Bisa saja para ulama berbeda dalam memahami detil ajaran Islam, tetapi sekali lagi ulama bukanlah pencipta ajaran Islam.

Jika kita merujuk pada hadits-hadits shahih, secara obyektif, maka kita akan menemukan pembahasan yang banyak tentang Khilafah.

Misalnya sabda Nabi bahwa pada suatu zaman tidak boleh ada dua orang Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia, bahkan Rasulullah memerintahkan akan membunuh yang teakhir dari keduanya. Rasulullah saw bersabda:
«إِذاَ بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلأَخِرَ مِنْهُمَا»
“Jika dibaiat dua orang Khalifah, bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (Shahîh Muslim, no. 1853).
Hal yang sama dinyatakan oleh Rasulullah, tetapi dengan redaksi yang berbeda. Dalam hal ini memang Rasulullah tidak menggunakan redaksi “Khalifah”, tetapi “Imam”.

Beliau bersabda:
مَنْ بَايَعَ إَمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخِرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخِرَ
“Siapa saja yang membai’at seorang Imam, lalu ia memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya kepadanya, hendaklah ia menaati imam itu sekuat kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaan Imam itu maka penggallah leher orang lain itu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Masih dalam substansi yang sama, tetapi dengan redaksi yang lain lagi Rasulullah saw bersabda:
«مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ»
“Siapa saja yang datang kepada kalian—sedangkan urusan kalian berada di tangan seseorang, kemudian dia hendak memecah-belah kesatuan jamaah kalian, maka bunuhlah.” (HR Muslim).
Dalam hadits ini, Rasulullah menggunakan istilah jama’ah kalian.

Dari contoh beberapa hadits shahih di atas, bahwa Rasulullah terkadang menggunakan kata “Khalifah”, “Imam”, “Jama’ah”, dan dalam hadits lain menggunakan istilah sulthan, maka para ulama memahami bahwa: Khalifah, Imam, dan Sulthan itu maksudnya sama (mutaradif). Sekali lagi, ini bukan ciptaan ulama. Tetapi ini adalah dari hadits Nabi yang kemudian dipahami dan ditulis di dalam kitab oleh para ulama.

Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah halaman 190:
وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام
“Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (Khalifah) dan bahwa ia adalah pengganti dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) Khalifah dan Imam”.

Imam Nawawi dalam Rawdhah ath-Thalibin juz X, halaman 49, menegaskan:
يجوز أن يقال للإمام :الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين
“Boleh saja Imam itu disebut dengan: Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin”.
Belum lagi jika merujuk pada ijma’ para shahabat. Saat Rasulullah wafat, para shahabat berijma’ untuk segera memilih dan mengangkat Khalifah sepeninggal beliau, bahkan mereka lebih mendahulukan memilih Abu Bakar sebagai Khalifah, dibanding mengurusi jenazah manusia paling mulia di dunia, Rasulullah saw. Inilah yang kemudian dipahami oleh para ulama bahwa mengangkat Khalifah merupakan kewajiban yang sangat urgen.

Sekali lagi, hal inilah yang kemudian dipahami dan dituliskan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya. Tetapi sekali lagi, ini bukan ciptaan para ulama’.

Syeikh Ibnu Hajar al-Haitamiy al-Makkiy dalam kitab Ash-Showa’iqul Mukhriqoh, jilid 1 hal 25 menyatakan:
اِعْلَمْ أَيْضًا أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ الْإماَمِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اشْتَغَلُوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ وَاخْتِلَافِهِمْ فِي التَّعْيِيْنِ لَا يُقْدَحُ فِي الْإجْمَاعِ الْمَذْكُوْرِ
“Ketauhilah (juga) bahwa sesungguhnya para shahabat ra telah ijma’ (sepakat) bahwa sesungguhnya mengangkat Imam setelah lewatnya masa kenabian itu wajib, bahkan mareka menjadikan kwajiban tersebut sebagai kewajiban yang paling penting, dimana mereka lebih menyibukkan (diri mereka) dalam pengangkatan imam tersebut dibanding memakamkan Rasulullah saw, sedangkan perbedaan mereka (para sahabat) dalam penetapan siapa yang ditunjuk tidaklah merusak ijma’ yang disebutkan (di atas)”.

Hal yang sama diungkapkan oleh banyak sekali ulama, baik ulama salaf maupun kholaf. Misalnya Imam ‘Alauddin Al-Kasani Al-Hanafi, dalam kitab Bada’iush Shanai’ fii Tartibis Syarai’, juz 14, halaman 406. Beliau berkata:
“.. وَلِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ ، وَلَا عِبْرَةَ – بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ – ؛ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ ؛ لِتَقَيُّدِ الْأَحْكَامِ ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنْ الظَّالِمِ ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لَا تَقُومُ إلَّا بِإِمَامٍ ، …
“…dan karena sesungguhnya mengangkat imam agung itu adalah fardhu. Tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq mengenai masalah ini. Perbedaan sebagian kelompok Qadariyyah sama sekali tidak perlu diperhatikan, berdasarkan ijma’ shahabat ra atas perkara itu, serta kebutuhan terhadap Imam yang agung tersebut; serta demi keterikatan dengan hukum; dan untuk menyelamatkan orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutuskan perselisihan yang menjadi sumber kerusakan, dan kemaslahatan-kemaslahatan lain yang tidak akan terwujud kecuali dengan adanya Imam…”

Hal ini sangat jelas, begitu jelasnya sehingga saat seseorang mempertanyakan legalitas Khilafah, sama artinya mempertanyakan legalitas Abu Bakara Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mempertanyakan legalitas para Khalifah Ar-Rasyidah, meskipun wajar secara akademis, tetapi sepertinya sangat tidak etis (tidak beradab) dilakukan oleh orang yang meyakini Islam ala ahlus sunnah wal jamaah (ASWAJA). Namun, jika itu dilakukan oleh kelompok Syia’ah, tentu kita sangat maklum, karena ajaran mereka memang seperti itu.

*****

Kita beralih ke pembahasan kedua, apakah 57 anggota OKI adalah Khilafah?
Sebelum kita membahas ini, sepertinya ada argumen yang kontradiktif. Jika Khilafah dipertanyakan orisinalitasnya sebagai ajaran Islam, mengapa harus mengatakan bahwa anggota OKI adalah Khilafah? Apakah ini sebetulnya adalah pengakuan tersembunyi, bahwa Khilafah memang ajaran Islam dan ajaran yang akan membawa kebaikan? OK, kita tidak bahas hal ini. Ini tema yang lain.

Benarkah OKI adalah Khilafah? Sepanjang yang saya tahu, tidak ada satu pun negara OKI yang secara formal mengaku sebagai Khilafah. Jika ada, saya yang awam ini mohon diberi tahu. Para pemimpinnya pun tidak mau disebut Khalifah. Bahkan, banyak para pemimpin negara OKI yang mengkriminalisasi ajaran Khilafah dan mempersekusi perjuangan Khilafah. Saya tidak akan memberikan contohnya, karena tanah tempat kita berpijak telah menjadi saksi bisu atasnya.

Memang ada satu dua orang atau tokoh yang terkadang menyebut sebagian negara OKI adalah Khilafah. Salah satunya adalah Prof Mahfudz. Tetapi ini pernyataan tidak resmi. Secara resmi, Indonesia menganut sistem republik. Oleh karena itu, banyak yang pasang badan siap mati demi melawan Khilafah di nusantara ini karena dianggap akan mengganti republik ini.

Toh, memang sah-sah saja mengklaim Indonesia sebagai Khilafah atau negara maju atau negara termakmur di dunia. Hal paling penting untuk diajukan atas klaim ini adalah: apa buktinya bahwa Indonesia adalah Khilafah atau negara maju atau negara paling makmur?

Jika Khilafah adalah pelaksanaan nilai keadilan, maka berdasarkan pernyataan Prof Mahfudz beberapa tahun sebelumnya, Indonesia tentu saja jauh dari klaim sebagai Khilafah, karena tidak adanya keadilan. Prof Mahfudz, menyatakan bahwa sistem politik politik di Indonesia semakin mahal, elite juga semakin jelek karena sistem yang dibangun mendorong ke arah korupsi. Kemudian beliau mengatakan sendiri: “Malaikat masuk ke dalam sistem Indonesia pun bisa jadi iblis juga”.  Sekali lagi beliau mengatakan bahwa korupsi ini sitemik, bukan sekedar faktor individu.

Lebih-lebih lagi jika kita merujuk kepada pilar suatu sistem dikatakan Khilafah, maka semua anggota OKI sekarang tidak ada yang sesuai dengan kriteria Khilafah. Misalnya Syeikh Mahmud Abdul Majid Al-Khalidi dalam kitab Qawa’id Nizham al-Hukm fî al-Islam bahwa dalam sistem Khilafah paling tidak terdapat empat pilar, yaitu: 1. Kedaulatan berada di tangan Allah swt 2. Kekuasaan berada di tangan umat 3. Adanya satu orang Khalifah di seluruh dunia adalah kewajiban 4. Khalifah adalah yang memiliki wewenang mengadopsi dan menetapkan suatu undang-undang atau peraturan.

Dalam hal ini, saya tidak keberatan jika dikatakan jika kriteria itu adalah ijtihad ulama’. Tetapi, berpatokan pada kriteria yang dibuat oleh ulama tentu lebih akademis, daripada berpatokan pada sesuatu yang tidak ada kriterianya. Mengatakan bahwa Indonesia saat ini adalah termasuk Khilafah, merupakan pernyataan tanpa kriteria.

Sementara mengatakan bahwa Indonesia saat ini belum menganut sistem Khilafah, kriterianya sangat jelas. Pilar pertama dari 4 pilar tersebut sangat tidak terpenuhi oleh Indonesia. Di Indonesia yang menganut sistem demokrasi, yang berdaulat adalah rakyat. Sementara menurut Syeikh Al-Khalidi, pilar pertama dari sistem Khilafah adalah kedaulatan di tangan Allah swt, atau dengan bahasa yang lebih sederhana sumber hukum negara dalah al-qur’an dan al-hadits atau yang ditunjukkan oleh keduanya (ijma’ sahahabat dan qiyas syar’i).

Di Indonesia, pelaksanaan beberapa hukum Islam memang tidak dilarang, seperti sholat, zakat dan lain sebagainya. Tetapi beberapa hukum syariah yang lain dilarang. Yang paling sederhana adalah hukum potong tangan bagi pencuri. Ini menunjukkan bahwa kedaulatan bukan di tangan Allah dan secara otomatis (menuru kriteria yang dibuat oleh ulama) mengeluarkan Indonesai untuk layak disebut Khilafah.

Kemudian tentang Arab Saudi, yang disebut oleh Prof Mahfudz sebagai model Khilafah yang berbeda. Beliau mengatakan: “Jadi jangan berpikir mau mengganti sistem yang radikal karena tidak ada di dalam Al-quran dan hadis sistem yang betul-betul menurut Islam seperti apa? Tidak ada. Arab Saudi yang dikatakan negara Islam di sana banyak korupsi juga sehingga sekarang terjadi pemecatan-pemecatan di kalangan elite, katanya Islam itu Khilafah.”

Pertanyaan kritis layak diajukan di sini, benarkah Arab Saudi itu Khilafah?
Jika dikaji secara obyektif, Arab Saudi itu bukan Khilafah dan tak sudi disebut Khilafah. Arab Saudi menganut sistem kerajaan atau monarki yang disebut “Kerajaan Arab Saudi” atau “Al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Sa’ūdiyah” atau “Kingdom of Saudi Arabia (KSA)”. Sehingga terjadinya korupsi di Arab Saudi tidak bisa dijadikan argumentasi untuk mengkriminalisasi ajaran Khilafah. Memang diakui, beberapa hukum Islam diterapkan di sana, meski tidak secara kaffah. Sistem ribawi juga dilegalisasi di KSA.
Bahkan dari beberapa sumber sejarah menyatakan bahwa berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat “pemberontakan” terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang bawahan Jenderal Allenby (Craig Unger, Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006). Sama seperti di Indonesia, Arab Saudi juga sangat muak dengan ajaran Khilafah. Oleh karena itu, mengatakan Arab Saudi sebagai Khilafah, mungkin akan membuat marah raja di sana.

*****

Sekarang kita bahas point yang ketiga: Benarkah jika fakta penerapan sesuatu berbeda-beda berarti tidak ada ajarannya dan hanya bisa dimaknai sebagai nilai saja?

Untuk menbahas hal ini, kita perlu membuat komparasi, sholat misalnya. Sepanjang yang saya tahu, beberapa tata cara sholat antara umat Islam yang bernaung dalam Jamiyyah Nahdotul Ulama (NU) dan umat Islam yang bernaung dalam Manhaj Wahaby-Salafy, sedikit berbeda. Memang perbedaan itu hanya pada wilayah furu’. Misalnya tentang bacaan qunut dalam sholat subuh atau bacaan bismillah di awal surat alfatihah. Bisakah secara akademis disimpulkan bahwa tidak ada ajaran tentang tata cara sholat dengan argumentasi jika ada ajarannya mengapa bisa berbeda-beda?
Yang saya yakini, bahwa baik ulama di Jamiyyah NU dan di Manhaj Wahaby-Salafy semua merujuk pada dalil syariah. Meski demikian, dalam pemahaman dan kesimpulan akahir bisa jadi berbeda. Namun, pernyataan bahwa perbedaan menunjukkan tidak ada dalilnya, menurut saya kesimpulan yang agak tergesa-gesa.

Pemahaman tentang detil dalam Khilafah memang para ulama terkadang berbeda. Menurut Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkamus Shultaniyyah, misalnya, seorang Khalifah syaratnya harus bersuku Quraisy. Sementara menurut pemahaman Syeikh Taqiyuddin An-Nabhany dalam Kitab Nidzomul Hukmi Fil Islam, bahwa Khalifah tidak disyaratkan harus Quraisy. Quraisy itu bukan syarat in’iqod (syarat sahnya seseorang menjadi Khalifah), tetapi hanya keutamaan saja. Baik Syeikh Mawardi maupun Syeikh Taqi berpedoman pada dalil syariah, hanya saja pemahaman dan kesimpulan beliau berdua berbeda dalam hal ini.

Jika memang kesimpulan berbeda sementara mereka sudah menempuh metode yang benar, maka sikap kita mestinya harus tasamuh dan berlapang dada. Tentu saja, kita tetap dianjurkan untuk terus mengkaji sehingga mendapatkan kesimpulan yang rajih menurut kita.

Dalam beberapa hal, antara Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar juga berbeda. Bahkan perbedaan itu kadang terjadi saat Rasulullah masih hidup. Kisah yang sangat masyhur diantaranya dalam menyikapi tawanan perang Badar termasuk dalam masalah ini. Abdullah bin Mas’ud ra. berkata bahwa ketika para tawanan itu dibawa ke hadapan Rasulullah saw., Abu Bakar ra. berkata, “Ya Rasulullah! Mereka adalah kaum kerabatmu. Bebaskanlah mereka dan jangan dibunuh. Mungkin mereka akan bertaubat.” Sedangkan Umar ra. berkata, “Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang mendustaimu dan menyakitimu. Mereka telah memaksamu keluar dari Mekkah. Sebaiknya mereka dibunuh.” Para sahabat berselisih pendapat dalam hal ini. Rasulullah saw. pun berdiam diri. Kemudian beliau memasuki rumahnya, lalu keluar dan bersabda, “Allah menyebabkan hati sebagian orang menjadi lembut, lebih lembut daripada susu. Dan Allah menyebabkan hati sebagian orang keras, sehingga lebih keras daripada batu.”

Jadi, adanya pebedaan dalam beberapa hal, belum tentu bisa disimpulkan tidak ada ajaran atau tidak ada dalilnya. Dan saat terjadi perbedaan, sepertinya kita memang harus terus belajar tentang tasamuh. Menganggap orang lain atau kelompok lain sebagai fundamentalis, anti kebhinekaan, dan memecah belah masyarakat dan lain sebagainya mestinya harus diremove dari database orang-orang yang berilmu.

*****

Demikian pandangan saya tentang Khilafah. Menurut pemahaman saya, Khilafah adalah ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah, dilaksanakan oleh para shahabat dan ditulis oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya.

Khilafah adalah ajaran Islam terkait syariah dalam urusan publik. Khilafah insya Allah akan mewujudkan suatu negeri menjadi baldatun thayyibatun wa robbun ghafur. Baik muslim atau non muslim akan hidup aman dan adil di dalamnya. Khilafah yang benar-benar mengikuti jalan kenabian tidak akan berprilaku dzalim dan berbuat semena-mena. Hukum memang dari Allah (al-quran, hadits), tetapi pelaksana Khilafah adalah manusia biasa. Seorang Khalifah bisa berbuat salah, ia juga bisa berbuat dzalim, saat tidak mengikuti syariah, sehingga muhasabah merupakan sesuatu yang muthlak dalam Khilafah. Tetapi, mengatakan bahwa Khilafah tidak ada ajarannya dan semua Khalifah suka berbuat sewenag-wenang, merupakan generalisasi yang tidak bertumpu pada fakta historis yang akurat.
Ijinkan saya sedikit berbeda dengan pandangan Prof Mahfudz. Beliau adalah tokoh intelektual muslim yang saat ini dimiliki oleh dunia Islam dan sangat saya kagumi. Semoga Prof Mahfudz selalu dalam lindungan Allah dan selalu dalam kondisi sehat. Amiin.
Wallahu a’lam bish showab.

By Choirul Anam

Advertisements

Terompet Sesangkala Sudah di Mulut Malaikat Israfil?

FAZZANPOST — Tidak ada yang tahu pasti kapan ketiga tiupan terjadi. Namun tahukah anda jika saat ini terompet sangkakala tersebut sudah berada di bibir Malaikat Israfil? Hanya tinggal menunggu perintah, maka kiamat tidak akan bisa dihindari. Ingin tahu selengkapnya? Berikut ulasannya.

Kebenaran terompet sangkakala ini sudah banyak dijelaskan Allah SWT di dalam Alquran. Bahwa sebelum kiamat nanti terompet akan ditiup sebanyak tiga kali. Tiga tiupan tersebut sudah dijelaskan dalam Alquran. Diantaranya dalam surat An-Naml: 87 dan az-Zumar: 68.

“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87).

Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Jarak antara kedua tiupan itu adalah empat puluh”

“Ya Abu Hurairah, apakah empat puluh itu?” tanya sahabat.
“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah
“Apakah empat puluh bulan?” tanya sahabat
“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah
“Apakah empat puluh tahun?” tanya sahabat lagi

“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah. “Kemudian Allah menurunkan hujan, maka tumbuhlah manusia seperti pepohonan. Ketika itu tubuh anggota tubuh manusia rusak, kecuali sebuah tulang, yaitu tulang punggung bagian bawah (ekor). Dari tulang itulah manusia dihimpun kembali bentuknya kelak pada hari kiamat ” (HR.Syaikhoin)

Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Meski tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan datangnya, namun Nabi Muhammad SAW mengabarkan jika waktunya sudah dekat. Bahkan, kini terompet tersebut sudah berada di bibir Malaikat Israfil.

Abu Sa’id ra. Mengungkapkan, Nabi Muhammad SAW bersabda “Bagaimana aku dapat merasakan nikmat, sebab malaikat pemegang sangkakala sudah memasukan sangkakala (ke mulutnya). Dan Ia pasti akan langsung meniup sangkakala itu, jika telah mendengar perintah untuk meniupnya,”

Para sahabat yang mendengarkan merasa takut, lalu Rasulullah SAW bersabda “Ucapkanlah, Cukupkanlah Allah sebagai penolong kami, dan Dia sebaik-baiknya pelindung. Hanya kepada Allah lah kami bertawakkal (berserah diri).” (HR. Tirmidzi)

Lantas, bagaimana dengan kita yang hidup 1400 tahun setelah Nabi? Bukankah kedatangan kiamat semakin dekat lagi? Semoga, setiap hari kita bisa menambah pundi-pundi amal, sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang kekal. []

Sumber: Islampos

 

Istri Sedekah Tanpa Izin Suami, Bolehkah?

Sedekah dapat dilakukan oleh wanita atau pun laki-laki. Bagi kaum laki-laki yang sudah menikah tentu tidak masalah jika ingin mengeluarkan sedikit dari rezekinya kepada orang yang membutuhkan. Tapi, bagaimana dengan seorang istri?

Istri Ka’ab bin Malik menyerahkan perhiasannya kepada Rasulullah SAW sebagai sedekah. Beliau berkata, “Tidak dibenarkan seorang wanita bersedekah dari hatinya kecuali dengan izin suaminya.” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau sudah mendapat izin dari suamimu?” “Sudah,” jawab istri Ka’ab. Rasulullah belum mantap mendengar jawaban itu. Beliau mengutus seorang sahabat menemui Ka’ab, tanyanya, “Apakah engkau merestui sedekah istrimu itu?”. “Ya, benar,” jawab Ka’ab. Rasulullah pun menerima sedekah itu.

Jadi, walau pun sedekah itu merupakan suatu perbuatan yang baik, sebagai seorang istri tetaplah harus memiliki izin dari suami, walau pun harta yang diberikan itu miliknya sendiri (bukan harta suami). Karena sebagai seorang istri, mentaati suami merupakan suatu kewajiban yang mestilah didahulukan.[]

Sumber: Islampos

Suami Penyebab Utama Pudarnya Kecantikan Istri

FAZZANPOST – Semua benda yang baru dilihat atau baru dimiliki akan terlihat bagus dan memesona. Ketika barang atau benda itu dirawat dengan baik, ia akan tetap terlihat bagus. Tapi tidak selamanya. Sebab satu di antara karakter barang atau benda adalah mengalami penyusutan.

Penyusutan bersifat alami. Itu bagian dari sunnatullah. Sebab tidak ada yang kekal, kecuali Allah Ta’ala. Semua makhluk-Nya pasti mengalami penyusutan.

Selain penyusutan, ada hal lain yang menyebabkan sebuah benda atau barang terlihat kurang bagus. Ialah ketika seseorang menemukan barang atau benda lain yang lebih bagus dan lebih canggih fiturnya. Kebanyakan manusia mengalami hal ini. Sayangnya, tidak semuanya mampu mengambil pelajaran.

Istri itu makhluk Allah Ta’ala. Manusia. Ia tak ubahnya benda atau barang. Hanya, istri merupakan barang antik dan berharga. Begitu pun suami.

Istri pasti mengalami penyusutan. Usia bertambah. Kulit yang tak sebening dan sekencang dahulu. Wajah yang makin keriput. Rambut yang kian tak lembut dan lurus. Dan fungsi-fungsi tubuh yang mengalami penurunan.

Ini alami. Meski dibantu dengan make up dan perawatan secanggih apa pun, tua itu kepastian. Penurunan kualitas tak mungkin dipungkiri.

Jika seorang suami merasakan berkurangnya kecantikan istri karena penyusutan, hal ini bukan menjadi masalah. Asal ia tetap bersyukur dengan karunia Allah Ta’ala. Toh, dia juga yang menjadi sebab penyusutan kualitas sang istri.

Akan tetapi, menjadi masalah besar tatkala pudarnya pesona istri di hadapan suami terjadi karena sebab kedua.

Karena terlalu sering melihat teman kantor yang kencang-kencang dan bening-bening, bersihnya wajah istri yang senantiasa teraliri air wudhu jadi tertutup.

Sebab terlalu hobi menikmati tayangan iklan di televisi dan media sosial dengan model nyaris tanpa busana, keanggunan istri dalam balutan busana syar’i pun kian tak terasa indah di hadapan suaminya.

Ketika terlalu sering berbincang dengan banyak wanita yang ramah dan gampang menerima di berbagai media, kesantunan istri dalam bertutur menjadi tak menarik lagi.

Ini merupakan fenomena akhir zaman. Masing-masing pihak memiliki saham hingga terjadinya kesalahan, tapi mereka berkelit dan melimpahkannya kepada pihak lain.

Wahai para suami, jangan terlalu sibuk menyalahkan istrimu. Wahai para suami, berkacalah dalam-dalam. Lihatlah ke dalam dirimu sendiri. Bukan soal memberi modal atau tidak, ada hal lain yang lebih penting terkait pudarnya pesona kecantikan istrimu.

Engkaulah yang bertanggungjawab dan akan dituntut pertama kali!

Wallahu A’lam.

Sumber: Islamidia.com

Tidak Shalat, Apakah Ibadah Lain Diterima?

FAZZANPOST – Terkadang sebagian orang sangat rajin ibadah, misal orang sangat dermawan, tetapi tidak melaksanakan shalat, adakah ibadanya yang lain diterima oleh Allah?

Pertanyaan ini amat penting untuk dijawab dan diberikan penjelasan, mengingat ada sebagian cendikiawan muslim memberikan jawaban, “tidak diterima sedekah seseorang yang tidak shalat.” Benarkah demikian adanya?

Shalat kunci diterimanya amal ibadah lain. Hidup di dunia ini ibarat berada dalam antrian, setiap manusia akan mendapatkan giliran untuk dipanggil oleh Allah SWT, sebelum dipanggil kita diberi kesempatan untuk beramal. Segala amal perbuatan yang kita lakukan di dunia ini kelak akan diperiksa dan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah.

Dari sekian banyak amal ibadah kita kepada Allah, ada satu ibadah yang merupakan kunci dari seluruh ibadah dan amal yang lain, bila kita berupaya menjaga, memelihara dan berhasil melaksanakan dengan baik, akan terbuka ibadah dan segala amal yang lain. Adapun kunci dari segala ibadah dan amal yang lain adalah shalat.

Sebagamaina kita maklumi bersama, bahwa shalat lima waktu adalah amanat dan kewajiban utama yang terpenting, bagi semua umat Islam baik laki-laki maupun wanita wajib menunaikan, mendirikan, melaksanakan dan mengamalkannya selama hidup, shalat telah ditentukan tiap waktunya masing-masing.

Allah berfirman, “Sesungguhnya bagi orang Mukmin shalat itu adalah merupakan suatu Kewajiban yang telah ditentukan Waktunya.” (Q.S. An Nisa : 103).

Dan tiada alasan atas kewajiban shalat lima waktu ini untuk ditinggalkan, meskipun ditempat mana berada, dan dalam kondisi situasi apapun, karena Allah Maha Bijaksana dan selalu memudahkan kepada hamba-hamba-Nya. Bila tidak kuasa mendirikan shalat berdiri, diperbolehkan shalat sambil duduk, bila terhalang menenunaikan dengan duduk diizinkan shalat dengan berbaring.

Rasulullah SAW bersabda, “Amal perbuatan seseorang yang pertama kali akan dihisab (diperiksa), di hari kiamat nanti adalah shalat, maka barangsiapa diterima shalatnya, akan diterima seluruh amalnya, dan jika shalatnya ditolak akan tertolak seluruh amalnya.” (HR. At Thabrani, Mundzir dan At Tirmidzi).

Berdasarkan uraian hadis di atas dapat dipahami, bahwa kunci dari seluruh ibadah dan amalan kita adalah shalat, dengan jelas ditegaskan bahwa amal yang pertama kali diperiksa dan ditanyai Allah bila shalat diterima akan diterima seluruh amalnya, jika shalatnya ditolak akan tertolak seluruh amalnya.

Begitu pentingnya ibadah shalat bagi kita umat Islam, sehingga Allah, mengundang langsung Rasulullah untuk menerima amanat dan perintah shalat melalui peristiwa Isra Mi’raj, karena shalat dalam pelaksanaannya adalah merupakan hubungan langsung antara manusia dengan Allah.

Perintah ibadah shalat diturunkan langsung oleh Allah kepada Rasulullah, tanpa melalui perantara malaikat Jibril, seperti halnya perintah ibadah lainnya, shalat mempunyai kedudukan yang utama dalam Islam, sehingga diposisikan sebagai tiangnya agama.

Rasulullah bersabda, “Shalat itu merupakan tiang agama, barangsiapa yang mendirikannya, maka ia telah mendirikan agama, dan barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama.” (HR. Baihaqi).

Para ulama mengatakan bahwa ancaman bagi orang yang meremehkan dan melalaikan shalat, di akhirat kelak akan dijatuhkan kedalam neraka Zaqar, orang-orang yang disiksa di neraka Zaqar itu, hancur tulang belulangnya, kemudian utuh lagi, selanjutnya disiksa lagi terus-menerus hingga terasa benar segala pedih dan sakit deritanya, sebagaimana yang terkandung di dalam kitab suci Al-Quran, “Apa yang menyebakan kamu masuk ke neraka Zaqar??” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami juga tidak memberi makan orang miskin….” (Q.S. Al Muddatsir: 42 – 44).

Menurut huraian di atas, shalat membedakan sekaligus jurang pemisah antara keimanan dan kekufuran, sebagai pencegah terhadap perbuatan keji dan mungkar, serta shalat pula yang membedakan yang mensyukuri nikmat Allah, dan yang menyia-nyiakan. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami (Allah), telah memberimu karunia yang banyak, dan karena itu, jadikanlah shalatmu semata-mata untuk Rabb-mu dan berqurbanlah dengan cara yang demikian ….” (Q.S. Al Kautsar: 1-2).

Shalat yang didirikan dengan khusyuk dan istiqamah, akan melahirkan dialog spiritual antara hamba dengan Allah, sehingga mampu mengatasi dan menjalani segala persoalan kehidupan dengan penuh optimis, sudah semestinya dan sejatinya sebagai seorang mukmin menjalani kehidupan di dunia ini menjadikan shalat dan sabar sebagai penolongnya, sehingga terhindar dari kehancuran dan menghantarkan pada keselamatan dunia dan akhirat.

Berdasarkan dari dalil yang dikemukakan, shalat merupakan faktor penting terhadap bisa diterimanya ibadah-ibadah yang lain, termasuk sedekah. Jadi tidak diterima sedekah seseorang jika ia tidak mengerjakan ibadah shalat, karena shalat merupakan kunci untuk terwujudnya ibadah lainnya.

Namun di sisi lain penulis mempunyai pandangan, bahwa ibadah lain, tidak diterima karena tidak shalat, lebih karena faktor atau kondisi tertentu, bukan semata-mata meninggalkan shalat secara umum. Ini bukan bermakna saya meringankan perbuatan meninggalkan shalat, sama sekali tidak, meninggalkan shalat tetaplah amat berat dosanya, pelakunya akan mendapatkan azab yang sangat berat, bahkan digolongkan ke dalam kelompok orang fasiq. Namun saya hanya ingin mempertajam dari sisi ketergantungan ibadah lain dengan shalat.

Menurut saya, kondisi dibalik tidak mengerjakan shalat sehingga tidak diterima ibadah lain tersebut ialah, “mereka dengan sengaja meninggalkan shalat tanpa dibenarkan oleh syariat, dan sekaligus mereka mengingkari tentang kewajiban shalat itu sendiri.” Jika kondisi seperti ini, maka ibadah lain tidak diterima akibat tidak shalat sebenarnya yang menjadikan tidak diterima ibadah lain lebih karena pengingkaran mereka terhadap kewajiban shalat, bukan semata-mata tidak shalat. Ketika mengingkari kewajiban shalat maka sama saja mengingkari pesan dalam Al-Quran yang mewajibkan shalat, ketika mengingkari bagian pesan Al-Quran yang sifatnya qat’i (tegas, jelas dan lugas) tentang kewajiban shalat, padahal semua persyaratan shalat sudah terpenuhi, baik dari sisi hukum takif (pembebanan) maupun hukum wad’i (faktor penting bisa dilaksanakan suatu yang sudah diperintahkan), maka sama saja dia mengingkari atau tidak percaya terhadap Al-Quran yang efeknya, akibat sikap demikian, ada bagian dari iman yang dicederai, padahal demikian itu tidak boleh terjadi. Jadi alhasil, tidak diterima ibadah lain karena mengingkari Al-Quran sekalipun tidak secara langsung dan terang terangan. Karena bukti keimanan itu harus didukung pula oleh tindakan. Jurang pemisah antara iman dan tidak, menurut saya bukan terletak pada tinggal shalat, sebenarnya pada pengingkaran terhadap kewajibannya. Jika alasan saya ini bisa diterima, maka orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tetapi tetap meyakini shalat itu wajib untuknya, maka ibadah lain yang mereka lakukan tetap diterima oleh Allah.

Alasan pendukung lainnya untuk mendukung pandangan saya itu ialah, dalam Islam, shalat bukanlah rukun atau syarat wajib atau syarat sah untuk ibadah lainnya, umpanya shalat bukan syarat wajib, syarat sah, atau rukun untuk ibadah haji, puasa, zakat dan sedekah. Oleh karena itu, shalat bukan penentu sahnya ibadah lain. Karena tidak mengerjakan shalat bukanlah penghalang sah ibadah lain. Hanya sanya salah satu syarat sah ibadah seperti haji dan lain lain ialah, pelakunya harus mukmin.

Berdasarkan argumen pendukung ini, maka semakin memperkuat alasan saya di atas, bahwa pada dasarnya ibadah lain tidak terpengaruh diterima dan tidaknya dengan semata-mata tidak shalat murni, sedangkan keimanannya tidak tercederai.

Saya berpandangan, dalil-dalil di atas yang menjadikan shalat sebagai faktor kunci diterimanya ibadah lain bukan mengarah kepada tidak diterimanya ibadah lain secara langsung, tetapi proses hisab untuk amalan lain tidak akan dihisap ketika masalah shalat tidak tuntas. Dan redaksinya seperti terkesan memang tidak diterimanya ibadah lain, lebih kepada menekankan bahwa shalat itu sangat istimewa, sehingga proses untuk ibadah lain dipending selama tentang shalah masih bermasalah. Bukan penegasan untuk tidak diterima ibadah lain.

Kesimpulan akhir, tentang sah dan diterima suatu ibadah sifatnya mandiri, tidak terikat diterimanya satu ibadah dengan ibadah lainnya, terkhusus dalam masalah ini ibadah shalat tidak menjadi penentu diterimanya ibadah lain.

Wallu A’lam Bissawab.

Adam Versi Islam

FAZZANPOST – Ādam hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760-2830 SM), sedangkan Hawa lahir ketika Adam berusia 130 tahun. Al-Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Al-Baqarah [2]:30-38 dan Al-A’raaf [7]:11-25.

Menurut ajaran agama Abrahamik, anak-anak Adam dan Hawa dilahirkan secara kembar, yaitu, setiap bayi lelaki dilahirkan bersamaan dengan seorang bayi perempuan. Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya.

Menurut Ibnu Humayd, Ibnu Ishaq, dan Salamah, anak-anak Adam adalah Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda, Sith dan Azura, Ashut dan saudara perempuannya, Ayad dan saudara perempuannya, Balagh dan saudara perempuannya, Athati dan saudara perempuannya, Tawbah dan saudara perempuannya, Darabi dan saudara perempuannya, Hadaz dan saudara perempuannya, Yahus dan saudara perempuannya, Sandal dan saudara perempuannya, dan Baraq dan saudara perempuannya. Total keseluruhan anak Adam sejumlah 40.

Wujud Adam

Menurut hadis Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter). Hadis mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda.

Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia berasal dari surga yang berperadaban maju. Turun ke muka bumi bisa sebagai makhluk asing dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan cerdas, dari peradaban di bumi sampai kapanpun, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Sesuai dengan Surah Al Israa’ 70, yang berbunyi: “…dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” — Al-Isra’ 17:70.
Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”— At-Tin 95:4.
Menurut riwayat di dalam Al-Qur’an, ketika Nabi Adam baru selesai diciptakan oleh Allah, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah, lantaran kemuliaan dan kecerdasannya itu, menjadikannya makhluk yang punya derajat amat tinggi di tengah makhluk yang pernah ada. Sama sekali berbeda jauh dari gambaran manusia purba menurut Charles Darwin, yang digambarkan berjalan dengan empat kaki dan menjadi makhluk purba berpakaian seadanya.

Makhluk sebelum Adam

Artikel utama untuk bagian ini adalah Makhluk sebelum Adam di bumi. Mengenai penciptaan Adam sebagai khalifah di muka bumi diungkapkan dalam Al-Qur’an: “…dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.”— Al-Baqarah 2:30.
Menurut syariat Islam, Adam tidak diciptakan di bumi, tetapi diturunkan dimuka bumi sebagai manusia dan diangkat (ditunjuk) Allah sebagai khalifah (pemimpin/pengganti/penerus) di muka bumi atau sebagai makhluk pengganti yang sebelumnya sudah ada makhluk lain. Maka dengan kata lain adalah, Adam ‘bukanlah makhluk berakal pertama’ yang memimpin di bumi.

Dalam Al-Quran disebutkan tiga jenis makhluk berakal yang diciptakan Allah yaitu manusia, jin, dan malaikat. Manusia dan jin memiliki tujuan penciptaan yang sama oleh karena itu sama-sama memiliki akal yang dinamis dan nafsu namun hidup pada dimensi yang berbeda. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis dan tidak memiliki nafsu karena tujuan penciptaanya sebagai pesuruh Allah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa ada makhluk berakal lain selain ketiga makhluk ini.

Dari ayat Al-Baqarah 30, banyak mengundang pertanyaan, siapakah makhluk yang berbuat kerusakan yang dimaksud oleh malaikat pada ayat di atas.

Surah Al Hijr ayat 27 berisi: “…dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”— Al-Hijr 15:27.
Dari ayat ini, Ulama berpendapat bahwa makhluk berakal yang dimaksud tidak lain adalah jin seperti dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan: “Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam diciptakan adalah jin yang suka berbuat kerusuhan.”

Menurut salah seorang perawi hadits yang bernama Thawus al-Yamani, salah satu penghuni sekaligus penguasa/pemimpin di muka bumi adalah dari golongan jin.

Penciptaan Adam

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Penciptaan Adam. Setelah Allah menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni, mengisi, serta memelihara bumi tempat tinggalnya. Saat Allah mengumumkan para malaikat akan kehendak-Nya untuk menciptakan manusia, mereka khawatir makhluk tersebut nantinya akan membangkang terhadap ketentuan-Nya dan melakukan kerusakan di muka bumi. Berkatalah para malaikat kepada Allah: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”— Al-Baqarah 2:30.
Allah kemudian berfirman untuk menghilangkan keraguan para malaikat-Nya: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”— Al-Baqarah 2:30. Lalu diciptakanlah Adam oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuk sedemikian rupa. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna.

Kesombongan Iblis

Saat semua makhluk penghuni surga bersujud menyaksikan keagungan Allah itu, hanya Iblis dari bangsa jin yang membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah karena merasa dirinya lebih mulia, lebih utama, dan lebih agung dari Adam. Hal itu disebabkan karena Iblis merasa diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam hanyalah dari tanah dan lumpur. Kebanggaan akan asal usul menjadikannya sombong dan merasa enggan untuk bersujud menghormati Adam seperti para makhluk surga yang lain.

Disebabkan oleh kesombongannya itulah, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusirnya dari surga dan mengeluarkannya dari barisan para malaikat disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga kiamat kelak.

Iblis dengan sombong menerima hukuman itu dan ia hanya memohon kepada Allah untuk diberi kehidupan yang kekal hingga kiamat. Allah memperkenankan permohonannya itu. Iblis mengancam akan menyesatkan Adam sehingga ia terusir dari surga. Ia juga bersumpah akan membujuk anak cucunya dari segala arah untuk meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat bersamanya. Allah kemudian berfirman bahwa setan tidak akan sanggup menyesatkan hamba-Nya yang beriman dengan sepenuh hati.

Pengetahuan Adam

Allah hendak menghilangkan pandangan miring dari para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmah-Nya yang menyatakan Adam sebagai penguasa bumi, maka Allah memerintahkan malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda. Para malaikat tidak sanggup menjawab firman Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka dan mengakui ketidaksanggupan mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui sesuatupun kecuali apa yang diajarkan-Nya.

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama benda itu kepada para malaikat dan setelah diberitahu oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka bahwa hanya Allah lah yang mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui segala sesuatu yang nampak maupun tidak nampak.

Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki akal yang dinamis. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis sehingga hanya mengetahui hal-hal yang diajarkan langsung oleh Allah saja.

Adam menghuni surga

Adam diberi kesempatan oleh Allah untuk tinggal di surga dulu sebelum diturukan ke Bumi. Allah menciptakan seorang pasangan untuk mendampinginya. Adam memberinya nama, Hawa. Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam sebelah kiri sewaktu dia masih tidur sehingga saat dia terjaga, Hawa sudah berada di sampingnya. Allah berfirman kepada Adam: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” — Al-Baqarah 2:35

Tipu daya Iblis

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan saat diusir oleh Allah dari surga akibat pembangkangannya, Iblis mulai berencana untuk menyesatkan Adam dan Hawa yang hidup bahagia di surga yang tenteram dan damai dengan menggoda mereka untuk mendekati pohon yang dilarang oleh Allah kepada mereka.

Iblis menipu mereka dengan mengatakan bahwa mengapa Allah melarang mereka memakan buah terlarang itu karena mereka akan hidup kekal seperti Tuhan apabila memakannya. Bujukan itu terus menerus diberikan kepada Adam dan Hawa sehingga akhirnya mereka terbujuk dan memakan buah dari pohon terlarang tersebut. Jadilah mereka melanggar ketentuan Allah sehingga Dia menurunkan mereka ke bumi. Allah berfirman: “Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Al-Baqarah 2:36.

Mendengar firman Allah tersebut, sadarlah Adam dan Hawa bahwa mereka telah terbujuk oleh rayuan setan sehingga mendapat dosa besar karenanya. Mereka lalu bertaubat kepada Allah dan setelah taubat mereka diterima, Allah berfirman: “Turunlah kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Al-Baqarah 2:38

Adam dan Hawa turun ke bumi

Adam dan Hawa kemudian diturunkan ke Bumi dan mempelajari cara hidup baru yang berbeda jauh dengan keadaan hidup di surga. Mereka harus menempuh kehidupan sementara dengan beragam suka dan duka sambil terus menghasilkan keturunan yang beraneka ragam bentuknya.

Menurut kisah Adam diturunkan di (Sri Lanka) di puncak bukit Sri Pada dan Hawa diturunkan di Arabia. Mereka akhirnya bertemu kembali di Jabal Rahmah di dekat Mekkah setelah 40 hari berpisah. Setelah bersatu kembali, konon Adam dan Hawa menetap di Sri Lanka, karena menurut kisah daerah Sri Lanka nyaris mirip dengan keadaan surga. Di tempat ini ditemukan jejak kaki Adam yang berukuran raksasa.

Kisah Qabil dan Habil

Di bumi pasangan Adam dan Hawa bekerja keras mengembangkan keturunan. Keturunan pertama mereka ialah pasangan kembar Qabil dan Iqlima, kemudian pasangan kedua Habil dan Labuda. Setelah keempat anaknya dewasa, Adam mendapat petunjuk agar menikahkan keempat anaknya secara bersilangan, Qabil dengan Labuda, Habil dengan Iqlima.

Namun Qabil menolak karena Iqlima jauh lebih cantik dari Labuda. Adam kemudian menyerahkan persolan ini kepada Allah dan Allah memerintahkan kedua putra Adam untuk berkurban. Siapa yang kurbannya diterima, ialah yang berhak memilih jodohnya. Untuk kurban itu, Habil mengambil seekor kambing yang paling disayangi di antara hewan peliharaannya, sedang Qabil mengambil sekarung gandum yang paling jelek dari yang dimilikinya. Allah menerima kurban dari Habil, dengan demikian Habil lebih berhak menentukan pilihannya. Qabil sangat kecewa melihat kenyataan itu. Ia terpakasa menerima keputusan itu walau diam-diam hatinya tetap tidak mau menerima. Maka berlangsunglah pernikahan itu, Qabil dengan Labunda dan Habil dengan Iqlima.

Qabil berusaha memendam rasa kecewa dan sakit hatinya selama beberapa tahun, tetapi akhirnya ia tidak bisa menahan diri. Pada suatu hari Qabil mendatangi Habil yang berada di peternakannya. Iblis telah merasuki jiwanya. Pada saat Habil lengah, Qabil memukulnya dengan batu besar, tepat di kepala Habil. Habil pun mati. Sedang Qabil merasa kebingungan, ia tak tahu harus diapakan mayat saudaranya itu. Ia berjalan kesana kemari sambil membawa jenasah Habil. Ia merasa menyesal.

Allah memberi petunjuk kepada Qabil melalui sepasang burung gagak. Sepasang burung gagak yang hendak berbebut untuk mematuk mayat Habil. Kedua burung itu bertarung sampai salah satunya mati. Burung gagak yang masih hidup lalu menggali lubang dengan paruhnya, kemudian memasukkan gagak yang mati ke dalam lubang itu dan menguburnya. Sesudah mengubur mayat Habil, Qabil masih merasa sangat kebingungan. Ia tidak berani pulang, rasa berdosa telah membuatnya ketakutan sendiri. Akhirnya Qabil melarikan diri menuju hutan.

Istri Cantik Itu Biasa, Tapi Istri Yang Mampu Menghargai Suami dan Mendukung Tanpa Putus Asa itu Langka

FAZZANPOST – Mempunyai istri cantik mungkin sudah biasa, tapi istri yang mampu menghargai suami dan mendukungnya tanpa putus asa itu masih begitu langka. Karena wanita jika sudah menikah banyak yang mengingkari janjinya untuk saling setia.

Buktinya tak sedikit para wanita ketika sudah menikah mengeluhkan suaminya karena belum juga mendapatkan pekerjaan yang mapan, merasa jenuh karena suaminya tak bisa memenuhi apa yang ia inginkan.

Ingatlah, janji setiamu sebelum menikah. Setia itu bukan hanya tentang kamu berusaha tidak berselingkuh dengan laki-laki lain, tapi setia itu adalah ketika kamu mampu saling menghargai, saling mendukung dan saling melindungi.

Untuk apa tergoda mata kepada seorang wanita yang hanya pandai memainkan kuas bedak dimuka, dan hanya pandai mengaplikasikan warna-warni eyes shidow, dan lihai menggunakan lipstiks indah dibibir, jika tak mampu memoles hati dengan taat kepada Allah.

Tampilan wajah yang hanya dipoles oleh alat make up sesaat memang nampak menyenangkan dipandang, tapi lebih menyenangkannya lagi ketika polesan yang ia pakai adalah teduhnya iman.

Maka dari itu, carilah seorang istri yang bisa memoles hatinya dengan iman, bukan yang hanya pintar memoles mukanya dengan berbagai merek make up terkenal.

Wanita pada hakikatnnya suka akan keindahan, karena wanita memang tercipta indah. Semua yang menempel pada dirinya akan selalu terlihat indah, jika kita mampu menjaganya dengan baik.

Wanita juga dijuluki ibu rumah tangga, karena ia bertanggung jawab penuh dengan semua orang-orang yang ada dirumah setelah menjadi seorang istri. Ntah itu merawat suami, menjaga anak-anaknya, dan menjaga harta yang dihasilkan suami.

Maka pintar-pintarlah bagi seorang wanita menjaga itu semua, terutama harta suami, jangan sampai bersifat boros dijalan yang dibenci Allah.

Dan untuk para lelaki, carilah istri yang bisa mengatur harta-hartamu tetap dijalan Allah, bukan hanya seorang istri yang pandai mengoleksi barang-barang mewah.

Wanita adalah makhluq sosial yang mempunyai rasa cemburu yang tinggi, sebab wanita dicipta dengan hati yang begitu lembut. Pantas saja jika ia menyayangi suami terkadang dengan sangat berlebihan, tapi jangan sampai sifat itu berubah menjadi penyakit hati yang merugikan, seperti su’udzan.

Dan wanita, saking besarnya sifat cemburu yang ia miliki kadang-kadang tidak bisa menahan diri untuk gelisah ketika tetangga memiliki kenikmatan yang melebihi dari dirinya.

Hingga akhirnya mengeluh berkepanjangan kepada suaminya dirumah, padahal ini sangat dilarang, karena hal tersebut sama halnya menuntut suami melakukan sesuatu diluar kemampuannya.

Maka jangan lupa untuk para laki-laki yang belum berjodoh, carilah istri yang bisa mendamaikanmu ketika sedang dirumah, bukan ia yang hanya bisa mengeluh karena tetangga lebih berharta. Carilah ia yang bisa membuatmu damai, ketika tengah berada disampingnya. Bukan ia yang meresahkanmu karena tuntutan yang selalu ia lontarkan.

Dan carilah istri yang membuatmu bangga menjadi seorang imam keluarga, karena wanita yang kamu pilih adalah sosok yang selalu bisa kamu arahkan dengan baik. Yang tidak pernah mengeluh ketika diajak untuk sama-sama menghamba kepada Allah.

Bukan dia yang hanya bisa membuat hidupmu hina, karena tidak bisanya ia menjaga kehormatan dirimu yang kamu pasrahkan kepadanya.

Juga carilah seorang istri yang mampu menenangkan hatimu ketika kamu gelisah karena amarah, bukan hanya ia yang bisa membuatmu tambah berapi-rapi dengan amarah yang tengah melanda. Sebab wanita yang seperti itu adalah sosok bidadari syurga yang tengah Allah titipkan kepadamu untuk bisa kamu jaga dengan baik.

Siapakah wanita itu?, yaitu sosok wanita muslimah yang mampu membidik hatinya dengan sikap dan perilaku mulia, dia adalah wanita shalehah, calon bidadari penghuni syurga.

Hukum Istri Tidak Mau Kunjungi Rumah Mertua

FAZZANPOST – Ketika seorang wanita telah sah untuk bersanding dengan seorang laki-laki, maka statusnya berubah menjadi seorang istri. Dan kewajiban sebagai seorang istri ialah mentaati suaminya. Termasuk untuk tinggal dan mengikuti segala aturannya, selagi itu masih berada dalam tuntunan syariat Islam. Bukan hanya berlaku baik terhadap suami, sang istri pun harus berperilaku baik pula pada keluarga suami, termasuk kedua orang tuanya, yang menjadi mertua bagi istri.

Terkadang ada istri yang tidak begitu menyukai mertuanya sendiri. Hal ini terjadi akibat beberapa faktor yang berbeda. Namun yang pasti, hal inilah yang menjadi penghambat hubungan silaturahmi untuk berjalan baik. Lalu, bagaimana hukumnya istri yang tidak mau mengunjungi rumah mertuanya? Dan apa hak mertua atas istri?

Seorang istri wajib menaati suami dalam perkara-perkara yang tidak mengandung maksiat kepada Allah. Syariat telah memberikan dorongan yang kuat kepada istri untuk menaati suami, serta memperingatkannya dari tidak mentaatinya dalam perkara-perkara yang ia bisa taat kepadanya.

Dalam Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa satu bulan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu-pintu surga mana saja yang kamu kehendaki’.”

Dalam Al-Musnad, Shahih Ibnu Hibban dan Al-Mustadrak disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain (selain Allah), sungguh aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”

Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? Yaitu, menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.” Kemudian beliau duduk setelah sebelumnya bersandar dan bersabda, “Ketahuilah, juga perkataan sia-sia.” Beliau terus menerus mengulanginya hingga kami bergumam, “Sekiranya beliau berhenti.”

Di antara sempurnanya ketaatan istri kepada suami ialah hendaknya ia berbuat baik kepada kedua orang tua suami, berbakti kepada keduanya, tidak berlaku buruk pada keduanya, serta bersabar terhadap apa yang muncul dari keduanya. Semua itu dilakukan demi meraih ridha suami agar dengan itu ia memperoleh pahala dari Allah.

Jika ibu Anda marah pada istri Anda lantaran suatu sebab yang datang dari istri Anda, maka seyogyanya istri Anda meminta maaf darinya sebelum ia meninggal, agar ia meninggal dalam keadaan ridha terhadap istri Anda. Namun, jika ibu Anda telah meninggal sedangkan istri Anda belum mengerjakan hal itu maka istri Anda wajib banyak mendoakannya agar mendapat ampunan.

Demikian pula seorang anak wajib banyak mendoakan kedua orangtuanya ketika keduanya masih hidup maupun sesudah meninggal. Allah berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil’.” (QS. Al-Isra’: 24).

Adapun mengenai hal itu dianggap sebagai kedurhakaan seorang anak kepada ibunya atau tidak, maka jawabannya adalah jika istri menyakiti ibunya sementara ia tidak mencegahnya, melarangnya dan menghukum perbuatan istri tersebut maka hal itu termasuk bentuk kedurhakaan. Sehingga, ia harus banyak beristighfar dan memperbanyak amal shaleh.

Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. Jika Dia mengetahui dari hamba-Nya kejujuran taubatnya maka Dia akan menerima taubatnya.

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’,” (QS. Az-Zumar: 53).

Pernahkah Bertanya, Sedang Apa Kita di Bumi Ini?

FAZZANPOST – Saudaraku, pernahkah ada tanya dalam hatimu, sedang apa kita di bumi saat ini?

Sedang menikmati kehidupan yang diberikan oleh Sang Maha Hidup atau sedang menunggu mati yang pasti akan kita jumpai?

Pernahkah terlintas tanya, apa tujuan kita dikirim ke muka bumi?

Untuk bersenang- senang dengan segala fasilitas yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi atau hanya tinggal diam mengikuti alur kehidupan, menerima segala yang diberikan?

Mari sama-sama kita renungi

Saudaraku, Perlu kita sadari, ada cinta yang setia mengalir dalam aliran darah dan setiap hembusan nafas kita yang tetap hidup dan memberi kehidupan. Cinta yang tak pernah coba kita kenali dari mana sumbernya, meskipun ia tak meminta untuk dikenali. Cinta yang tak pernah coba kita lirik bukan karena tak mampu, tapi karena kita tak pernah punya keinginan untuk mencari tahu. Cinta yang begitu ikhlas dan terus menghujani hari- hari kita dengan begitu banyak nikmat yang terkadang sangat sulit untuk kita sadari keberadaannya.

Itu memang wajar, karena cinta itu tak terlihat sehingga mata kita buta untuk bisa melihatnya. Tapi tidakkah kita rasakan? Cinta yang memberi, memberi dan selalu memberi itu? Adakah yang lebih banyak memperhatikan kita dibanding Sang Pemilik Cinta itu? Tidakkah kita penasaran, siapa pemilik cinta yang tulus itu?

Dialah Allah SWT.

Masih tidak inginkah kita mencari tahu dan mengenali cinta Sang Khalik? Dia yang telah menciptakan pun menitipkan cinta dan kehidupan kepada manusia. Namun apakah yang dapat kita lakukan untuk membalas kebaikan Sang Maha Baik itu? Meskipun seluruh waktu yang Alloh berikan kepada kita, digunakan untuk beribadah kepadaNya, tidak akan mampu untuk membalas kebaikanNya.

Saudaraku, Tapi tenang, bukan itu yang Alloh inginkan. Alloh hanya ingin kita menjadi manusia super yang patuh pada perintahNya dan menjauhi laranganNya. Itu karena Alloh tidak ingin kita sampai tergoda dengan rayuan setan yang akan menyesatkan kita menuju tempat yang paling mengerikan yaitu Neraka. Alloh ingin menjadikan kita manusia pilihanNya yang semoga akan bertemu di SurgaNya (Aamiin).

Tapi kita tidak pernah merasa dipilih. Padahal sadar atau tidak, salah satu perintah Alloh kepada kita adalah agar Alloh bisa merasa dekat dengan kita, yang Dia ciptakan dengan penuh cinta. Pertanyaannya apakah hati kita terlalu keras sehingga tak bisa merasakan cinta Sang Maha Cinta?

Terkadang bahkan selalu Alloh merindukan air mata kita. Air mata tulus yang mengalir karena kerinduan. Tapi pernahkah kita menangis karena rasa rindu ingin berjumpa denganNya?

Saudaraku, Coba renungi baik- baik beberapa kalimat dari potongan sebuah hadits qudsi di bawah ini tentang Cinta Alloh pada hambaNya,
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “…………Kalau Aku sudah mencintainya, Aku adalah pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, tangan yang ia gunakan untuk berbuat, dan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Kalau ia meminta kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Kalau ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi,” (HR. Al-Bukhari).

Rasakan getaran cinta itu. Belum terlambat untuk mengejar Sang Cinta Sejati. Perjalanan cinta kita bermula di sini.

Saudaraku, Seperti itulah Allah mencintai hambaNya. Tidak perlu sang hamba tahu, tapi sang hamba pasti merasakannya.

Cinta serta kehidupan itu akan selalu manusia bawa meskipun telah meninggalkan alam fana ini jika selama hidupnya, ia mencoba belajar tentang cinta dan kehidupan yang Alloh berikan untuknya. Dan hingga akhirnya ia akan menemui Sang Pemilik Cinta itu di Surga nanti.

Kenapa Umat Islam Jadi Sasaran Pemusnahan?

FAZZANPOST – Dari Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), beliau berkata:” (Pada suatu hari) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan cemas sambil bersabda, ‘La ilaha illallah, celaka (binasa) bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah terbuka bagian dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti ini’, dan Baginda menemukan ujung ibu jarinya dengan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan.

Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya, ‘Ya Rasulullah! Apakah kami akan binasa, sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shaleh?’ Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak’,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menerangkan, apabila di suatu tempat atau daerah sudah terlalu banyak kejahatan, kemungkaran dan kefasiqan, maka kebinasaan akan menimpa semua orang yang berada di tempat itu. Tidak hanya kepada orang jahat saja, tetapi orang-orang shaleh juga akan dibinasakan, walaupun masing-masing pada hari qiamat akan diperhitungkan menurut amalan yang telah dilakukan.

Oleh karena itu segala bentuk kemungkaran dan kefasiqan hendaklah segera dibasrni, dan segala kemaksiatan hendaklah segera dirnusnahkan, supaya tidak terjadi malapetaka yang bukan saja akan menimpa orang-orang yang melakukan kernungkaran dan kejahatan tersebut, tetapi juga menimpa semua penduduk yang berada di tempat itu.

Dalam hadits di atas walaupun disebutkan secara khusus tentang bangsa Arab tetapi yang dimaksudkan adalah seluruh bangsa yang ada di dunia ini. Tujuan disebutkan bangsa Arab secara khusus karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri dari kalangan mereka, dan yang menerima Islam pada waktu permulaan pengembangannya adalah kebanyakan dari kalangan bangsa Arab dan sedikit demi sedikit dari bangsa lain.

Begitu pula halnya dalam masalah yang berkaitan dengan perkembangan umat Islam banyak bergantung kepada maju-mundurnya bangsa Arab itu sendiri. Selain itu, bahasa resmi Islam adalah bahasa Arab. Kemudian Ya’juj dan MaJuj adalah dua bangsa (dari keturunan Nabi Adam As.) yang dahulunya banyak mernbuat kerusakan di permukaan bumi, lalu batas daerah dan kediaman mereka ditutup oleh Zul Qarnain dan pengikut-pengikutnya dengan campuran besi dan tembaga, maka dengan itu mereka tidak dapat keluar, sehingga hampir tiba hari qiamat.

Maka pada waktu itu dinding yang kuat tadi akan hancur dan keluarlah kedua bangsa itu dari kediaman mereka, lalu kembali membuat kerusakan di permukaan bumi. Apabila peristiwa ini telah terjadi, itulah tanda hari qiamat sudah dekat.

%d bloggers like this: